kreatika

Puisi-puisi Dara Puspa Mulyana dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Sebuah Harapan

Hari itu

Di depan sebuah istana

Aku menjajakan kafein

Menuangkannya ke dalam gelas-gelas kertas

 

Hari itu

Setiap aku menapakkan kaki memasuki gerbang

Angin selalu berdansa dengan indah

Meniup khimar yang aku kenakan

Aku bersyukur

Bukan karena lembaran-lembaran kertas yang aku peroleh

Lebih dari itu,

Sebuah perjalanan

Di sana kulihat taman surga

Surga yang dihuni banyak keluarga

Berpasang-pasang kekasih halal

Anak-anak yang menggenggam Alquran di dadanya

Ayah yang begitu mencintai putrinya

Ibu yang mendekap putranya sambil membisikkan asma Allah

Tetangga yang peduli kepada saudaranya

Tidak ada dengki di dalamnya

Tidak ada juga saudara yang memakan daging saudaranya yang sudah berulat

Hanya keikhlasan dan kesabaran yang terpancar dari wajah bekas wudu

 

Hari itu

Aku termenung

Aku terguncang dalam kesenduan

Bagaimana dengan aku selama ini

Yang hanya memandang dunia seperti jahannam

Hanya bait-bait intuisi yang bisa aku sabdakan

Sebagai sebuah pengharapan

 

Aku juga ingin

Berada di dalam lingkaran itu

Bersama mereka yang aku jaga di dalam syair doa

Jikalau pun tidak

Tak mengapa

Cukup Allah  saja yang  menggenapkan asaku

(05 April 2020)

 

Jangan

Genangan air mata berdansa di atas pipi di atas sepi

Fitnah aku

Fitnah sampai orang-orang muntah menyebutkan namaku

Caci aku

Caci dengan ular yang telah lama kau beri makan

Siksa aku

Siksa dengan segala bentuk kemarahan dan dendam yang menyelimutimu

Bunuh aku

Bunuh dengan pisau berkarat itu

 

Biar aku saja

Tak mengapa

Aku, aku, aku, akan tenang

Tapi, tapi, tapi

Jangan menyentuh sesuatu yang kujaga dengan hati

Sesuatu yang kucintai sepenuh hati

Jangan mengusik senyumanku yang hampir rinai

Jangan bangunkan kemarahan yang telah lama kutidurkan

 

Bukan, bukan aku yang akan menghukummu

Tapi, tanganmu sendiri

Sebagai penyebab gugurnya air mata dari retina yang tak tahu apa-apa

 

Jangan, jangan, jangan

Menyakiti yang aku kasihi

Atau kuadukan kau kepada Tuhan dengan segenap hati

 

Kembali

Air mata bersaut-sautan memanggilku untuk pulang

Aku berderai-derai memungut kisah yang tlah kusut

Benang merah kutemukan dari kenyataan yang menyakitkan

Berpilin-pilin, bersekat-sekat

Suara gaduh terdengar memenuhi ruanganku yang gemetaran

Sebelah mataku berkedip-kedip

Akankah hujan akan kembali membasahi pipiku

Aku bersimpuh di atas pesona takdir

Memungut satu demi satu rasa kecewa yang berserakan

Pulang adalah kata paling sakral untuk aku sabdakan

Seperti  mimpi di dalam mimpi

Dan aku kembali menangis

 

Tentang Penulis:

Dara Puspita MulyanaDara Puspa Mulyana lahir di daerah yang dikenal sebagai Kota Dingin Tak bersalaju, 03 Juli 2000. Saat ini, ia sedang menyelesaikan program S1 di Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI SUMBAR dengan Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Ia aktif menulis antalogi pulisi dan novel di Wadpatt.  IG: @daraa.pm


Bila Ibu Guru Menulis Puisi


Ragdi F. Daye
Oleh :
Ragdi F. Daye

(Ketua FLP Sumbar dan Penulis Buku
Kumpulan Puisi Esok yang Selalu Kemarin)

 

Pulang adalah kata paling sakral untuk aku sabdakan

Seperti  mimpi di dalam mimpi

Menurut A. Teeuw (dalam Pradopo, 2009:106), karya sastra adalah artefak atau benda mati, baru mempunyai makna dan menjadi objek estetik bila diberi arti oleh manusia pembaca sebagaimana artefak peninggalan manusia purba mempunyai arti bila diberi makna oleh arkeolog.

Kali ini, Kreatika menampilkan tiga buah puisi dari Dara Puspa Mulyana. Puisi-puisi yang cenderung lembut dan realis. Agar tidak sekadar tinggal artefak, mari kita gali aspek estetikanya. Sebagaimana yang disampaikan Teeuw di atas, puisi akan bermakna setelah diberi arti oleh pembacanya.

Puisi pertama berjudul “Sebuah Harapan” yang bertutur dengan gamblang dan realis tentang seorang perempuan (terbaca dari larik ini “Angin selalu berdansa dengan indah/Meniup khimar yang aku kenakan”) yang merasa senang menyaksikan pemandangan damai keluarga-keluarga Islami yang dekat dengan Alquran. Perempuan itu merenungi dirinya yang telah memandang dunia dengan penilaian buruk seperti neraka. Dia ingin mengubah persepsi itu. Dia pun ingin punya pasangan halal, membangun surga, selalu menyebut asma Allah, tak lepas dari wudu, dan selalu menghadirkan Allah pada setiap masa hidupnya.

Puisi “Sebuah Harapan” ini begitu bersahaja, tak menggunakan diksi dan metafora canggih, namun langsung ke jantung pesan. “Aku juga ingin/ Berada di dalam lingkaran itu/ Bersama mereka yang aku jaga di dalam syair doa/ Jikalau pun tidak/ Tak mengapa/ Cukup Allah  saja yang  menggenapkan asaku” Apabila dibaca tatkala sedang memuhasabahi diri, air mata pembaca tak ayal akan menitik ke pipi.

Gaya bahasa merupakan cara pengarang mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). Unsur kebahasaan antara lain pilihan kata atau diksi, frase, klausa, dan kalimat (Keraf, 2010:113). Ada sejumlah gaya bahasa yang digunakan penyair dalam membuat puisi, seperti gaya perbandingan, pengulangan, pertentangan, gaya bahasa retoris, gaya bahasa kiasan, dan lain-lain.

Gaya bahasa pengulangan bentuk (repetisi) sering dipakai penyair untuk menciptakan nuansa puitis dalam puisi. Gaya repetisi ini enak dibaca karena menimbulkan efek intensitas irama dan dapat memainkan emosi. Dara Puspa Mulyana paham sekali dengan strategi ini dengan menulis seperti ini:

Fitnah aku/ Fitnah sampai orang-orang muntah menyebutkan namaku/ Caci aku/ Caci dengan ular yang telah lama kau beri makan/ Siksa aku/ Siksa dengan segala bentuk kemarahan dan dendam yang menyelimutimu/ Bunuh aku/ Bunuh dengan pisau berkarat itu/…. / Biar aku saja/ Tak mengapa/ Aku, aku, aku, akan tenang/ Tapi, tapi, tapi/ Jangan menyentuh sesuatu yang kujaga dengan hati/ Sesuatu yang kucintai sepenuh hati/ Jangan mengusik senyumanku yang hampir rinai/ Jangan bangunkan kemarahan yang telah lama kutidurkan.

Strategi repetisi kata, frasa, dan bunyi yang dipilih Dara dalam puisi berjudul “Jangan” ini mangkus membuat puisinya memiliki ritme. Jika dibacakan dengan lantang, tentu akan memukau, apalagi disertai mimik dan gesture dan iringan audio yang syahdu. Dapat menjadi konten puisi audio di platform YouTube atau Spotify.

Setiap puisi memiliki unsur kepuitisannya sendiri, tergantung pada kepiawaian penyair dalam mengolah kata-kata dalam puisinya. Atmazaki (2002:73) berpendapat bahwa bunyi dalam puisi merupakan salah satu sarana kepuitisan di samping sarana-sarana lain. Sebagian keindahan puisi terletak pada bunyi. Bunyi mempunyai tenaga ekspsresif, sementara nilai sebuah puisi sebagai karya seni terletak pada kekuatan ekspresinya yang total dan tandas. Ekspresi yang penuh itu adalah ekspresi yang memanfaatkan segala potensi bahasa dengan maksimal. Dengan kata lain, bunyi merupakan salah satu unsur yang penting dalam puisi. Di dalam puisi, unsur bunyi  berperan untuk memberi pengaruh dan sugesti kepada pembaca dan penikmatnya. Hal itu disebabkan karena bunyi-bunyi tidak saja mempunyai tugas mempertajam dan  menegaskan makna, tetapi juga menimbulkan sugesti.

Di antara puisi-puisi yang cenderung lugas dan realis mencurahkan perasaan, ada puisi Dara yang menunjukkan upaya menggunakan metafora, yakni puisi berjudul “Kembali”.

Puisi ini mengungkapkan tentang dilema kepulangan. Seorang ‘aku’ lirik gundah dengan kondisi yang dihadapinya. Beberapa kalimat dapat menimbulkan tanda tanya menyangkut logika bahasanya, misalnya kalimat “Air mata bersaut-sautan memanggilku” “Sebelah mataku berkedip-kedip” dan “Aku bersimpuh di atas pesona takdir.

Penggunaan kata ulang ‘bersaut-sautan’ setelah kata air mata memunculkan imaji tentang suara yang saling berbalas, apakah air mata bersuara? Barangkali, maksudnya suara kepedihan. Mata yang berkedip-kedip juga berhubungan dengan pengalaman keseharian, biasanya mata berkedip sebelah ketika memberi kode untuk menyampaikan pesan rahasia. Kalimat ‘bersimpuh di pesona takdir’ juga cukup menggelitik di tengah suasana puisi yang cenderung gelisah.

Selain kalimat-kalimat di atas, ada juga beberapa kata yang kehadirannya secara berulang menimbulkan kejenuhan, yakni berdansa, memungut, dan kusabdakan. Bukan masalah pengulangan seperti gaya repetisi, namun disebabkan seperti tidak sengaja diulang tanpa mencari kata lain yang dapat menggantikan. Di dalam proses mencipta karya, seorang penyair perlu sabar untuk memilih dan memilah kata yang tepat untuk mengungkapkan idenya dengan  memperhatikan nilai estetikanya.

Terlepas dari hal tersebut, puisi-puisi Dara sangat enak dinikmati. Apalagi dibacakan penuh penghayatan dengan iringan alunan musik. Mau coba?[]

Catatan:

Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *