
Program ini memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mengelola kawasan hutan sekaligus melestarikannya dengan mendirikan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS). Seperti yang dilihat Audy saat berkunjung ke kawasan ekowisata Bukit Tabuah Nagari Air Dingin, Kecamatan Lembah Gumanti Kabupaten Solok.
Nagari ini dikenal sebagai penghasil kopi berkualitas. Bahkan, produk kopinya telah menembus pasar Amerika Serikat. Selain itu, nagari di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut tersebut potensial untuk pengembangan ekowisata.
“Perhutanan ini ternyata mampu memberikan peluang ekonomi baru seperti agroforestri kopi dan ekowisata untuk masyarakat di sekitar kawasan hutan yang berhawa sejuk,” kata Audy sambil menikmati kopi Solok, Selasa (25/5).
Audy juga menegaskan, melalui program ini masyarakat secara legal memanfaatkan dan melestarikan hutan. Pemanfaatan hutan untuk meningkatkan ekonomi dan melestarikan budaya, masyarakat sekitar hutan. Oleh karena itu, perlu adanya peta jalan untuk memungkinkan kolaborasi pemberdayaan masyarakat.
“Obyek wisata Bukit Tabuah Nagari Air Dingin memang sangat cocok dengan pengelolaan program Perhutanan Sosial. Mudah-mudahan ini menjadi contoh bagi masyarakat daerah lain yang berada di sekitar area perhutanan sosial,” tambah Audy.
Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Sumbar Yozarwardi berharap dengan adanya Perhutanan Sosial ini dapat membantu pemerataan ekonomi bagi petani dan masyarakat di sekitar kawasan hutan di Indonesia. Selain itu, dapat mengatasi konflik pengelolaan lahan, kesenjangan akses kelola lahan, dan membuka akses lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
Dalam kunjungan itu, Wagub Audy juga menyerahkan bantuan 5 unit kendaraan ATV dan 9 alat penyemprotan hama.(*)

Tinggalkan Balasan