
Padang Pariaman, Scientia – Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-ringan selenggarakan baiat kubra. Baiat ini dilakukan dalam rangka mengambil sumpah janji setia pada ajaran Tarekat Syattariyah, Rabu (23/03) malam.
Prosesi baiat dilaksanakan di mushalla Ponpes Nurul Yaqin Ringan-ringan, Pakandangan, Padang Pariaman. Baiat ini merupakan agenda rutin setiap tahun yang dilakukan sebelum bulan Ramadhan.
Pimpinan Ponpes Nurul Yaqin, Syekh Muda M. Rais Tuangku Labai Nan Basa menjelaskan, agenda ini sudah dilakukan sejak tahun 1960. Yakni, semenjak pesantren tersebut didirikan oleh (Alm) Syekh H. Ali Imran Hasan pada tahun 1960 lalu.
“Beliau sendiri merupakan salah satu mursyid tarekat Syattariyah di Minangkabau. Baiat ini sudah dilakukan sejak beliau pulang kampung mendirikan pesantren berbasis kitab kuning ini sampai saat sekarang,” katanya.
“Prosesi baiat sekarang (sejak 2017) diteruskan oleh Syekh Zulhamdi Tuangku Kerajaan Nan Shalih selaku khalifah dan penanggungjawab syeikhul ma’had di sini,” katanya.
“Tarekat adalah hal utama dalam pesantren. Pesantren tanpa tarekat ibarat jasad tanpa ruh,” kata pimpinan yang akrab dipanggil Buya Labai itu.

Sementara itu, Ketua Yayasan Ponpes Nurul Yaqin Idarussalam Tuangku Sutan mengatakan tarekat adalah bahagian dari tasawuf. Mempelajari ilmu Tasawuf akan memberikan efek sikap lemah lembut atau kasih sayang.
“Ilmu Tasawuf adalah kunci agar ajaran Islam tidak terkesan kaku dan penuh kasih sayang atau moderat,” katanya.
Baiat kubra atau biasa disebut ‘baiat gadang’ ini tidak hanya diikuti oleh santri saja, akan tetapi juga diikuti oleh ratusan jemaah Syattariyah yang datang dari berbagai daerah di Sumbar, khususnya yang menjadi murid dari murid-murid Syekh H. Ali Imran.
Sebagai tambahan, tarekat dalam Islam berkembang menjadi berbagai macam aliran, Syattariyah salah satu di antaranya. Selain ini, masih banyak lagi aliran-aliran tarekat dengan nama yang berbeda. Tarekat merupakan wujud atau ekspresi dalam mengamalkan ajaran tasawuf dalam Islam. (sdq)

Tinggalkan Balasan