Puisi-puisi Ardhi Ridwansyah

Dari  Kolong Langit

Dari kolong langit,
Angin lirih bergerak sengit,
Telusuri jiwa menerka angan,
Tentang hari esok yang datang,
Dengan paras berang.

Jejaki tanah basah,
Derai tangis November belumlah usai,
Sedang jalan raya ramai dengan genangan,
Yang mengajak segala runyam masuk ke dalam;
Sekadar menatap diri bergelimang kelam.

Petang akan datang,
Sempatkan rehat menikmati malam gemintang,
Ketika para bintang hadir bertabur kerlip pandang,
Rupa yang dikenal terurai cantik,
Bersama senyum purnama ia cemerlang.

Jakarta, 2020

 

Akar dalam Tubuhmu

Dalam tubuhmu aku bersemi,
Sebagai akar yang mendobrak jantungmu,
Dengan kata-kata yang kupintal dengan kasih,
Dengan cinta, cengan derita!

Saat deru napasmu menggema,
Lantas kubangkit dengan rindu gairah,
Tersemai di jiwamu nan ringkih.

Bila kau tertawa, lantas kududuk,
Lalu termenung; saksikan senyuman indah,
Khas pelangi yang lahir selepas awan gundah.

Namun kala pedih terpancar,
Kau berlari dari realita yang mendesakmu,
Untuk menangis, untuk memendam segala amarah,
Yang mengendap di tendas.

Percayalah bahwa aku berang,
Dan bergerak beringas dan tangkas,
Kucabik segala luka,
Menyeka air mata  dengan selampai duka.

Jakarta, 2020

 

Memori Keranjang Usang

Keranjang usang,
Hari-hari telah bersimpuh di kaki langit,
Senja pulang, fajar datang,
Waktu telah menuai peluh,
Namun segala yang tersimpan,
Ingatkanku padanya.

Di dalam rahim itu,
Potret ibu dan ayah menimangku dulu,
Suapi diri dengan asi,
Melatihku untuk berani,
Menyusuri jalan terjal meski tertatih.

Jakarta, 2020

 

Alam Baka

Lalat hijau penebar teror,
Menjilat ragaku yang tewas.
Tergilas masa, remuk dihajar waktu.

Membangkai segala rasa yang dulu terucap,
Dengan balutan janji manis dan senyum sinis.

Dusta adalah pesan pembawa petaka.
Tikam perlahan, jatuh ke tanah gersang.
Menyeret jiwa ke alam baka.

Jakarta, 2020

 

Monumen Kukuh

Dari yang kupandang,
Di tepian pandai,
Lampu-lampu pijar,
Tumbuh di tengah tenangnya arus lautan.

Semilir angin memagut,
Segala rindu mengucap syukur,
Di antara langit yang memerah senja,
Mengingat usia tak lagi sama;
Semakin renta membuat tubuh terlunta.

Dirimu kini sebatas semu,
Renang  dalam pikiran yang bertemu,
Dengan segala rupa yang menggoda jiwa.

Akan kunikmati sepi
Gejolak yang ada akan merenjis,
Di setiap sela-sela jari.

Genggam jemari runtuh,
Dalam memori yang tersimpan di kalbu,
Kau utuh sebagai monumen yang kukuh.

Jakarta, 2020

 

Biodata Penulis

Ardhi Ridwansyah lahir di Jakarta, 4 Juli 1998. Tulisan esainya dimuat di islami.co. terminalmojok.co, tatkala.co, nyimpang.com, nusantaranews.co, pucukmera.id, dan ibtimes.id. Puisinya “Memoar dari Takisung” dimuat di buku antologi puisi “Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019”. Puisinya juga dimuat di media seperti kawaca.com, catatanpringadi.com, apajake.id, mbludus.com, kamianakpantai.com, literasikalbar, ruangtelisik, sudutkantin.com, cakradunia.co, Majalah Kuntum, Radar Cirebon, dan Harian Bhirawa. Penulis buku antologi puisi tunggal Lelaki yang Bersetubuh dengan Malam. Salah satu penyair terpilih dalam “Sayembara Manuskrip Puisi: Siapakah Jakarta”.   E-Mail: ardhir81@gmail.com, Instagram: @ardhigidaw, FB: Ardhi Ridwansyah.


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *