Puisi-puisi Adel Yuhendra

Romantika Akhir Zaman

Bermacam vaksin terbaiat

Di dalam kitab romansa yang ditulis di negeri Cina

Tinta darah penuh duka

Memenuhi coretan tiap lembar halaman, katanya

Laju aliran darah semakin menerjang

Lembah suram menanti ujung pena!

Kesia-siaan, memukul telak ulu hati

Negara-negara menunggu datangnya keajaiban

Lesatan ketikan mesin tik seperti tak ada artinya lagi

 

Berhenti!

Kisah romansa daerah-daerah dan kota-kota

yang kita gaungkan tidak menghentikan laju virus ini

Kini, sudah semakin terkikis oleh kusuk-kusuk lembut

jari-jemari tikus-tikus penjajah

 

Mati sudah kita yang ditendang oleh zaman ini

Menitik peluh setiap malam

Lalu dipaksa bermenung diri

Menunggu coretan tinta darah yang entah kapan akan berlalu

Padang, 2020

 

Sedang Kita Tahu

Fajar menyingsing di lautan yang memerah

Sedang tumbuh-tumbuhan mulai mengerayap dari tanah

Satu dua kali gedebug bunyi ledakan menghiasi cakrawala

Dua tiga kali terdengar gema suara pasukan pejuang

Dari mana?

 

Sedang kita tahu,

Tidak ada lagi perayaan-perayaan itu

Sedang kita tahu,

Banyak orang-orang berdasi

yang mengatasnamakan pejuang rakyat

hilang akal di masa ini

 

Sedang kita tahu,

Kita pun sudah hilang akal

Kita tidak mengadopsi darah-darah dan sikap patriotik pejuang

Sampai kapan bumi pertiwi ini kotor dan diliputi kenestapaan?

Sampai kapan bumi pertiwi ini diisi

diduduki oleh oang-orang yang dzalim?

Sampai kapan?

Padang, 2020

 

Biodata Penulis:
Adel Yuhendra lahir di Kota Padang 22 tahun silam. Mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas. Bergiat di komunitas Padang Coffee Enthusias dan Metasinema (Unand).


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *