Puisi-puisi Diego Alpadani

Membaca Kenyataan

Kita harus membaca kenyataan

bukan lagi andai kata atau seakan

atau sebangsa itu yang membuatmu

mengali tanah sedalam sumur

dengan tempurung dan mengubur dua

bola matamu itu.

 

Pada kenyataan paling dingin lebih dingin

dari musim hujan. Pelukan bukan bentuk cinta

yang kita punya. Itu hanya cara berbagi kehangatan

di sela-sela kebosanan romantika cinta saja.

 

Apa kau masih ingin meminjam sepuluh

jari tanganku untuk menggali tanah?

Lalu mengubur dua telinga yang kaupunya.

 

Sedang tempurung minggu lalu

sudah kau jadikan andai kata ada

cangkul penggali tanah menjadi

lubang sedalam sumur. Aku tahu,

 

kita harus membaca kenyataan

dan melepas untung-untungan seakan.

Agam, 2020

 

Bukan Anjing Kurap

Jika cinta yang kaupunya

juga yang kupunya, membuat kita bodoh

apalagi menjadi sepasang tunaaksara

lebih baik kau buang itu cinta ke sungai

biar tak sampah melulu isinya.

 

Jelas-jelas tertulis dengan huruf kapital,

“DILARANG PACARAN KECUALI ANJING KURAP

PATAH KAKI”. Bukankah seperti itu bacaan yang

termaktub di dinding itu, kekasih.

 

Sedang anjing yang tak kurap dilarang

bermesraan di situ kekasih. Apalagi kita

yang ke mana-mana berbaju bercelana.

Tak salah bila kubilang, malu sama anjing.

Tapi, benarkah anjing berpacaran

terlebih dahulu sebelum kawin, kekasih?

Agam, 2020

 

Tak Akan Pernah Mencintaimu

Aku tak akan pernah mencintaimu

sepenuhnya, seutuhnya. Hanya

mencintaimu sebisanya, karena kau tahu

pijar mataku hanya serupa lampu

led satu watt. Bagaimana bisa aku

memberikan terang di hatimu yang

mahalapang.

 

Kau juga telah mafhum,

bahwa bibirku tertanam rimbang

lebat berduri berbuah ranum, namun

jarang orang hendak memakan. Apalagi

 

pendengaranku yang kaku dan tak utuh.

sedang bunyi meriam di hadapan

tak dapat kudengar. Begitulah

yang sudah kau tahu. Belum lagi

sempitnya hatiku pada apa yang

tak kutahu.

Agam, 2020

 

Asahan Batang Sabar

Kita tak lagi menyoalkan kebenaran

yang benar-benar benar kekasih.

Sudah khatam dari dulu dan masih

saja ada yang senang memelintirkan.

Di sana kau sibukkan saja

mengasah sopan dengan asahan

takut pada waktu tak terteka.

 

Di sini aku akan mulai memukul diri

dengan tafakur sebatang sabar.

 

Biarlah kebenaran yang kau punya

mungkin juga kupunya atau

mereka punya seutuhnya menjadi benar

untuk kebenaran semestinya.

Agam, 2020

 

Di Antara

Rindu tak pernah memberikan gelombang

padamu apalagi padaku. Sampai microdetik ini, aku masih

bertanya-tanya: benarkah rindu itu ada di antara kita?

 

Di antara lapar dan haus

di antara kantuk dan pekerjaan

di antara anjing dan kucing pasar

di antara kucing dan tikus rumahan

di antara batu dan udang.

Di antara itu ada di antara lainnya, tiada

 

frekuensi yang sama untuk menggetarkan

aku padamu. Tempelkan saja morfem bebas itu

di kening durian. Agar kau tahu, bahwa

hal itu tak mungkin untukmu dan untukku.

Agam, 2020

 

Pohon Pepaya

Jikalau kau ingin berubah, jangan pernah

melupakan pohon pepaya setinggi tiang

bendera yang setiap Senin pagi

juga ikut upacara di belakang sekolah

kita dulu. Dan jangan tanggung-tanggung,

apalagi berhati setengah. Itu akan

membuatmu mundur-mundur tak cantik.

 

Setidaknya berikan pergeseran pada

dua sisi buah pepaya yang seringkali

disantap penghuni malam. Dan kita pasti

berdebat tentang itu. Musang, kalelawar, bunian, atau

jangan-jangan pejabat kurang kerjaan.

 

Jadi,

kau mau yang mana?

Berubah atau pergeseran, atau aku salah.

Seharusnya perubahan atau bergeser. Tapi

sudahlah, itu hanya perihal morfem terikat saja.

Toh, pohon pepaya sudah lama

tak ikut upacara mengikuti kelulusan kita.

Agam, 2020

 

Biodata Penulis

Diego Alpadani lahir di Bandung. Saat ini, sangat hobi duduk di Lepau Wo Wat mendengarkan ota lapau sambil meminum teh telur. Ia berharap dapat duduk semeja di Lepau Wo Wat bersama Pevita Pearce. No Hp/WA: 0899267195.

 


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *