Puisi-Puisi Acet Asrival dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye 

Wabah dalam Dada

Degup di dada kami adalah resah yang tiada terdengar,
hanya tersirat dari mata kemudian bergetar di bibir kami, Tuan.
Bungkam dikatup bibir, senyap dikatup mata,
buncah dalam dada sempit─ dihimpit wabah pandemi makrokosmos,
menjalar bak akar pada pokok kayu, dari pangkal hingga pucuk,
dari dahan menuju ranting, dari ada menjadi tiada.

Akar yang kuat menopang pokok. Ia berdiri menjulang,
menakar untung dalam badai, mengurung diri dalam taman-taman surga.
Akar yang lemah menyerah pada takdir, daunnya gugur,
dahannya lapuk, rantingnya patah,
Menakar asa dalam doa-doa serupa hujan yang jatuh di halaman,
mengalir dari celah-celah tanah menuju sumur,
dan dalam cangkir-cangkir di meja makan.

Kami serupa debu yang lahir dari musim kemarau,
Debu yang dihempas angin dari tanah ke jendela,
Dari tanah lalu mendarat di wajah kami
atau membawa kami pada asal mula kejadian,
hingga suatu hari tatkala wabah usai,
kami ingin menyenandungkan kidung tentang mengapa dada kami
terasa sempit dan mengapa sujud kami terasa panjang.

(Dharmasraya 2020)

 

Daun Parah Berpucuk Muda

Dalam lamun seteguk kopi, kuhirup dan kudecap-decap sampai lumat di tenggorokanku. Aku memandangi langit malam yang tandus. Bintang-bintang seperti buah parah yang berserakan kebun bapak, menggelinding menuju lereng, jatuh ke sungai bercupang dua; sungai di mata ibu yang jernih. Di situ dulu aku menciprak air ke batang parah. Dari tunasnya yang hijau bermata sipit seperti lekukan tubuh bukit yang ramping namun ditumbuhi pohon-pohon mahoni dan batang parah, sejak zaman orang-orang bermata biru mengajarkan cara menakik getah dan merawatnya hingga tumbuh. Kini, di sana kebun-kebun orang bermusim daun pucuk muda.

Seperti sebuah kisah yang kutayangkan dalam lamun seteguk kopi itu, kekasih. Seperti apa akhir sebuah kisah ketika lahan-lahan karet berumur tua─ berpucuk muda. Menjadi bangkai-bangkai kayu yang lapuk, kering, dan daun-daunnya gugur. Bapak bilang, “bawalah sebagai kayu bakar untuk memasak semangkuk teri dan daun ubi, agar ia menjadi kisah yang sempurna ketika tak ada lagi harapan untuk tumbuh dan berguna.”

Kami orang-orang ladang yang terbiasa hidup masuk hutan, kekasih. Perjalanan kami adalah lereng, jalan setikung jurang setikung bukit. Di jurang itu beberapa kenangan kami menjelma ikan─tumbuh besar dan ditangkap orang-orang penuba. Di bukit itu air mata pernah jatuh menyerupai telaga-telaga kecil tempat orang membasuh dahaga. Sedangkan kami bermukim di puncak bukit dan bermakam di kaki bukit. Seperti apa akhir sebuah kisah, kekasih?

Seumpama batang parah yang lanjut usia tanpa terjamah cinta, sapaaan, kemesraan, dan hal-hal tentang kasih sayang; seumpama diriku barangkali.

[Dharmasraya, 2020]

 

Narasi tentang Kepergian

Kusembunyikan beberapa kalimat rahasia dalam relung hati. Kalimat tentang hujan yang turun saat fajar, berembun di saat matahari muncul dari balik punggungmu. Serupa hamparan sawah yang menguning, melingkari urutan kedua jariku─ ketika kita bergegas ke tengah sawah memungut batang padi. Atau urutan keempat jariku─ saat kita menekuk pundak memikul batang padi yang basah.

Kalimat itu masih kau sembunyikan, tapi sudah di tepi bibir mungilmu yang terbuka sedikit seperti pintu rumah kayu yang dikuak angin dari arah selatan─ angin pegunungan yang suka nakal menggoyang tiang rumah kita atau menanggalkan daun jendelanya. Aku berusaha mengikat daun jendela dengan selendang putih yang pernah kau lingkarkan di leherku atau memeluk tiang rumah dengan doa-doa yang kau ajarkan sebelum kita menancap tiang-tiang penyangga ini. Katamu, “Agar tiang itu kokoh, lazimnya disuguhi doa-doa.” Aku berdoa dan menjelma tiang bagian tengah.

“Aku ingin pergi,” katamu mengeja kalimat rahasia itu. Kupandangi matamu, di sana tak ada cahaya apa-apa. Pergi dalam keadaan hati yang kelam adalah perjalanan terberat seorang sepertimu.

“Aku ingin pergi,” katamu mengeja kalimat yang sama. Aku diam. Sebuah cara merelakan kepergian, menghibur diri sendiri.

 

 Kelopak Mata

Dari kelopak matamu, hujan turun sepanjang petang,
mengalir di tubuhmu bercampur peluh,
menyerupai sepasang sungai bercupang dua;
menyerupai telaga tempat burung-burung camar membasuh paruh,
mengalir membuat arus seperti jejak-jejak yang kau tinggalkan.

Di kelopak mataku, ada kenangan-kenangan
saban petang kutimang-timang dan kurengkuh.
Kelopak mataku mengatup laksana rumah-rumah
yang mengurung penghuninya
Aku memanggil-manggil dirimu untuk terakhir kalinya
di kelopak mataku mengalir hujan yang berduka atas kepergian.

Tentang Penulis:

Acet AsrivalAcet Asrival lahir di Ampang Kuranji, Dharmasraya.
Ia adalah anggota FLP Sumbar dan alumnus
Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang.

 


Puisi Naratif Penuh Duka

Oleh Ragdi F. Daye
(Ketua FLP Sumbar dan Penulis Buku
Kumpulan Puisi Esok yang Selalu Kemarin)

 “Kelopak mataku mengatup laksana rumah-rumah/ yang mengurung penghuninya/ Aku memanggil-manggil dirimu untuk terakhir kalinya/ di kelopak mataku mengalir hujan yang berduka atas kepergian.”

Di dalam pembicaraan mengenai jenis-jenis sastra, Luxemburg, dkk.(1989:111) menyatakan bahwa sajak (puisi) naratif adalah sajak yang menyajikan serangkaian peristiwa. Situasi bahasa berupa monolog, tetapi isi berupa cerita. Hal ini menyebabkan sajak naratif memiliki bentuk campuran sehingga dapat didekati dari sudut naratif, puitik, atau keduanya secara bersamaan.

Tantangan yang dihadapi penyair ketika memilih genre puisi untuk menuangkan gagasannya adalah menggunakan metafora yang tepat untuk mengonkretkan peristiwa abstrak. Penggunaan metafora tidak saja agar puisi menjadi indah namun juga menyimpan makna yang tersembunyi di balik rangkaian kata. Penyair secara matang akan memilih kata yang tepat untuk menyampaikan pikiran atau perasaannya.

Di samping itu, konkretisasi gagasan penyair juga memanfaatkan bentuk citraan, yakni struktur kata yang dapat memancing imajinasi pembaca melalui rangsangan alat indera, seperti indera penglihatan, indera pendengaran, indera perabaan, indera pengecapan, dan gerak. Bentuk-bentuk citraan dalam puisi membuat jembatan penghubung antara dunia rekaan penyair dengan dunia imajinasi pembaca. Itulah yang membuat pembaca dapat menikmati buah kreasi penyair.

Bagaimana dengan puisi yang menggunakan cerita sebagai bagian terpadu dari bentuk strukturnya—puisi yang berisi rangkaian peristiwa demi peristiwa? Apakah layak disebut puisi? Seorang teman penulis pernah menyindir saya, “Kalau mau bercerita, mengapa menulis puisi? Tulis saja prosa!” Puisi dan prosa menurut keyakinannya adalah dua bentuk yang terletak di dua kutub yang saling berseberangan. Ada benarnya juga, sebab pada mulanya karya sastra adalah puisi yang dalam perkembangannya mengerucut menjadi bentuk-bentuk dengan karakter tertentu, seperti drama dan prosa. Belakangan, pencarian bentuk-bentuk sastra yang unik membuat sastrawan melakukan eksperimen dengan mengawinkan bentuk-bentuk tulisan yang sebelumnya diposisikan dalam ranah berbeda.

Empat buah puisi Acet Asrival yang dimuat Kreatika edisi ini (“Wabah dalam Dada”, “Daun Parah Berpucuk Muda”, “Narasi Tentang Kepergian”, dan “Kelopak Mata”) menunjukkan situasi naratif dengan diksi-diksi yang membangun suasana kakafoni. Suasana murung dan gelisah sangat kentara dalam bait-bait yang memuat cerita tokoh ‘aku’, ‘kamu”, dan ‘kami”. Puisi-puisi ini didukung oleh imaji berlatar daerah perdesaan dengan kebun, hutan, sawah, kayu, kemarau, daun, dan lahan karet.

Di dalam puisinya, Acet bercerita tentang peristiwa yang dialami tokoh. Ada alur yang kronologis, misalnya di dalam puisi “Daun Parah Berpucuk Muda” ini, Dalam lamun seteguk kopi, kuhirup dan kudecap-decap sampai lumat di tenggorokanku. Aku memandangi langit malam yang tandus. Bintang-bintang seperti buah parah yang berserakan kebun bapak, menggelinding menuju lereng, jatuh ke sungai bercupang dua; sungai di mata ibu yang jernih. Di situ, dulu aku menciprak air ke batang parah. Dari tunasnya yang hijau bermata sipit seperti lekukan tubuh bukit yang ramping namun ditumbuhi pohon-pohon mahoni dan batang parah, sejak zaman orang-orang bermata biru mengajarkan cara menakik getah dan merawatnya hingga tumbuh. Kini, di sana kebun-kebun orang bermusim daun pucuk muda.

Bahkan secara tipologi, bait puisi ini menyerupai struktur paragraf dalam teks wacana. Penggunaan majas perbandingan cukup sering dipilih Acet untuk menghantarkan maksudnya, seperti ketika mengungkap tentang nasib ‘aku’ lirik yang hidup sendirian tanpa merasakan cinta dan kemesraan, ditulis Acet melalui lirik seperti ini Seumpama batang parah yang lanjut usia tanpa terjamah cinta, sapaaan, kemesraan, dan hal-hal tentang kasih sayang; seumpama diriku barangkali. Atau untuk menyampaikan kekalahan dengan larik “Aku diam. Sebuah cara merelakan kepergian, menghibur diri sendiri.” Merelakan dengan terpaksa ketika tidak bisa memenangkan.

Teks puisi secara substansial memberikan efek yang berbeda dengan jenis teks lainnya kepada pembaca. Lebih lanjut, Culler menguraikan beberapa karakter dasar yang membedakan teks puisi dengan teks lain:puisi tidak terikat pada waktu; puisi lengkap dalam dirinya sendiri;puisi seharusnya ditempatkan pada suatu tingkat simbolik; puisi mengungkapkan suatu sikap; tipografi dalam puisi dapat mengarahkan interpretasi ruang dan waktu (Culler, 1975:162).

Karakter yang disebutkan ini tidak beroperasi secara kaku dalam konsep struktur. Kompleksitas suatu teks puisi juga berakibat kepada bagaimana karakter-karakter ini muncul. Enjambement, rima, dan pola bunyi menyebabkan puisi tidak sekadar sebagai teks personal penyair tetapi impersonal karena “aku” dan “kamu” dalam teks merupakan konstruksi puitik (Culler, 1975:162). Hal tersebut membuktikan bahwa puisi tidak dapat dipahami bila hanya sekadar memperhatikan pola formal (enjambement, tipografi, pola bunyi) dan penyimpangan bahasanya saja.

Culler menyebut ada hal lain yang paling menentukan untuk memahami struktur sebuah puisi yaitu conventional expectation atau konvensi harapan (Culler, 1975:164). Konvensi harapan adalah ruang kemungkinan-kemungkinan yang tercipta di dalam pikiran pembaca ketika berhadapan dengan teks. Konvensi harapan menjembatani efek yang muncul dari pola formal dengan konteks eksternal yang mungkin.

Konvensi harapan yang terbit dari puisi-puisi Acet adalah suasana kehidupan yang cenderung tenang dan sangat dekat dengan alam. Gejolak yang ada tersembunyi dalam rangkaian kalimat-kalimat tenang  penuh diksi natural. Ketika berhadapan dengan persoalan (seperti wabah makrokosmos di dalam puisi “Wabah dalam Dada”) ketegangan yang ditimbulkan oleh diksi ‘resah’, ‘wabah’, ‘pandemi’, dan ‘badai’ secara kontemplatif dibawa Acet untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta yang berkuasa atas kehidupan di dunia termasuk wabah. Atas segala kecemasan dan keresahan yang disebabkan adanya wabah, Acet mengajak pembaca puisinya untuk mengingat ‘sujud’, “kami ingin menyenandungkan kidung tentang mengapa dada kami terasa sempit dan mengapa sujud kami terasa panjang.”

Secara umum, puisi-puisi Acet Asrival dalam Kreatika edisi ini sudah kuat dalam menghadirkan emosi, terutama perasaan murung dan tragedi personal dalam narasi bernuansa  alam perdesaan yang akan membuat pembaca larut dengan kenangan pahit masing-masing.[]

Catatan:

Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *