Oleh: Alfitri
(Dosen FISIP Universitas Andalas)
Suatu siang di awal Oktober tahun 2011 aiphone di meja kantor saya berbunyi. Rupanya dari Prof. Helmi, Wakil Rektor Unand Bidang Kerja sama.
Beliau menyampaikan bahwa baru saja berbicara dengan Pak Tifatul Sembiring, Menteri Kominfo RI tentang peluang untuk kerja sama dan mendirikan Prodi S2 Ilmu Komunikasi di FISIP Unand. Kementerian Kominfo untuk selama tiga tahun, tiap tahun mulai 2012 akan memberi 20 beasiswa bagi staf humas pemerintah kabupaten/kota dari berbagai provinsi di Indonesia untuk kuliah di prodi itu.
“Tolong segera Pak Dekan bentuk tim kecil untuk membuat proposal ringkas pembukaan Prodi S2 Ilmu Komunikasi itu. Kita akan usulkan ke Dikti lewat jalur mandat berdasarkan MoU Kerja sama dengan Kementerian Kominfo,” ujar Prof. Helmi.
“Ok Kanda,” jawab saya. Entah kenapa sejak pertama kenal di akhir 1980-an saya biasa menyapa beliau Kanda. Saya lalu memanggil beliau Prof sejak menjadi salah seorang mahasiswanya di Program Doktor Studi Pembangunan, Pascasarjana Unand.
Sekitar dua minggu kemudian, saya bersama Dr. Yuliandre Darwis, ketua tim kecil pembukaan Prodi S2 Ilmu Komunikasi itu terbang ke Solo untuk mengikuti pertemuan teknis kerja sama dengan Kementerian Kominfo bersama wakil beberapa perguruan tinggi lain di tanah air. Tak lama setelah itu, menjelang akhir 2011 MoU beserta perjanjian kerja sama Kementerian Kominfo dengan sejumlah perguruan tinggi (termasuk Unand) itu pun ditandatangani di kampus ITB, Bandung.
Sementara itu, penyiapan proposal tersebut terus berjalan. Lalu, awal 2012 proposal pembukaan Prodi S2 Ilmu Komunikasi FISIP Unand itu pun memasuki tahap finalisasi. Siap untuk dikirimkan.
Terkait itu, seingat saya, waktu itu di tingkat universitas tak ada rapat-rapat yang memakan waktu dan melelahkan. Hanya sekali dua saja saya menemui Prof. Helmi di kantornya untuk koordinasi. Urusan di level universitas dan ke Ditjen Dikti selesai oleh beliau.

Karenanya saya merasa sangat terbantu dalam proses dan hubungan kerja yang efektif dan efisien namun tetap hangat. Di kantornya di lantai 4 rektorat itu, saya tidak duduk di kursi hadap meja kerjanya yang formal. Tapi meja lain yang lebih informal untuk ngopi atau ngeteh.
Tak lama, beberapa bulan kemudian mandat pembukaan Prodi S2 Ilmu Komunikasi FISIP Unand pun diterbitkan oleh Ditjen Dikti. Dan mulai tahun akademik 2012/2013 prodi ini telah mulai berjalan dengan kuliah umum perdana oleh Prof. Alwi Dahlan, sesepuh dan pakar ilmu komunikasi dari UI.
Saya beruntung mengenal Prof. Helmi sejak lama, sedari masih dosen muda sekitar 35 tahun yang lalu. Waktu itu saya cukup sering mengikuti presentasinya dan berdiskusi di kampus maupun di luar kampus pada kalangan yang lebih beragam.
Saya teringat waktu itu, di awal tahun 1990-an, sekali dua beliau tampil sebagai pemantik diskusi yang digelar Bung Edy Utama di Rattan Room gedung surat kabar Singgalang. Waktu itu Prof. Helmi baru pulang meraih MSc di Ateneo de Manila University, Filipina. Topik yang hangat didiskusikan waktu itu adalah masalah pembangunan dan revitalisasi nagari di Sumatera Barat. Tak lama berselang kemudian beliau melanjutkan studi doktornya di University of London, Inggris dan menyelesaikannya tahun 1996.
Sejak itu, kecuali oleh pemikirannya yang bernas, saya terkesan oleh penyampaiannya yang tenang dengan artikulasi yang runtut dan klir, serta intonasi yang terjaga. Dalam rapat maupun seminar beliau memiliki daya persuasi dan argumentasi dengan penalaran yang kuat dan jernih. Bersamaan dengan itu, beliau selalu terlihat respek pada peserta diskusi yang lain atau lawan bicara.
Suatu hari beberapa bulan yang lalu saya menemui Prof. Helmi di kantornya di lantai tiga gedung rektorat Unand. Itu adalah kantornya dalam kapasitas sebagai Ketua Dewan Profesor Unand. Dalam kesempatan itu beliau memberi masukan dan motivasi untuk segera menyelesaikan penelitian disertasi saya. Tak lupa beliau juga memberikan bukunya yang baru terbit dengan juga menorehkan tanda tangannya disertai ucapan yang menyentuh hati.
Buku beliau itu berjudul Sustainability Science and Development: Building a Framework to Connect Science to Policy and Action Based-on Indonesian Cases (2022). Dalam buku ini beliau membentangkan pemikirannya tentang pentingnya kontribusi ilmu keberlanjutan bagi tercapainya Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang telah dicanangkan PBB sejak akhir tahun 2015 lalu.
Ilmu keberlanjutan mengkaji kompleksitas dan tantangan pembangunan melalui pemahaman menyeluruh terhadap inter-relasi antara berbagai sistem yang mendukung kehidupan manusia di muka bumi yakni, the eco/natural system and social/human system. Menurut beliau, ini memerlukan pendekatan yang bersifat integratif dan interdisiplin dalam pengetahuan dan praktiknya. Tanpa dukungan dari ilmu keberlanjutan maka transisi menuju pembangunan berkerlanjutan hanya akan menjadi retorika tanpa realita.
Hari Minggu (26/3/23) sore kemarin saya tertegun sedih membaca kabar duka tentang berpulangnya Prof. Helmi ke rahmatullah. Sontak banyak kenangan berkelebat, tapi sedikit yang tertuliskan. Semoga almarhum beristirahat dengan tenang di sisi-Nya. Orang baik selalu terasa cepat pergi.*

Tinggalkan Balasan