![salah satu hasil karya ukiran dari kayu. [foto : Scientia/aef]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2021/04/f5b0602c-e348-4123-9f6f-c14b452d9d3f.jpg)
“Kami sebagai pelaku seni ukir atau perajin tangan, tentunya berkeinginan hasil karya kami diminati banyak orang. Terutama tamu pemerintah daerah, wisatawan lokal maupun mancanegara,” ujar seorang pelaku seni ukir, Irwan Baharudin di kediamannya di Bukittinggi. Senin (5/4).
Menurutnya, salah satu bentuk perhatian pemerintah terhadap karya seni lokal yaitu mencoba menggunakan karya masyarakatnya untuk dijadikan koleksi atau hiasan ruangan kantor setiap kedinasan. Berbagai kerajinan seperti bordir, tenun, songket, lukisan, kaligrafi dan ukiran akan lebih maju dengan dorongan dari pemerintah.
“Kita kan tau, pemerintah memiliki kekuatan untuk memberikan nilai jual bagi karya lokal, apalagi jika digunakan sendiri. Secara tidak langsung, tamu-tamu pemerintah yang datang, dengan melihat kerajinan itu, pasti tertarik. Sekurang-kurangnya orang akan menilai pemerintahnya sangat menghargai dan mendukung karya masyarakatnya,” kata Irwan
Pengurus Komunitas Cendikia Minangkabawi itu juga mengatakan, sudah saatnya pemerintah mendorong apa yang telah dihasilkan masyarakat. Padahal, kerajinan tangan juga dapat dikategorikan sebagai UMKM. Tentunya pemerintah berkewajiban untuk memperjuangkan karya yang benilai ekonomi tersebut.
“Jangankan untuk itu, dijadikan pajangan saja dikantor maupun rumah dinasnya, tidak ada. Bagaimana masyarakat dapat memulihkan ekonominya. Pemerintahnya saja boleh dikata, tidak mendukungnya,” katanya.
Sementara, Irwan juga menyebutkan, bahan baku kerajinan tangan ukiran, sangat mudah didapatkan. Bahkan di tempat pembuangan sampah pun bisa dijumpai bahan baku tersebut.
“Jika materialnya kayu, banyak kayu yang patah atau tumbang. Apalagi potongan-potongan kayu tumbang itu dibuang ke tempat pembuangan sampah atau dijadikan bahan api unggun. Akan lebih bagus dimanfaatkan dan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat,” katanya. (aef)
![salah satu hasil karya ukiran dari kayu. [foto : Scientia/aef]](https://datalama.scientia.id/wp-content/uploads/2021/04/f5b0602c-e348-4123-9f6f-c14b452d9d3f.jpg)
Tinggalkan Balasan