Elegi Kopi
Secangkir kopi menelik kenangan
yang kini telah redup seperti sinaran kunang-kunang,
dan malam dengan temaram lampu jalan di sudut kota sepi
Aku menampung bayang-bayangmu,
seolah kakimu masih menggores jejak pada bumi,
walau kini kau telah menyepak dari naungku
Tinggal kisah darimu yang sempat meracik kopi dari hati,
meski kini kau tengah bercengkrama dengan Munkar dan Nakir
Sekarang takkan kutemui lagi racikan kopi darimu,
sekali pun diracik ribuan bidadari
Bayang, 2020
Kasih di Ujung Kisah
Tak ada yang lebih mencintaimu selain Izrail
yang melamarmu dalam pelukku
memisahkan dalam kisah
Aku hanya bisa membaca cinta yang telah gugur
sebab waktumu tak sama dengan waktuku
dan air mata tak henti mengikis wajah
Sungguh amat kusesali pertemuanku akanmu
dengan kisah pisah yang bengis
hingga bergejolak pada cinta yang teriris sadis
Bayang, 2020
Sepucuk Rindu
Darahku tercecer diseret monsun,
saat lidah melambai pada musim perpisahan
Janji mesra yang terlukis di dedaunan
kini telah gugur termakan usia,
bukan aku yang memetiknya,
tapi takdir Tuhanlah yang bicara.
Sepucuk rindu dan bayang-bayangmu
kini membekas pada larik sajak yang kuukir dahulu,
dan itu takkan mungkin pulih walau ribuan waktu berdalih.
Bayang, 2020
Menanti di Ujung Senja
terik kemarau telah berkecamuk pada lara
hingga terdampar di bibir senja
aku melilit badan dengan manja
dalam dekapan kekosongan berkawan nestapa
hati termangu menanti
namun kau entah dimana…
mentari seakan ditelan laut , bulan hampir mengintip
dan setetes kuning telah dileburkan kelam
pada mata yang berkaca-kaca
waktu bergulit mesra
menantimu yang tak kunjung tiba
oh kasih, aku masih di ujung senja
dan kokoh bertumpu pada kata;
takkan sia-sia
Bayang, 2020
Rencana Kematian
aku memberi segenggam emas
pada tuan pemahat tanah
sketsa kamar yang indah
tak lagi beratap tiris
dinding kokoh
ubin kaca
gagak hitam menyasikkan
pondasi belum usai
tuan pemahat tanah telah selesai
ia lebih dulu menjamah
pada pahatan tanah
Bayang, 2020
Malaikat Peminta-minta
mata telanjang memandang
pada rudin berkantong tempurung
duduk tersenyum menampung rintik sikah
dari cukong yang berdarah sirah
rudin menjarah haknya
di kantong yang terselip rupiah
bilamana setumpuk keikhlasan
memang bersarang pada segumpal daging merah
rudin akan menjelma sebagai mikail
dan datang pada tiap sudut arah
Bayang, 2020
Chalvin Pratama Putra lahir di Bayang, Pantai Barat Sumatera (Pesisir Selatan). Ia merupakan anggota Sastra Bumi Mandeh (SBM) dan aktif mengelola Rumah Baca Pelopor 19 dan menulis puisi yang sudah dimuat di media.

Tinggalkan Balasan