Sebuah Harapan
Hari itu
Di depan sebuah istana
Aku menjajakan kafein
Menuangkannya ke dalam gelas-gelas kertas
Hari itu
Setiap aku menapakkan kaki memasuki gerbang
Angin selalu berdansa dengan indah
Meniup khimar yang aku kenakan
Aku bersyukur
Bukan karena lembaran-lembaran kertas yang aku peroleh
Lebih dari itu,
Sebuah perjalanan
Di sana kulihat taman surga
Surga yang dihuni banyak keluarga
Berpasang-pasang kekasih halal
Anak-anak yang menggenggam Alquran di dadanya
Ayah yang begitu mencintai putrinya
Ibu yang mendekap putranya sambil membisikkan asma Allah
Tetangga yang peduli kepada saudaranya
Tidak ada dengki di dalamnya
Tidak ada juga saudara yang memakan daging saudaranya yang sudah berulat
Hanya keikhlasan dan kesabaran yang terpancar dari wajah bekas wudu
Hari itu
Aku termenung
Aku terguncang dalam kesenduan
Bagaimana dengan aku selama ini
Yang hanya memandang dunia seperti jahannam
Hanya bait-bait intuisi yang bisa aku sabdakan
Sebagai sebuah pengharapan
Aku juga ingin
Berada di dalam lingkaran itu
Bersama mereka yang aku jaga di dalam syair doa
Jikalau pun tidak
Tak mengapa
Cukup Allah saja yang menggenapkan asaku
(05 April 2020)
Jangan
Genangan air mata berdansa di atas pipi di atas sepi
Fitnah aku
Fitnah sampai orang-orang muntah menyebutkan namaku
Caci aku
Caci dengan ular yang telah lama kau beri makan
Siksa aku
Siksa dengan segala bentuk kemarahan dan dendam yang menyelimutimu
Bunuh aku
Bunuh dengan pisau berkarat itu
Biar aku saja
Tak mengapa
Aku, aku, aku, akan tenang
Tapi, tapi, tapi
Jangan menyentuh sesuatu yang kujaga dengan hati
Sesuatu yang kucintai sepenuh hati
Jangan mengusik senyumanku yang hampir rinai
Jangan bangunkan kemarahan yang telah lama kutidurkan
Bukan, bukan aku yang akan menghukummu
Tapi, tanganmu sendiri
Sebagai penyebab gugurnya air mata dari retina yang tak tahu apa-apa
Jangan, jangan, jangan
Menyakiti yang aku kasihi
Atau kuadukan kau kepada Tuhan dengan segenap hati
Kembali
Air mata bersaut-sautan memanggilku untuk pulang
Aku berderai-derai memungut kisah yang tlah kusut
Benang merah kutemukan dari kenyataan yang menyakitkan
Berpilin-pilin, bersekat-sekat
Suara gaduh terdengar memenuhi ruanganku yang gemetaran
Sebelah mataku berkedip-kedip
Akankah hujan akan kembali membasahi pipiku
Aku bersimpuh di atas pesona takdir
Memungut satu demi satu rasa kecewa yang berserakan
Pulang adalah kata paling sakral untuk aku sabdakan
Seperti mimpi di dalam mimpi
Dan aku kembali menangis
Tentang Penulis:
Dara Puspa Mulyana lahir di daerah yang dikenal sebagai Kota Dingin Tak bersalaju, 03 Juli 2000. Saat ini, ia sedang menyelesaikan program S1 di Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI SUMBAR dengan Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Ia aktif menulis antalogi pulisi dan novel di Wadpatt. IG: @daraa.pm
Bila Ibu Guru Menulis Puisi
Oleh :
Ragdi F. Daye
(Ketua FLP Sumbar dan Penulis Buku
Kumpulan Puisi Esok yang Selalu Kemarin)
Pulang adalah kata paling sakral untuk aku sabdakan
Seperti mimpi di dalam mimpi
Menurut A. Teeuw (dalam Pradopo, 2009:106), karya sastra adalah artefak atau benda mati, baru mempunyai makna dan menjadi objek estetik bila diberi arti oleh manusia pembaca sebagaimana artefak peninggalan manusia purba mempunyai arti bila diberi makna oleh arkeolog.
Kali ini, Kreatika menampilkan tiga buah puisi dari Dara Puspa Mulyana. Puisi-puisi yang cenderung lembut dan realis. Agar tidak sekadar tinggal artefak, mari kita gali aspek estetikanya. Sebagaimana yang disampaikan Teeuw di atas, puisi akan bermakna setelah diberi arti oleh pembacanya.
Puisi pertama berjudul “Sebuah Harapan” yang bertutur dengan gamblang dan realis tentang seorang perempuan (terbaca dari larik ini “Angin selalu berdansa dengan indah/Meniup khimar yang aku kenakan”) yang merasa senang menyaksikan pemandangan damai keluarga-keluarga Islami yang dekat dengan Alquran. Perempuan itu merenungi dirinya yang telah memandang dunia dengan penilaian buruk seperti neraka. Dia ingin mengubah persepsi itu. Dia pun ingin punya pasangan halal, membangun surga, selalu menyebut asma Allah, tak lepas dari wudu, dan selalu menghadirkan Allah pada setiap masa hidupnya.
Puisi “Sebuah Harapan” ini begitu bersahaja, tak menggunakan diksi dan metafora canggih, namun langsung ke jantung pesan. “Aku juga ingin/ Berada di dalam lingkaran itu/ Bersama mereka yang aku jaga di dalam syair doa/ Jikalau pun tidak/ Tak mengapa/ Cukup Allah saja yang menggenapkan asaku” Apabila dibaca tatkala sedang memuhasabahi diri, air mata pembaca tak ayal akan menitik ke pipi.
Gaya bahasa merupakan cara pengarang mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). Unsur kebahasaan antara lain pilihan kata atau diksi, frase, klausa, dan kalimat (Keraf, 2010:113). Ada sejumlah gaya bahasa yang digunakan penyair dalam membuat puisi, seperti gaya perbandingan, pengulangan, pertentangan, gaya bahasa retoris, gaya bahasa kiasan, dan lain-lain.
Gaya bahasa pengulangan bentuk (repetisi) sering dipakai penyair untuk menciptakan nuansa puitis dalam puisi. Gaya repetisi ini enak dibaca karena menimbulkan efek intensitas irama dan dapat memainkan emosi. Dara Puspa Mulyana paham sekali dengan strategi ini dengan menulis seperti ini:
Fitnah aku/ Fitnah sampai orang-orang muntah menyebutkan namaku/ Caci aku/ Caci dengan ular yang telah lama kau beri makan/ Siksa aku/ Siksa dengan segala bentuk kemarahan dan dendam yang menyelimutimu/ Bunuh aku/ Bunuh dengan pisau berkarat itu/…. / Biar aku saja/ Tak mengapa/ Aku, aku, aku, akan tenang/ Tapi, tapi, tapi/ Jangan menyentuh sesuatu yang kujaga dengan hati/ Sesuatu yang kucintai sepenuh hati/ Jangan mengusik senyumanku yang hampir rinai/ Jangan bangunkan kemarahan yang telah lama kutidurkan.
Strategi repetisi kata, frasa, dan bunyi yang dipilih Dara dalam puisi berjudul “Jangan” ini mangkus membuat puisinya memiliki ritme. Jika dibacakan dengan lantang, tentu akan memukau, apalagi disertai mimik dan gesture dan iringan audio yang syahdu. Dapat menjadi konten puisi audio di platform YouTube atau Spotify.
Setiap puisi memiliki unsur kepuitisannya sendiri, tergantung pada kepiawaian penyair dalam mengolah kata-kata dalam puisinya. Atmazaki (2002:73) berpendapat bahwa bunyi dalam puisi merupakan salah satu sarana kepuitisan di samping sarana-sarana lain. Sebagian keindahan puisi terletak pada bunyi. Bunyi mempunyai tenaga ekspsresif, sementara nilai sebuah puisi sebagai karya seni terletak pada kekuatan ekspresinya yang total dan tandas. Ekspresi yang penuh itu adalah ekspresi yang memanfaatkan segala potensi bahasa dengan maksimal. Dengan kata lain, bunyi merupakan salah satu unsur yang penting dalam puisi. Di dalam puisi, unsur bunyi berperan untuk memberi pengaruh dan sugesti kepada pembaca dan penikmatnya. Hal itu disebabkan karena bunyi-bunyi tidak saja mempunyai tugas mempertajam dan menegaskan makna, tetapi juga menimbulkan sugesti.
Di antara puisi-puisi yang cenderung lugas dan realis mencurahkan perasaan, ada puisi Dara yang menunjukkan upaya menggunakan metafora, yakni puisi berjudul “Kembali”.
Puisi ini mengungkapkan tentang dilema kepulangan. Seorang ‘aku’ lirik gundah dengan kondisi yang dihadapinya. Beberapa kalimat dapat menimbulkan tanda tanya menyangkut logika bahasanya, misalnya kalimat “Air mata bersaut-sautan memanggilku” “Sebelah mataku berkedip-kedip” dan “Aku bersimpuh di atas pesona takdir.”
Penggunaan kata ulang ‘bersaut-sautan’ setelah kata air mata memunculkan imaji tentang suara yang saling berbalas, apakah air mata bersuara? Barangkali, maksudnya suara kepedihan. Mata yang berkedip-kedip juga berhubungan dengan pengalaman keseharian, biasanya mata berkedip sebelah ketika memberi kode untuk menyampaikan pesan rahasia. Kalimat ‘bersimpuh di pesona takdir’ juga cukup menggelitik di tengah suasana puisi yang cenderung gelisah.
Selain kalimat-kalimat di atas, ada juga beberapa kata yang kehadirannya secara berulang menimbulkan kejenuhan, yakni berdansa, memungut, dan kusabdakan. Bukan masalah pengulangan seperti gaya repetisi, namun disebabkan seperti tidak sengaja diulang tanpa mencari kata lain yang dapat menggantikan. Di dalam proses mencipta karya, seorang penyair perlu sabar untuk memilih dan memilah kata yang tepat untuk mengungkapkan idenya dengan memperhatikan nilai estetikanya.
Terlepas dari hal tersebut, puisi-puisi Dara sangat enak dinikmati. Apalagi dibacakan penuh penghayatan dengan iringan alunan musik. Mau coba?[]
Catatan:
Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.

Tinggalkan Balasan