Peran Milenial dalam Pembangunan

Oleh: Alfitri
(Dosen FISIP Universitas Andalas)

Scientia.id 27/01/2020 merilis berita tentang peran milenial dalam pembangunan Sumatera Barat. Ini dikaitkan dengan pilkada serentak 2020 yang di Sumatera Barat berhasil mengantarkan sejumlah anak muda milenial sebagai pemimpin daerah. Melalui Pemilu 2019 yang lalu, telah banyak pula kaum milenial yang lolos untuk duduk sebagai anggota legislatif di berbagai tingkatan. Jelas ini merupakan satu kemajuan pada era reformasi dibandingkan dengan pada masa Orde Baru dulu.

Salah seorang kepala daerah mengaku sangat terkesan berkerjasama dengan Ketua DPRD-nya yang berasal dari generasi milenial ini. Dia merasakan senangnya berkerja sama dengan anak muda milenial karena biasa ringkas, efektif, dan fokus pada tujuan. Dengan demikian, dapat diselesaikan agenda penting terkait pembangunan daerah secara lebih cepat.

Dalam tulisan pendek berikut, akan ditinjau siapa sebenarnya generasi milenial ini dan apa ciri-cirinya. Lantas apa peran serta kontribusi yang dapat mereka mainkan dalam pembangunan ke depan. Kemudian, apa yang penting sebagai pembeda dengan generasi X, dan generasi baby boomer sebelumnya.

Tak bisa dipungkiri bahwa secara kuantitatif potensi generasi milenial atau generasi Y di Indonesia saat ini cukup besar. Hasil Sensus Penduduk 2020 menunjukkan bahwa dari 270,20 juta jiwa penduduk Indonesia, yang tergolong generasi milenial ada 69,90 juta jiwa (25,87 %). Generasi milenial ini adalah mereka yang lahir antara tahun 1981-1996 atau yang sekarang berusia antara 25-40 tahun, sedangkan generasi Z atau pascamilenial lebih besar lagi yakni sebesar 75,49 juta jiwa (27,94 %). Generasi Z ini adalah mereka yang lahir antara tahun 1997-2012 atau yang saat ini berusia antara 9-24 tahun. Sementara itu, generasi X atau mereka yang lahir antara 1965-1980 ada sebesar 21,88 %, dan yang lebih tua lagi generasi baby boomer atau yang lahir antara 1945 – 1965 tinggal 11,56 %. Yang paling tua disebut generasi Pre-Boomer, yakni mereka yang lahir sebelum tahun 1945. Saat ini, di Indonesia masih ada sebanyak 1,87 %, sedangkan yang paling muda disebut pascagenerasi Z atau generasi alfa adalah mereka yang lahir sesudah tahun 2013 ada sebanyak 10,88 %.

BPS mengikuti pengklasifikasian generasi ini menurut William H Frey. Dia adalah seorang ahli demografi dan sosiolog yang meraih gelar Ph.D di Universitas Brown, AS. Ahli lain ada yang membuat kategori generasi dengan rentang waktu yang sedikit berbeda yang mana generasi milenial dimaksudkan dengan mereka yang lahir pada tahun 1981-2000. Mereka disebut milenial karena dekat dengan milenium baru abad ke 21 dan aktif dalam jaringan (net generation).

Ciri pokok dari kaum milenial ini adalah bahwa mereka sangat dekat, terampil, dan kuat dalam pemanfaatan internet, perangkat seluler, dan media sosial. Oleh karena itu, Marc Prensky (2001) –seorang konsultan pendidikan lulusan Harvard Business School– mengistilahkan generasi milenial dan pascamilenial dengan digital natives atau penduduk asli digital. Dan generasi sebelumnya yang rada gaptek internet sebagai digital immigrant atau pendatang digital. Karakteristik dari digital natives ini antara lain adalah lebih bebas, ekspresif, interaktif, kolaboratif, aktif, simpel, dan ingin cepat.

Suatu studi oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama BPS (2018) menunjukkan ciri pembeda milenial dibandingkan generasi terdahulu. Mereka lebih kreatif, informatif, mempunyai passion pada hal-hal baru dan produktif. Adanya ekosistem digital membuat semangat kewirausahaan mereka muncul untuk mengembangkan berbagai jenis usaha, termasuk semangat untuk meningkatkan kualitas SDM dan melanjutkan pendidikan ke yang lebih tinggi.

Di sisi lain, Alvara Research Institute (2020) melaporkan bahwa secara ideologis dukungan milenial kepada Pancasila sebagai dasar negara masih tinggi. Namun, ada sekitar 7 % di antara mereka yang menyatakan bahwa keinginan mengganti Pancasila sebagai bukan makar.

Karakteristik kaum milenial seperti di atas tentu perlu diaktualisasikan dalam peran yang mereka mainkan dalam pembangunan daerah. Bagi milenial yang sekarang dapat posisi di jajaran eksekutif dan legislatif, sekadar sigap, lebih cepat, dan efektif saja dalam menjalankan agenda pembangunan lokal tidaklah cukup. Mereka perlu pembeda yang signifikan dengan citra jelek yang dulu pernah ada pada sebagian generasi sebelumnya.

Pembeda paling penting adalah dengan tetap setia pada semangat dan cita-cita reformasi tahun 1998. Antara lain, menjalankan tata kelola pemerintahan yang baik dan pemerintahan yang bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Ini perlu dingatkan karena di tahun-tahun yang lalu sudah ada pejabat dari kalangan milenial ini yang kena OTT KPK dan menjalani proses hukum. Dengan memanfaatkan teknologi digital, seyogianya mereka dapat membangun sistem yang lebih transparan dan akuntabel.

Peran penting lainnya dari kaum milenial dalam pembangunan adalah untuk mengisi peluang dari otonomi daerah secara kreatif dan inovatif. Program pembangunan yang digulirkan pun mestinya lebih menukik menyentuh kebutuhan riel masyarakat. Apalagi di tengah pandemi ini, perlu sekali realisasi kongkret program pembangunan yang dapat membantu kelompok masyarakat yang paling terdampak. Yang bersifat seremoni dan asesoris, selayaknya dihilangkan.

Di sisi lain, secara sosial ekonomi, perlu memberi dukungan pada anak-anak muda yang berwirausaha. Kredit mikro tanpa bunga atau bantuan pembinaan manajemen dan produk UMKM adalah beberapa contoh yang dapat dilakukan atau diteruskan. Beberapa lokasi wisata baru yang dirintis anak muda milenial juga perlu perhatian dan penataan. Selain itu, perlu pula membantu anak-anak muda yang pintar dan berbakat dari kalangan kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan atau mengembangkan bakatnya yang produktif.

Last but not least, peran penting yang juga perlu dimainkan adalah menjaga semangat dan perwujudan keanekaragaman dalam persatuan. Keberadaaan kita sebagai masyarakat yang majemuk adalah sesuatu yang given; sudah menjadi fitrah bangsa Indonesia. Di tengah kompetisi global dan kemajuan teknologi komunikasi, seyogianya generasi milenial baik yang duduk di pemerintahan maupun warga biasa untuk tidak abai dan lengah terhadap berbagai ancaman. Berita hoaks yang dapat memantik isu SARA, misalnya adalah sesuatu yang perlu disaring sebelum di-“sharing”. Hati-hati melalui cek dan ricek dalam hal ini adalah mesti. *


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *