Perlawanan Perempuan terhadap Budaya Patriarki Dalam Novel-Novel Wanita Angkatan 2000-an

Oleh:
Armini Arbain
Dosen Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Andalas

Pada tahun 1998, terjadi peristiwa yang amat bersejarah dalam sejarah Indonesia yakni terjadi pelengseran Soeharto dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia. Peristiwa ini  kemudian terkenal dengan gerakan reformasi. Sejak peristiwa tersebut, terjadilah perubahan baik dalam dunia politik maupun dalam dunia sosial budaya di Indonesia.

Imbas dari gerakan reformasi ini juga merambah pada dunia Sastra Indonesia. Dalam dunia Sastra Indonesia, karya-karya sastra yang lahir setelah reformasi ini disebut oleh Korrie Layun Rampan dengan karya-karya Angkatan 2000-an. Terjadinya gerakan reformasi ini juga memberikan  perubahan besar yang sangat mengejutkan pada karya yang ditulis oleh wanita. Wanita penulis tidak hanya bicara tentang dirinya dan dunia publik tapi dengan tegas membicarakan dan menyuarakan perlawanan perempuan terhadap dominasi patriarkhi melalui alat perlawan mereka yakni karya sastra.

Berkaitan dengan kepengarangan wanita pada Angkatan 2000-an ini Budiman (2015:12) menyatakan bahwa para pengarang kontemporer memiliki semangat kosmopolitan untuk melampaui batas-batas dan kekang-kekang. Hal ini menjadi menarik jika dikaitkan dengan situasi sosial yang berkembang di Indonesia dewasa ini. Hal inilah yang terlihat dalam novel-novel wanita pada Angkatan 2000-an.

Pada Angkatan 2000-an tercatat sejumlah nama pengarang wanita yang karyanya telah meramaikan kesusastraan Indonesia. Dalam pengamatan penulis, ada sekitar 42 orang novelis wanita yang novelnya terbit pada dekade ini. Ada sejumlah nama yang sering  dibicarakan dalam kesusastraan Indonesia. Nama tersebut adalah, Ayu Utami (Saman ), Djenar Mahesa Ayu (Nayla), Laila S Chudori (Laut Bercerita), Ratna Sarumpait (Maluku, Cintaku ),  Laksmi Pamuncak (Amba), Dewi Lestari (Supernova I: Kesatria Putri dan Bintang Jatuh), Abidah El-haliaeqy (Perempuan Berkalung Sorban ), Asma Nadia (Istana Kedua), Helvi Tiana Rosa, Dewi Sartika (Dadaisme), Oka Rusmini (Tarian Bumi), Ani Sekarnisih (Namaku Teweraut), Naning Parwoto (Mei Merah Kekerasan Terhadap Perempuan), dan  Fira Basuki (Pintu Atap dan Jendela), Ratih Kumala (Tabularasa), NH Dini ( Dari Parangakik ke Kampuchea), dan lain-lain. Melalui karya-karya di atas, terlihat sejumlah permasalahan yang dijadikan pengarang perempuan sebagai tema ceritanya.

Perlawanan Perempuan Terhadap Budaya Patriarki  dalam Novel

Di awal tahun 2000, terbit karya Ayu Utami yang berjudul Saman. Karya ini mengejutkan publik karena novel ini mengekspresikan permasalahan  seks dengan vulgar. Walaupun cerita bertema tentang kesetaraan gender, ceritanya penuh dengan adegan yang vulgar. Sesuai dengan judulnya yakni saman atau hujatan, tokoh-tokoh dalam novel ini menghujat bahwa selama ini posisi perempuan di bawah kuasa laki-laki atau yang disebut sebagai warga kelas dua atau second class.  Artinya, Ayu Utami melalui karyanya menggugat budaya patriarki yang berkembang di tengah masyarakat.

Langkah Ayu Utami ini diikuti oleh Djenar Maesa Ayu dalam novel Nayla (2005). Melalui novel ini, Djenar dengan lantang bersuara tentang seks yang selama ini tabu dibicarakan pengarang. Tokoh Nayla yang mengalami kekerasan seksual dengan lugas menceritakan apa yang dialaminya. Bahasa yang dipilihnya  untuk mengekspresikan kekerasan seksual yang dilaminya sangat vulgar. Hal ini merupakan bentuk perlawanannya terhadap kekerasan  dialaminya.

Hal di atas memperlihatkan bahwa para pengarang wanita ini melakukan perlawanan terhadap penempatan perempuan pada posisi yang dipinggirkan dalam arena publik dan seks. Perlawanan dengan mengkedepankan seks ini disebut oleh Taufiq Ismail dengan “Sastra Selangkang”. Istilah ini kemudian menjadi polemik yang hangat antara mereka yang profeminis dan antifeminis.

Berbeda  dengan apa yang disuarakan oleh Ayu Utami dan Djenar di atas, pada era ini juga terlihat sejumlah wanita penulis yang melawan dominasi patriarki tersebut dengan cara melegitimasi budaya atau kultur etnik dan agama seperti yang disuarakan oleh Ani Sekarninsih, Oka Rusmini,  Abidah El Qaliqi, Asma Nadia, dan lain-lain.

Ani Sekarningsih melalui novelnya Namaku Teweraut (2001) mengekspresikan perjuangan perempuan dalam bidang kesehatan dan pendidikan di daerah terpencil, yakni pada suku Asmat di Irian. Di samping mengeksresikan perjuangan perempuan dalam bidang pendidikan dan kesehatan, novel ini juga mengisahkan kepahitan hidup tokoh Teweraut yang dipaksa menikah (menjadi istri ketujuh) dengan laki-laki yang tidak disukainya. Sementara itu, Oka Rusmini dalam novel Tarian Bumi mengkritisi perlakuan masyarakat terhadap perempuan yang bertalian dengan stratifikasi kasta dalam budaya Bali. Perjuangan yang dilakukan tokoh-tokoh dalam kedua novel ini tidak bisa dilepaskan dari persoalan kesetaraan jender.

Perjuangan akan keseteraan jender ini juga terlihat dalam karya Abidah El Qaliqi melalui yang berjudul Perempuan Berkalung Sorban (2001). Walaupun karya ini memiliki latar di Pesantren, namun pengarang menyoroti perihnya kehidupan perempuan yang terbelenggu dari kawin paksa. Tokoh Anisa (anak seorang kiyai, pengasuh pondok pesantren) yang masih berusia remaja dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang laki-laki yang umurya jauh lebih tua dari dirinya. Dengan alasan calon suaminya itu adalah anak seorang kiyai tersohor. Anisa terpaksa menerima pernikahan itu, namun ia tetap melakukan perlawanan terhadap tekanan itu dengan tetap melanjutkan pendidikannya bahkan sampai ke Perguruan Tinggi sehingga ia bisa masuk ke wilayah publik yang selama  ini dikatakan sebagai ranah pria.

Berbeda dengan hal di atas, Laila S Chudori, Ratna Sarumpaet, dan Naning Parwoto dalam novel mereka menyuarakan perlawanan  terhadap kekerasan yang dialami perempuan di daerah konflik. Tokoh-tokoh dalam karya mereka melakukan perjuangan terhadap kesetaraan jender dengan cara menyoroti kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak di daerah konflik.

Dalam novel Laut Bercerita, Chudori menyoroti terjadi kerusuhan 1998 yang diawali oleh gerakan mahasiswa prareformasi.  Dalam novel ini diceritakan sepak terjang seorang perempuan yang bernama Kinanti. Perempuan yang digambarkan realistis dan ikut mengatur siasat dalam berdemonstrasi. Kinanti juga melakukan perlawanan terhadap pemerintah dengan cara memfotokopi dan menyelamatkan buku-buku dan novel yang dilarang beredar oleh penguasa ketika itu.

Selanjutnya, masih berhubungan dengan perang atau konflik dalam masyarakat. Ratna Sarumpaet dalam novelnya yang berjudul Maluku Kobaran Cintaku (2017) menceritakan perjuangan perempuan di daerah konflik. Konflik SARA yang terjadi di Maluku  antara Islam dan Kristen. Dalam cerita ini digambarkan perjuangan tokoh Mey yang ikut menyelamatkan anak –anak dan para perempuan yang terjebak dalam perang. Mey tidak memikirkan agama anak-anak dan perempuan itu dari Islam atau Kristen. Walau ia beragama Kristen, ia tetap menyelamatkan anak-anak Islam. Novel ini memberikan gambaran pada pembaca betapa dhasadnya penderitaan rakyat di daerah konflik ini. Sekaligus memperlihatkan perjuangan perempuan menyelamatkan nyawa anak-anak dan perempuan dari kekerasan perang.

Perlawanan perempuan menghadapi perang ini juga diceritakan Naning Pranoto melalui novelnya yang berjudul Mey Merah 1998: Ketika Arwah bebicara (2018). Naning menceritakan keras dan ganasnya tragedi 1998. Banyak perempuan yang mengalami kekerasan, baik kekerasan fisik maupun kekerasan mental bahkan kekerasan seksual. Tokoh Umaira yang mengalami kekerasan seks yakni diperkosa sehingga hamil. Setelah anak perempuannya lahir, Humaira menyerahkan anaknya ke Panti Asuhan dan kemudian bunuh diri. Melalui arwah itulah pengarang  mengisahkan pahitnya kehidupan perempuan dan perjuangan yang dilakukan.

Berbeda dengan pengarang-pengarang wanita  di atas, Dewi Lestari memberi nuansa baru dari perjuangan wanita dalam mengejar kesetaraan jender. Dewi Lestari yang dikenal dengan nama Dee menulis novel yang berjudul Supernova  I Kesatria Putri dan Bintang Jatuh (2001), Akar (2003), dan Petir (2004). Trilogi karya Dee ini menggambarkan perkembangan ilmu  pengetahuan dan teknologi. Bahkan tokoh-tokoh dalam novel-novel tersebut diberi nama dengan nama yang bertalian dengan fisika seperti Elektra.

Novel yang berisikan teknologi ini juga ditulis oleh Eliza V Handayani. Melalui karyanya yang berjudul Area X: Himne Angkasa Raya (2003), Eliza bercerita tentang fenomena UFO dan teori-teorinya bertalian dengan fisika dan ruang angkasa. Tentu saja untuk menulis novel ini, Eliza mencari dan mempelajari referensi ilmiah yang relevan. Pada bagian akhir novel ini, referensi yang digunakan pengarang dalam menulis novel ini dicantumkan sehingga pembaca memperoleh pengetahuan ilmiah tentang teknologi tersebut.

Karya Dee di atas, di samping menggambarkan masalah teknologi, pengarang juga  menciptakan tokoh-tokoh yang merupakan pasangan gay yang tidak jamak ditemukan pada novel-novel wanita sebelumnya.  Selanjutnya, cerita mengenai pasangan yang tidak jamak ini juga diekspresikan oleh Herlinateins melalui karyanya yang berjudul Garis Tepi seorang lesbian (2003). Novel ini diceritakan berdasarkan kenangan seorang perempuan yang memiliki hubungan sesama jenis.

Hubungan sesama jenis ini juga diceritakan oleh Ratih Kumala dalam novelnya yang berjudul Tabularasa  (2003). Novel yang bercerita tentang tokoh yang memiliki hubungan sesama jenis (homoseksual), baik sebagai gay maupun sebagai lesbian. Pada penulisan selanjutnya, Ratih Kumala menulis novel dengan latar konflik agama dan suku (Sara) yang terjadi di Ambon dengan judul Genesis (2004).

Selanjutnya, Fira Basuki menulis triologi  Jendela-Jendela, Piitu, dan  Atap (2002) bercerita tentang perkawinan lintas negara. Kedua tokoh yang berasal dari dua budaya yang berbeda, yakni dan antara etnis Jawa (Indonesia) dan Tibet dalam berumah tangga tentu memiliki sejumlah perbedaan. Namun, mereka tetap bisa menjalani kehidupan dengan baik. Melalui karya-karyanya itu Fira Basuki telah berhasil menggambarkan budaya global. Walaupun tokoh-tokoh hidup di tengah budaya yang menglobal, namun ia tetap mencintai dan menghargai budaya nenek moyangnya.

Bertalian dengan penghargaan terhadap budaya itu pulalah yang membuat Laksmi Pamuncak terinspirasi menulis novel yang bejudul Lidahnya Aruna (2019).  Novel yang bercerita dengan nikmatnya sejumlah masakan nusantara sehingga tokoh-tokoh dalam karya ini berusaha untuk menjelajahi bumi nusantara demi mendapatkan sejumlah resep masakan sehingga tokoh menikmati masakan dari sejumlah etnis dan budaya nusantara.

Sebelum menulis Lidahnya Aruna, Laksmi Pamuncak telah menulis novel Amba (2014). Novel ini menceritakan tahanan politik G30S. Walaupun menceritakan kehidupan politik di Pulau Buru, namun ada yang manarik yakni tentang kehidupan tapol yang dihukum dengan mengisolasinya ke daerah tandus tersebut ternyata mereka mampu mengaubah daerah tandus atau alam tersebut menjadi daerah subur dan menghasilkan. Artinya, pengarang berhasil melukiskan kecintaannya terhadap alam sehingga ia berusaha mengubah alam yang tandus menjadi seperti yang digalakan para pencinta alam.

Gambaran di atas memperlihatkan bahwa apa yang disuarakan oleh Wanita Penulis Indonesia tersebut memiliki perubahan dan perkembangan dari satu angkata ke angkatan berikutnya. Perubahan yang muncul tersebut tentu mempengaruhi kondisi sosial kesusastraan Indonesia secara menyeluruh. Bourdieu (2010:42) mengatakan bahwa sebuah perubahan akan mempengaruhi struktur arena secara keseluruhan, seperti penataan ulang hierarki dan genre-genre secara besar-besaran. Dalam hal ini, perubahan yang dapat mempengaruhi sterotipe jender dan budaya patriarki yang berkembang di Indonesia. Sehubungan dengan perubahan dan perkembangan kesusastraan Indonesia tersebut, Maman ( 2007:82) mengatakan bahwa dengan melihat fenomena yang terjadi dalam sastra Indonesia selepas tahun 2000, kita optimis kalau kondisi sastra Indonesia ke depan akan lebih semarak.

Menurut Godmaan ( 2001:2), sastra adalah bentuk representasi budaya yang menggambarkan relasi dan rutinitas jender. Selain itu, teks sastra dapat memperkuat sterotipe jender baru yang lebih menggambarkan kebebasan jender. Oleh karena itu, kritik sastra feminis membantu membangun studi jender yang digambarkan dalam studi sastra. Dengan asumsi bahwa apa yang digambarkan wanita pengarang tersebut dalam novelnya memiliki relasi dengan masyarakat yang melahirkannya/yakni situasi sosial perempuan Indonesia.

Persoalan yang muncul adalah apa sebetulnya yang disuarakan dan yang dinginkan oleh wanita pengarang ini. Sebagai sebuah kelompok masyarakat, tentu saja para wanita pengarang ini berada dalam sebuah kelompok sosial dan apa yang disuarakan mereka melalui karya mereka dapat dikatakan mewakili kelompok sosial mereka tersebut. Persoalan yang dikedepankan mereka tentu bertalian dengan keberadaan perempuan di negara ini. Eksistensi dirinya inilah yang ingin disuarakannya melalui corong yang disebut sastra.

Seperti yang digambarkan di atas, ada sejumlah persoalan yang diekspresikan para pengarang perempuan. Permasalahan tersebut tidak hanya berkutat pada permasalahan seputar keluarga atau yang berkaitan dengan wilayah domestik. Mereka mulai merambah wilayah publik seperti yang bertalian dengan kekerasan dalam perang, masalah akulturasi budaya, masalah  ekologi, religi dan lain –lain yang selama ini banyak digarap oleh pengarang laki-laki.

Walaupun pengarang perempuan sudah mulai keluar dari kepompongnya, ada suatu yang selalu hadir dalam karya-karya ini, yakni masalah cinta dan perjuangan perempuan dalam memperlihatkan eksistensi dirinya. Artinya, dalam karya-karya perempuan selalu ada nuansa cinta dan perjuangan perempuan terhadap kesetaraan jender.

Dari gambaran di atas, dapat disimpulkan bahwa novel-novel yang ditulis oleh perempuan tersebut secara umum bertemakan perlawanan  terhadap budaya patriarki yang ada di tengah masyarakat. Budaya yang menempatkan perempuan pada posisi yang rendah dibandingkan laki-laki. Penempatan perempuan pada posisi yang rendah inilah yang  didobrak oleh pengarang perempuan. Hal ini memperlihatkan bahwa pengarang perempuan ingin menyuarakan suara hatinya di tengah masyarakat bahwa mereka bukanlah makhluk yang lemah dan rendah seperti apa yang dilekatkan pada identitas perempuan selama ini. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pengarang perempuan mencoba melawan budaya patriarki melalui novel-novel mereka.


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *