Oleh: Alfitri
(Dosen FISIP Universitas Andalas)

Hari-hari ini ruang media sosial kita dihujani oleh banyak berita duka. Pun pengumuman dari masjid di sekitar rumah kita. Satu per satu keluarga, karib kerabat, tetangga, dan handai taulan kita berpulang menghadap Sang Khalik. Siang menjelang lohor ini, saya pun membaca berita duka berpulangnya Dr Mochtar Naim, salah seorang intelektual Indonesia asal Minang, di salah satu WAG SMA Negeri 2 Padang. Kebetulan saya satu SMA dengan salah seorang anak beliau. Innalillahi wainna ilaihi raajiun. Semoga almarhum Pak Mochtar husnul khatimah dan mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Sesuai dengan berbagai peran yang pernah dijalankannya di sepanjang hidupnya, tentu saja ada banyak fragmen dan momen yang dapat dikenang oleh banyak orang yang pernah mengenal dan berinteraksi dengan Pak Mochtar Naim. Sebelum akhirnya menjadi anggota MPR-RI (1999-2004) dan kemudian menjadi anggota DPD-RI (2005-2009), di awal karirnya yang panjang sebagai sosiolog, Pak Mochtar pernah menjadi konsultan di berbagai proyek baik dalam dan luar negeri, dan menjadi direktur pada beberapa lembaga. Sekembalinya beliau dari aktivitas sebagai peneliti dan dosen pada beberapa universitas di Amerika Serikat, pada tahun 1968 sebagai wujud kecintaan dan perhatiannya terhadap tanah leluhurnya, beliau mendirikan Pusat Kajian Minangkabau di Padang.
Sebagai peneliti yang handal dengan pengalaman yang luas, pada tahun 1979-1980, Pak Mochtar juga menjadi Direktur Pusat Pelatihan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial di Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang. Pendek kata, sebagai seorang scholar dan intelektual beliau aktif pada banyak seminar, dan kerapkali juga diundang sebagai fellow dan visiting professor di berbagai lembaga dan universitas di mancanegara. Tapi tak kurangnya pula sejak 1980-an beliau adalah seorang aktivis pemberdayaan masyarakat, antara lain melalui Yayasan Amal Saleh yang beliau dirikan dan jalankan bersama sejumlah aktivis kampus di Padang.
Pada tahun 1982, beliau mendirikan Jurusan Sosiologi di Universitas Andalas yang kelak kemudian menjadi cikal bakal yang pada tahun 1993 berkembang menjadi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas. Sejak 1982, pada Jurusan Sosiologi yang beliau dirikan tersebut, Pak Mochtar mengajar sebagai dosen sampai akhirnya pensiun sebagai Pegawai Negeri Sipil pada tahun 1987. Pada masa antara tahun 1983-1987 itulah saya dan Pak Mochtar berinteraksi dengan intens dalam hubungan sebagai mahasiswa dan dosen atau murid dan guru. Di Jurusan Sosiologi tersebut, pada tahun 1987, saya juga merasa beruntung, sempat membantu beliau sebagai asisten dosen. Karena itu, pada tulisan singkat ini saya ingin mengenang beliau sebagai sosok seorang guru.
Adalah pengalaman pembelajaran yang sungguh berharga bagi saya, untuk dapat belajar bersama Pak Mochtar Naim. Bagi saya pribadi, dan mungkin juga bagi kawan-kawan lain di Jurusan Sosiologi Universitas Andalas yang berkesempatan mengikuti kuliah dengan Pak Mochtar antara tahun 1983-1987, beliau ini lebih dari sekedar dosen yang baik. Beliau ini adalah dosen yang menginspirasi, yang mampu untuk menggelitik cakrawala berpikir para mahasiswanya untuk lebih terbuka, tajam dan melihat berbagai kemungkinan dalam memahami dan menganalisis berbagai fenomena sosial yang ada.
Saya dan kawan-kawan sangat menikmati kuliah-kuliah yang diberikan Pak Mochtar sehingga waktu kuliah berlalu tanpa terasa membosankan. Bahkan kami berasa sangat kehilangan, kalau beberapa kali pada waktu itu Pak Mochtar absen memberi kuliah karena beliau pergi seminar ke luar kota atau pun ke luar negeri. Akan tetapi, rasa kehilangan itu pun terasa terbayarkan, karena kemudian biasanya beliau memberi kesempatan mahasiswanya untuk menfotokopi makalah yang telah beliau sajikan di berbagai forum seminar tersebut ataupun kalau kemudian dengan antusias, kami dapat membaca pokok-pokok pikiran yang beliau sampaikan pada seminar itu dikutip oleh koran Kompas ataupun dimuatnya makalah beliau sebagai artikel di koran Kompas atau koran lainnya.
Penguasaan teori dengan kemampuan berfikir analitik, pengalaman hidup pada berbagai masyarakat di mancanegara, dan pengamatan beliau yang tajam pada dinamika sosial yang terjadi sering membuat kuliah yang beliau berikan menjadi “hidup” dan kaya. Sekaitan dengan itu, Pak Mochtar men-delivery perkuliahan yang diberikannya itu sedemikian rupa, sehingga sering kuliah tidak hanya bermakna sebagai proses transfer ilmu pengetahuan semata, melainkan lebih dari itu juga menjadi suatu proses pencerahan yang transformatif.
Sehubungan dengan itu pula, saya masih ingat salah satu buku klasik yang menjadi referensi Pak Mochtar untuk mengajar kami dalam Mata Kuliah Teori Sosiologi Klasik, yakni Sociological Theory; its nature and growth, karya Nicholas Sergeyevitch Timasheff –seorang sosiolog Rusia yang akhirnya beremigrasi ke Amerika Serikat dan mengajar di Harvard University. Sebagai sebuah buku “berat”– buku teori dalam Bahasa Inggris– Pak Mochtar mampu menjelaskannya dalam bahasa yang mudah dimengerti kepada kami para mahasiswanya. Lebih dari itu, beliau menjelaskan konsep-konsep teori tersebut dengan memberikan sejumlah ilustrasi dari realitas empiris yang ada sekaligus dalam rangka mencoba mengaplikasikan teori-teori dari para teoritisi sosiologi klasik tersebut.
Melalui buku Timasheff tersebut, Pak Mochtar mengenalkan kepada kami, mulai dari pemikiran Auguste Comte sampai dengan Max Weber, mulai dari pemikiran Herbert Spencer sampai dengan pemikiran Pitirim Sorokin, dan seterusnya, dan seterusnya. Akan tetapi, bagaimanapun, bagi kami para mahasiswanya, buku “berat” tersebut memang tetaplah terasa “berat” manakala beliau memberi kami, para mahasiswanya, tugas untuk membaca dan meringkas bab-bab atau subbab-subbab tertentu dari buku Timasheff tersebut.
Namun demikian, tugas berat untuk membaca, memahami, dan meringkas buku teori sosiologi dalam Bahasa Inggris tersebut, akhirnya menjadi pengalaman berharga yang kelak menjadi salah satu bekal bagi sebagian kami, terutama bagi saya sendiri dan sejumlah kawan-kawan yang kemudian memilih jalan hidup untuk berprofesi sebagai dosen di perguruan tinggi. Bagi sebagian besar kami, Pak Mochtar bukanlah sekedar guru biasa, tapi guru hebat yang menginspirasi. Good teacher, teaches. Great teacher, inspires. Selamat jalan dan terimakasih Pak Mochtar, semoga ilmu yang telah engkau berikan menjadi amal ibadah di sisi Allah SWT. *

Tinggalkan Balasan