![Ketua Tanfidziah Pengiris Nahdhatul Ulama Sumbar, Prof. Ganefri. [foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2021/12/IMG-20211225-WA0006.jpg)
Ganefri mengatakan, dinamika yang terjadi selama pelaksanaan Muktamar ke-34 NU di Lampung tak mesti menjadi bahan pertentangan yang berkepanjangan. Apalagi itu hanya akan menggangu soliditas NU di Sumbar.
“Terkait perbedaan pandangan dan pilihan yang muncul selama Muktamar kemarin, jelas itu hanya dinamika yang tak perlu dipertentangkan panjang lebar. Itu soal pilihan, dan tidak ada yang salah dari berbedanya pilihan. Itu cerminan demokrasi,” ujar Ganefri, Sabtu (25/12).
Ganefri melanjutkan, “Dinamika dalam Muktamar itu biasa. Sekarang Muktamar sudah selesai, saatnya kita merekonstruksi ulang semuanya. Jangan biarkan perbedaan pandangan terjadi berlarut-larut tanpa alasan. Kalau ada pihak-pihak yang menyulut dan menjaga api pertentangan itu agar tetap berkorbar, tentu ini sangat kita sayangkan,” ucapnya lagi.
Dalam pelaksanaan Muktamar NU ke-34 sendiri, diketahui bahwa KH Yahya Cholil Staquf berebut suara dengan petahana KH Said Aqil Siradj dalam pemilihan Ketua Umum PBNU 2021-2026. Meski Muktamar sempat diwarnai berbagai dinamika yang mengganggu kelancaran kegiatan, akan tetapi agenda tersebut tetap tuntas digelar dengan hasil ketua umum baru PB NU untuk lima tahun ke depan.
“Kita mengucapkan selamat kepada Gus Yahya atas amanah yang diemban, serta kepada Prof SAS kita ucapkan terima kasih atas pengabdian sebagai Ketua Umum PBNU sebelumnya. Dinamika yang terjadi selama muktamar hanyalah bagian dari upaya menemukan sosok terbaik bagi NU dan bagi Nahdliyin di seluruh Nusantara, termasuk Sumbar,” kata Ganefri lagi.
Selain itu, PWNU Sumbar disebut Ganefri akan merekonsiliasi persoalan-persoalan yang muncul selama muktamar digelar.(*)
![Ketua Tanfidziah Pengiris Nahdhatul Ulama Sumbar, Prof. Ganefri. [foto : ist]](https://datalama.scientia.id/wp-content/uploads/2021/12/IMG-20211225-WA0006.jpg)
Tinggalkan Balasan