
Oleh: Alfitri
(Dosen Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Andalas)
Dulu sekali sekitar 30 tahun yang lalu, salah seorang kolega saya dapat kesempatan berkunjung ke luar negeri. Ke London, Inggris. Ini adalah kesempatan yang langka. Karena itu, di sela-sela kunjungan akademiknya, dia berusaha benar menyempatkan diri mengunjungi Museum Madame Tussaud. Ini adalah museum patung lilin yang legendaris dan paling terkenal di seluruh dunia. Museum yang pertama kali berdiri di London pada akhir abad ke-19 itu, sekarang memiliki sejumlah cabang, antara lain di San Fransisco, Hongkong, dan Singapura. Museum ini berisikan patung lilin yang sangat mirip dengan tokoh-tokoh dunia, baik dari masa lalu maupun masa kini. Baik dari tokoh-tokoh politik, olahraga, seni, dan juga ilmuwan top dunia.
Waktu itu, belum ada medsos seperti facebook atau instagram. Foto-foto di luar negeri belum bisa langsung diposting. Jadi, sekembalinya dari London, foto-foto teman saya itu dicetak dulu lalu dimasukkan ke album. Saya adalah salah satu yang beruntung untuk melihat foto-foto kunjungan teman itu selama di London, termasuk yang di Museum Madame Tussaud. Satu yang paling saya ingat adalah fotonya bersama patung lilin pemimpin Palestina Yasser Arafat.
Patung lilin itu sangat mirip dengan orang aslinya, lengkap dengan pakaiannya yang khas beserta kafiyehnya. Yasser Arafat terlihat gagah dan teman saya itu tersenyum sumringah. Mereka berdiri berdampingan seolah akrab. Teman saya itu tampak senang seolah-olah memang bertemu dengan Yasser Arafat yang sebenarnya walaupun itu hanya replika dari patung lilin yang dibuat semirip mungkin. Sorot mata dan senyum teman saya itu tampak sangat menikmati keseolah-olahan itu. Saya duga, sebagian besar pengunjung Museum Madame Tussaud juga menikmati keseolah-olahan itu ketika bertemu dan berfoto dengan patung lilin tokoh idolanya.
Hal yang sama dalam bentuk lain juga saya alami sendiri. Dua tahun yang lalu, dalam kesempatan rekreasi berkeliling Kota Bangkok bersama teman-teman, tak lupa kami mampir di Art in Paradise yang dikenal juga dengan Museum Trick Eye 3D. Berada di lantai 4 Esplanade Shopping Mall, museum ini menawarkan banyak sekali gambar tiga dimensi dalam berbagai tema. Dengan membayar tiket masuk seharga 290 Bath atau sekitar Rp 135.000,– , pengunjung sudah bisa berfoto sepuasnya dalam bermacam pose foto pada berbagai zona/tema seperti Aqua and Safari, Classic Art, Fantasy, Nature, dan Modern Art.
Selain turis domestik dari Thailand sendiri, sebagian turis mancanegara yang ke Bangkok mendatangi museum lukisan tiga dimensi ini. Ini adalah salah satu titik destinasi wisata di Kota Bangkok. Museum ini menyediakan banyak sekali lukisan tiga dimensi yang menarik, tidak hanya bagi anak-anak dan remaja, pun tak kurangnya juga bagi orang yang lebih tua. Pihak museum memberi penanda pada titik tertentu untuk mendapatkan pose terbaik, tapi pengunjung juga bebas untuk mengeksplorasi pose-pose foto sesuai dengan seleranya.
Yang jelas, dengan kualitas lukisan tiga dimensi yang nyaris sempurna, foto dapat dihasilkan ilusi optik yang luar biasa. Ada yang seolah sedang berselancar di ombak laut dan ada yang seolah sedang naik gondola di Venesia. Pun ada pula yang seolah sedang meniti jembatan kayu di atas jurang yang dalam. Saya sendiri juga mencoba berpose pada sampul majalah Time dan National Geographic. Hasilnya, seolah-olah saya jadi tokoh pada cover majalah tersebut. Saya dan teman-teman menikmati keseolah-olahan itu sehingga kami menghabiskan waktu lebih dari dua jam berputar-putar dan berfoto pada berbagai lukisan tiga dimensi di museum ini.
Sejak beberapa waktu yang lalu, di Lembah Harau Sumatera Barat ada beberapa wahana dan spot baru yang juga menawarkan pengalaman keseolah-olahan ini. Ada Menara Eiffel yang menjadikan pengunjung seolah-olah sedang berada di Paris. Juga ada kincir angin yang mengesankan seolah pengunjung sedang berada di Negeri Belanda. Selain itu, ada juga Kampung Korea dan Jepang.
Agar lebih mantap keseolah-olahannya, ada juga rental kimono untuk pengunjung perempuan yang ingin berfoto dengan latar belakang Kampung Jepang. Semua keseolah-olahan itu sangat menarik untuk difoto dan di-posting di medsos. Instagramable, kata generasi milenial dan generasi pasca-milenial. Dari pengamatan di media sosial, tampak para pengunjung sangat menikmati keseolah-olahan tersebut dan karena itu Lembah Harau ini sekarang ramai dikunjungi pada setiap hari libur, apalagi pada musim liburan.
Para pengunjung tidak hanya berasal dari berbagai daerah di Sumatera Barat, tapi juga dari berbagai daerah provinsi tetangga seperti dari Riau dan Jambi. Tampaknya tujuannya tidak lagi menikmati pemandangan alam yang ada, tapi lebih untuk menikmati spot spot artifisial yang baru yang memberi sensasi dan kesan seolah-olah pengunjung sedang berada di luar negeri. Memang tidak semua orang berkesempatan ke tempatnya yang asli dan sebenarnya. Makanya, yang seolah-seolah seperti itu saja pun cukuplah untuk dinikmati.
Apakah di Indonesia pengalaman menikmati keseolah-olahan ini gejala baru? Tidak juga. Dulu pada zaman Orde Baru di Jakarta sejak April 1975 dibuka Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Ketika itu kehidupan masih rada susah, infrastruktur belum sebaik sekarang, juga tiket pesawat masih mahal, sulit bagi orang untuk bepergian atau berwisata ke provinsi-provinsi lain di Indonesia. Karena itu, kesempatan untuk lebih mengenal budaya dari suku-suku di provinsi lain juga menjadi terbatas.
Oleh sebab itu, Ibu Tien Soeharto menggagas adanya rumah adat dari setiap provinsi di Indonesia di atas lahan seluas 150 hektar. Kendati pada awalnya gagasan ini sempat ditentang atau diprotes oleh sekelompok aktivis dari mahasiswa, seniman dan intelektual seperti Arief Budiman, Rendra dan Mochtar Lubis. Namun, pembangunan TMII jalan terus karena waktu itu dianggap penting memiliki sarana untuk memupuk kecintaan pada keanekaragaman budaya nusantara.
Di setiap rumah adat tersebut juga dipajang replika benda-benda budaya dan pada setiap pekan atau hari-hari tertentu juga ada atraksi budaya dari berbagai daerah di Indonesia. Makanya, pada masa lalu ini adalah destinasi wisata favorit. Banyak wisatawan domestik dan mancanegara yang menyempatkan berkunjung ke TMII ini. Mereka pun berfoto di setiap rumah adat yang didatangi dan seolah sudah berkunjung pada provinsi terkait. Bahkan mereka pun dapat naik kereta gantung (cable car) berkeliling di udara melihat pulau-pulau Indonesia dan rumah-rumah adat itu dari atas. Dengan demikian, hanya dengan berkunjung ke TMII orang sudah merasa seolah-olah mengunjungi banyak daerah lain di Indonesia. Mereka pun menikmati keseolah-olahan ini.
Bagaimana fenomena menikmati keseolah-olahan ini dijelaskan secara sosiologis? Sedikitnya, fenomena ini bisa dijelaskan dari dua perspektif teori yang dominan dalam sosiologi (Ritzer, 2005). Pertama, dari perspektif Teori Struktural Fungsional dan kedua dari perspektif Teori Konflik. Seperti diketahui, Teori Struktural Fungsional antara lain berakar pada pemikiran Durkheim yang melihat masyarakat sebagai suatu sistem yang terdiri dari berbagai sub-sistem yang saling berhubungan dan mempengaruhi. Sedangkan, Teori Konflik berakar pada pemikiran Marx yang melihat adanya proses yang eksploitatif oleh kelas kapitalis dalam masyarakat (Giddens, 2006).
Melalui Teori Struktural Fungsional, dapat dipahami bahwa subsistem rekreasi adalah penting dan fungsional dalam masyarakat. Anggota masyarakat yang capek dengan rutinitas pekerjaan dalam dinamika sub-sistem ekonomi, atau murid-murid yang lelah dan stres dalam mengikuti pelajaran dengan beraneka PR pada subsistem pendidikan, misalnya, tentulah memerlukan penyegaran dan suasana baru. Di situlah pentingnya fungsi sub-sistem rekreasi dalam memberikan “kesegaran” baru. Kendati pun, itu misalnya, melalui sebentuk pengalaman menikmati keseolah-olahan.
Selanjutnya, dalam rekreasi itu ada fungsi yang nyata (manifest) dan ada juga fungsi yang tersembunyi (latent). Fungsi manifest-nya adalah rasa terhibur, senang, dan juga pengalaman baru di tempat-tempat yang atraktif. Sekali lagi, kendati pun misalnya, hanya melalui pengalaman menikmati keseolah-olahan. Ada pun fungsi latentnya bisa saja untuk merasa eksis dan melepaskan hasrat narsis dengan memosting foto-foto di tempat rekreasi tersebut. Akan tetapi, kegiatan rekreasi itu menjadi disfungsional, jika untuk rekreasi tersebut harus berutang ke orang lain atau koperasi di kantor, misalnya.
Mencoba mengadopsi pemikiran Marx, maka fenomena menikmati keseolah-olahan pada rekreasi itu adalah semacam ilusi atau candu yang melenakan. Sarana wisata atau rekreasi yang membuat orang menikmati keseolah-olahan itu adalah cara kaum kapitalis agar orang-orang dapat melupakan penderitaan dan situasi eksploitatif yang dialaminya. Sama halnya, ketika dulu Marx melihat agama digunakan sebagai ilusi yang meninabobokan. Sehingga, alih-alih ingin menumbangkan kaum kapitalis, justru orang-orang atau pekerja itu menjadi terlena dan menerima kenyataan yang sebenarnya tidak adil.
Selain itu, dengan menikmati keseolah-olahan tersebut, orang-orang dapat kembali “segar” dan kembali produktif bekerja. Dengan itu, maka dapat terus dihasilkan nilai-lebih (surplus-value) yang terus memperkaya kaum kapitalis. Rekreasi atau wisata menjadi sarana dan cara melanggengkan status quo dimana orang-orang dapat bergembira dalam suatu kesadaran semu (false consciousness). *

Tinggalkan Balasan