
KISARAN, Scientia – Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Asahan diwakili oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Muhilli Lubis, mengatakan, percepatan Penurunan Stunting di Kabupaten Asahan diperlukan sumber daya pendampingan yang berkualitas.
Itu disampaikannya pada kegiatan Koordinasi dan Konsolidasi Percepatan Penurunan Stunting Tingkat Kabupaten Asahan Tahun 2022 di Aula Hotel Marina Kisaran, Rabu (19/10/2022).
Dikatakannya stunting adalah kondisi gagal tumbuh dan kembang pada anak akibat kekurangan asupan gizi dalam waktu yang cukup lama.
Dampak jangka pendeknya adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik serta gangguan metabolisme.
Sedangkan dampak jangka panjangnya adalah menurunnya kemampuan perkembangan kognitif otak anak.
Kemudian kesulitan belajar, kekebalan tubuh lemah sehingga mudah sakit serta berisiko tinggi munculnya penyakit metabolik.
Bahkan ketika dewasa nanti akan memiliki tubuh pendek, tingkat produktivitas yang rendah serta tidak memiliki daya saing di dalam dunia kerja.
“Ini juga merupakan ancaman utama dalam mewujudkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas, khususnya di Kabupaten Asahan,” ungkap Muhilli.
“Ini merupakan wujud kita dalam mendukung visi misi Pemerintah Kabupaten Asahan yaitu Asahan Sehat,” sambung Muhilli.
Sebelumnya, Sekretaris Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Utara Yusrizal Batubara berharap pada akhir tahun 2022 Kabupaten Asahan dapat mempersiapkan laporan semester II pada percepatan penurunan stunting di Kabupaten Asahan.
Menurut Yusrizal, Kabupaten Asahan telah melakukan aksi kepada masyarakat Kabupaten Asahan dalam percepatan penurunan stunting, dan tinggal menunggu hasil dari Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022.
“Kita berharap angka pravelensinya di Kabupaten Asahan dapat menurun dari 18,9 % dapat turun menjadi 15,5 % di tahun 2022 ini”, tutup Yusrizal. (Hans)

Tinggalkan Balasan