
Oleh: Rilen Dicki Agustin
(Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia
Universitas Andalas)
Berbicara perihal satire, kata ini tentu tidak terdengar asing lagi di telinga kita. Sebab banyak sekali hal yang berbau satire kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Satire berupa sindiran atau ejekan yang sudah menjadi hal biasa kita lakukan. Satire adalah hal yang berterima dalam ujaran namun tidak semua orang bisa menerima jika satire ditujukan padanya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), satire adalah salah satu gaya bahasa yang dipakai dalam kesusasteraan untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang. Contohnya sindiran yang dikaitkan dengan dunia politik.
Sindiran dan komentar-komentar pedas terhadap para pejabat pemerintah. Sejatinya, itu bukan hal yang salah menurut saya. Akan tetapi, ada yang berakibat tidak baik, misalnya kejadian yang baru-baru ini menimpa Puan Maharani, Ketua DPR RI. Puan mengatakan, “Semoga Sumbar menjadi pendukung negara Pancasila” di tengah dukungan yang diberikan pada Cagub-Cawagub asal Sumbar untuk Pilkada 2020, yang saya kutip di News.detik.com, 3 September 2020.
Dari pernyataan tersebut, banyak sekali orang Sumatera Barat atau suku Minangkabau yang mengamuk. Ada yang mengatakan, “Tolong baca sejarah, Bu. Tiga dari empat pendiri negara Indonesia adalah orang Minangkabau.” Pernyataan itu menurut saya jelas sindiran untuk Ketua DPR RI. Orang Minangkabau lebih mengerti Pancasila karena Pancasila turut dirumuskan oleh orang Minangkabau. Sungguh tanggapan yang menurut saya sah-sah saja. Selain itu, ada juga yang berkomentar, “Jika Pancasila itu ada, tolong tunjukkan wujudnya, Bu?”
Komentar-komentar di atas keluar bukan tanpa alasan, melainkan memiliki alasan yang kuat. Tidak pantas seorang pejabat pemerintah mengeluarkan pernyataan demikian. Itu sama saja seperti makan tanpa minum. Artinya, apa yang dikeluarkan dari mulut sebaiknya dipikirkan terlebih dulu. Takutnya, terjadi hal semacam ini lagi, pernyataan yang berbuntut satire, yang pedasnya saya rasa bisa mencapai level ke-25.
Bukan hanya masyarakat Minangkabau, pengamat pun menilai omongan Puan tersebut bisa menjadi senjata makan tuan bagi calon yang diusungnya. Bagaimana tidak, Puan telah membangunkan harimau tidur. Awalnya, orang Minangkabau berbondong-bondong memilih calon yang turut diusung PDIP. Kini orang Minangkabau pun berbondong-bondong berpaling dari pasangan calon tersebut. Sejak kata-kata tak lagi pada tempatnya, sejak itulah dukungan berubah haluan. Pasangan tersebut menjadi korban satire. Nurdin, Maryani & Mumu (2002:29) mengemukakan bahwa satire ialah gaya bahasa yang berbentuk penolakan dan mengandung kritik dengan maksud agar sesuatu yang salah dicari solusi atau kebenarannya. Sementara itu, Keraf (2010:144) berpendapat bahwa satire adalah ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu. Dapat disimpulkan bahwa satire adalah gaya bahasa yang cenderung menolak suatu gagasan dan mengkritiknya dengan cara yang lucu atau mengolok-olok.
Saya pernah makan mie narako, pedasnya luar biasa dan membuat perut membocor. Ketika rasa pedas itu hilang, perut kembali sadar. Akan tetapi, pernyataan Puan tidak sama rasa pedasnya seperti saya makan mie narako. Pernyataan itu, semacam ungkapan rasa kesalnya bahwasanya pendukung partainya di Sumbar terlalu sedikit. Benar saja, saya melihat bahwa partainya di Sumbar memang sedikit yang memilih.
Di balik semua itu, pernyataan yang tidak seharusnya dikeluarkan malah dikeluarkan oleh Puan. Tentunya, itu sama saja membangun harimau tidur seperti yang saya jelaskan di atas. Harimau itu bangun dan mengamuk. Amukan itu terlihat dari berbagai macam sindiran dilayangkan dan ditujukan pada Puan, baik dalam bentuk kritik dan ada juga yang mengolok-olok. Puan sampai hari ini masih mendiamkan saja dan belum merespon balik.
Saya sebagai mahasiswa tentunya merasa miris dengan pernyataan Puan sebagai orang yang berilmu tinggi, berpengetahuan luas, bahkan dengan gelar yang lumayan banyak, mengatakan hal semacam itu. Oleh sebab itu, saya pikir Puan lepas kontrol sebelum berbicara. Ia sedang emosi dan meluapkan kekesalannya yang berujung satire kepadanya.
Semoga apa yang sekarang terjadi tidak terjadi lagi selanjutnya. Politisi berilmu tinggi sekaliber Puan hendaknya berpikir lagi dalam mengeluarkan pernyataan. Sebab, lidah tidak bertulang. Pergunakanlah bahasa yang mudah diterima sehingga tidak berujung satire atau menjadi ejekan dan hujatan orang banyak. Kita harus pandai berbahasa dan meletakkan kesantunan berbahasa pada tempatnya. Zaman sekarang, kita tidak boleh berbicara asal bunyi.

Tinggalkan Balasan