Membaca Kenyataan
Kita harus membaca kenyataan
bukan lagi andai kata atau seakan
atau sebangsa itu yang membuatmu
mengali tanah sedalam sumur
dengan tempurung dan mengubur dua
bola matamu itu.
Pada kenyataan paling dingin lebih dingin
dari musim hujan. Pelukan bukan bentuk cinta
yang kita punya. Itu hanya cara berbagi kehangatan
di sela-sela kebosanan romantika cinta saja.
Apa kau masih ingin meminjam sepuluh
jari tanganku untuk menggali tanah?
Lalu mengubur dua telinga yang kaupunya.
Sedang tempurung minggu lalu
sudah kau jadikan andai kata ada
cangkul penggali tanah menjadi
lubang sedalam sumur. Aku tahu,
kita harus membaca kenyataan
dan melepas untung-untungan seakan.
Agam, 2020
Bukan Anjing Kurap
Jika cinta yang kaupunya
juga yang kupunya, membuat kita bodoh
apalagi menjadi sepasang tunaaksara
lebih baik kau buang itu cinta ke sungai
biar tak sampah melulu isinya.
Jelas-jelas tertulis dengan huruf kapital,
“DILARANG PACARAN KECUALI ANJING KURAP
PATAH KAKI”. Bukankah seperti itu bacaan yang
termaktub di dinding itu, kekasih.
Sedang anjing yang tak kurap dilarang
bermesraan di situ kekasih. Apalagi kita
yang ke mana-mana berbaju bercelana.
Tak salah bila kubilang, malu sama anjing.
Tapi, benarkah anjing berpacaran
terlebih dahulu sebelum kawin, kekasih?
Agam, 2020
Tak Akan Pernah Mencintaimu
Aku tak akan pernah mencintaimu
sepenuhnya, seutuhnya. Hanya
mencintaimu sebisanya, karena kau tahu
pijar mataku hanya serupa lampu
led satu watt. Bagaimana bisa aku
memberikan terang di hatimu yang
mahalapang.
Kau juga telah mafhum,
bahwa bibirku tertanam rimbang
lebat berduri berbuah ranum, namun
jarang orang hendak memakan. Apalagi
pendengaranku yang kaku dan tak utuh.
sedang bunyi meriam di hadapan
tak dapat kudengar. Begitulah
yang sudah kau tahu. Belum lagi
sempitnya hatiku pada apa yang
tak kutahu.
Agam, 2020
Asahan Batang Sabar
Kita tak lagi menyoalkan kebenaran
yang benar-benar benar kekasih.
Sudah khatam dari dulu dan masih
saja ada yang senang memelintirkan.
Di sana kau sibukkan saja
mengasah sopan dengan asahan
takut pada waktu tak terteka.
Di sini aku akan mulai memukul diri
dengan tafakur sebatang sabar.
Biarlah kebenaran yang kau punya
mungkin juga kupunya atau
mereka punya seutuhnya menjadi benar
untuk kebenaran semestinya.
Agam, 2020
Di Antara
Rindu tak pernah memberikan gelombang
padamu apalagi padaku. Sampai microdetik ini, aku masih
bertanya-tanya: benarkah rindu itu ada di antara kita?
Di antara lapar dan haus
di antara kantuk dan pekerjaan
di antara anjing dan kucing pasar
di antara kucing dan tikus rumahan
di antara batu dan udang.
Di antara itu ada di antara lainnya, tiada
frekuensi yang sama untuk menggetarkan
aku padamu. Tempelkan saja morfem bebas itu
di kening durian. Agar kau tahu, bahwa
hal itu tak mungkin untukmu dan untukku.
Agam, 2020
Pohon Pepaya
Jikalau kau ingin berubah, jangan pernah
melupakan pohon pepaya setinggi tiang
bendera yang setiap Senin pagi
juga ikut upacara di belakang sekolah
kita dulu. Dan jangan tanggung-tanggung,
apalagi berhati setengah. Itu akan
membuatmu mundur-mundur tak cantik.
Setidaknya berikan pergeseran pada
dua sisi buah pepaya yang seringkali
disantap penghuni malam. Dan kita pasti
berdebat tentang itu. Musang, kalelawar, bunian, atau
jangan-jangan pejabat kurang kerjaan.
Jadi,
kau mau yang mana?
Berubah atau pergeseran, atau aku salah.
Seharusnya perubahan atau bergeser. Tapi
sudahlah, itu hanya perihal morfem terikat saja.
Toh, pohon pepaya sudah lama
tak ikut upacara mengikuti kelulusan kita.
Agam, 2020
Biodata Penulis
Diego Alpadani lahir di Bandung. Saat ini, sangat hobi duduk di Lepau Wo Wat mendengarkan ota lapau sambil meminum teh telur. Ia berharap dapat duduk semeja di Lepau Wo Wat bersama Pevita Pearce. No Hp/WA: 0899267195.

Tinggalkan Balasan