Puisi-Puisi Annisa Berliana

Anjing Haus

 

Di mana mula cerita
Nun sejak si anjing berkelana
Menyalak melihat pertanda

Meraung
di fajar hari
di perbatasan gelap-terang

Konon berkisah itu sudah naluri alamiah

Anggap batin si anjing tak sebagaimana bisa seperti itu Kanda?

Melihat air liur tercetak
di tepian dua bibir yang terpisah.
Napas memberat, lidah terjulur

Konon jua telinga si anjing begitu peka.
Jika satu atau dua
Kanda pasti bisa paham Dinda
Namun bila dikali-kali sudah kalah kaki seribu
Lelah Kanda jadi muak mendengar itu ke itu

Di mana pula akhir cerita
Nun bila si anjing tak dahaga

Ini kisah si anjing yang iba,
setia anjing tak ternilai walau diumpat.

Namun apa jadinya bila si anjing bukanlah anjing yang Dinda kenal?

 

Fatamorgana di Sahara

 

Lepas tiga bulan musim semi lalu,
lepas pula benalu dari batangnya.
Tiga bulan pula Kanda rasa hampa,
tiga bulan berlalu jua

Bila musim semi telah usai,
konon katanya datang pula musim panas.

Jangan tanya Kanda bila tiba musim ini.
Awalnya semringah Kanda lepas dahaga,
lama-lama Kanda gerah pula menunggu
Muak kanda menanti kata,

Kata itu tak jua kunjung terucap

Panas, haus, gerah, Kanda di musim ini

Tak jua kunjung dikau hirau
Mata air dimata dikau
Kian mengering bila Kanda tatap
Hati nan patah sudah karena harap
Kian terusik melihat dikau abai

Kanda melihat lautan air di depannya.
Ternyata hanya fatamorgana di sahara.

 

Labuhan Armada Kapal

 

Kanda masih mengembara
di atas air asin yang tak terpijak.
Kanda lah komando kapal ini,
yang membawa satu peti harta.

Peti ini kanda simpan di hati,
karena hati ini tak ingin mati.

Mulanya Kanda lihat
samar-samar cahaya mercusuar.

Kini Kanda sampai di tepian.
Ternyata dipandang dari dekat labuhan begitu indah.

Negeri hijau, damai, aman sentosa,
kanda memilih untuk menurunkan jangkar.
Jangkar menyangkut, tali mengikat,
bersambut baik di tepian labuh.

 

Surat, Angin, Api


Ini adalah surat,
sebuah surat berisi kekaguman.

Jangan sangka
surat ini berbahan kertas ringkih,
karena kagum ini kepada Tuan yang membakar
kertas lapuk hanya menjadi bahan ego Tuan.

Ini adalah surat,
sebuah surat berisi pujian.

Jangan sangka surat ini sampai lewat saya,
karena pujian ini kepada tuan yang berkobar
Angin saya hanya menambah keangkuhan tuan

Ini adalah surat,
Surat yang saya tulis diam-diam
Tidak akan pernah berbahan kertas

Ini adalah surat,
surat yang saya simpan rapat-rapat,
tidak pernah pula tersampaikan kepada tuan.

 

Biodata Penulis:

Annisa Berliana suka menulis puisi dan kuliah di Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.

 

 


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *