Puisi-puisi Febrian Hidayat
Sahur
Masih di heningan malam
Dinginnya di subuh hari
Kokokan suara ayam belum terdengar
Gelapnya malam masih bisa terasakan
Selimut yang tebal emang pas untuk menutupi seluruh badan
Kasur yang empuk dan lembut lebih nyenyak untuk tidur
Beduk beduk berbunyi
Alarm berbunyi,
Sirine berbunyi,
Pengeras suara mesjid juga berbunyi.
Tok….tok…..tok…..
Hay, kawan bangun
Bangun lagi
Sahur, sahur, sahur
Seketika itu,
Mata yang awalnya tidak bisa dibuka
Lengket, merem seakan akan tak kan terbuka
Berusaha untuk menyadarkan diri
Namun, kasur terlalu nyaman untuk merobohkan diri
Ku lirik jam sudah hampir habis waktunya
Notif pesan dari hp berdering
Ketika aku baca pesannya menyadarkan untuk bangun
Sayangnya, jam tersisa lima menit lagi untuk berburu makan
Seketika itu juga
Aroma masakan telur tercium
Mata yang awalnya tidak bisa dibuka
Akhirnya terbuka dengan masakan kawan
Menikmati santapan sahur dengan satu telur
Walaupun mata masih terkantuk-kantuk
Di saat itulah aku menikmati lauk dengan lahap
Padang, Minggu 17 Maret 2024
Panggilan senja
Hempasan ombak pantai
Di bawah terik panasnya mentari
Pasir pantai yang terhempas ke tepian
Panasnya ini seakan akan menyejukkan suasana keadaan.
Ketika itu,
Sinarannya mulai redup
Angin angin begitu kencang yang seakan akan menghibur para pejalan yang sedang melalui itu,
Orang orang hanya sibuk dengan tujuan masing masing di kala waktu itu.
Berdiri kokoh bangunan tua
Mengeluarkan suara merdu di kala waktu masuk
Tepat di samping Pasiran pantai tersebut.
Ada sebuah bangunan lama yang didalamnya berisikan untuk beribadah.
Melewati pasiran ombak
Tuk menghibur para pejalan
Melewati jalanan pantai
Tuk melihat indahnya matahari tenggelam
Tapi siapa sangka yang akan singgah menghampiri di bangunan tua tersebut?
Yang mayoritas muslim kalau itu mereka katakan sebagai tempat ibadah.
Namun, para pejalan itu asik dengan hiburan masing masing.
Melupakan panggilan Tuhan
Panggilan itu datang tatkala di senja.
Tepat di matahari tenggelam
Panggilan itu selalu datang
Tapi, siapa yang ingat dengan panggilan itu?
Siapa?
Bangunan tua itu hanyalah sebuah bangunan
Yang usang, lemah, dan tak layak dipakai,
Tak ada gunanya lagi jika tidak dirawat
Rasanya sia sia sudah orang orang tetap seperti itu seterusnya.
Selamat tinggal Mesjid tua di tepi pantai
Engkau indah
Namun sayang engkau hilang tatkala senja.
Padang, Minggu 17 Maret 2024
Ingatan di Masa itu
Di keheningan malam
Detak jarum jam yang terus berputar,
Di kesunyian ruangan
Menyisakan cerita cerita kecil diantara kita
Suara mesin yang selalu berjalan
Mengisi heningnya ruangan itu,
Lampu putih yang menyala
Di antara langit langit ruangan itu,
Bunyi mesin kritis selalu menyala
Seakan akan menghibur situasi
Yang sedang mencekam.
Di keheningan itu hanya bisa berharap untuk bertahan atau cukup sampai sini.
Tawa dan canda menghiasi hari,
Bersama menggapai mimpi yang tinggi.
Bahu membahu di kala duka,
Saling menguatkan di terik mentari.
Iya kawan, di peristiwa waktu itu
Di kejadian tempat itu
Senyum lebar mu itu berharga
Bagiku kawan.
Sikap lucu mu menghibur di kala
Aku kesepian.
Dalam terbaring lemas,
Antara pasrah atau menyambung hidup
Aku bisikkan di telinga mu kawan
“Terima kasih telah menemani hidup ku, kawan”
Setelah itu,
Semua mesin kritis berhenti seketika
Keheningan itu menjadi suram
Detak suara jantungnya telah hilang
Selimut yang tebal menyisakan kehangatan.
Selimut yang panjang menutupi seluruh tubuhnya.
Suasana menegangkan itu dibungkus dengan suara tangisan.
Di luar sana, suara sirine ambulance telah dinyalakan.
Antara doa dan harapan menjadi haru dalam kisah pertemanan ini.
Padang, Minggu 17 Maret 2024
Tentang Penulis
Febrian Hidayat sebuah nama yang diberikan oleh kedua orang tua saya. Biasanya disapa lebih akrab dengan Brayen. Karena Brayen sendiri bagi dirinya merupakan nama penulisnya. Anak kelahiran 6 Februari 2004 dan berjenis kelamin laki-laki. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan S1 di UIN Imam Bonjol Padang. Kesibukan selain kuliah sebagai menulis artikel, opini, cerpen, dan puisi. Semoga bisa lebih akrab lagi dengan saya Brayen.
Puisi dan Hari-Hari yang Berlalu

Oleh: Dara Layl
(Pengurus Forum Lingkar Pena Wilayah Sumatera Barat)
Detak suara jantungnya telah hilang
Selimut yang tebal menyisakan
kehangatan
Apakah kamu mengingat kejadian paling mengesankan di tahun 2024 ini?
Jika tidak bagaimana dengan kejadian di bulan kemaren?
Jika masih tidak, bagaimana dengan kejadian di saat ini? Saat sekarang ini, ketika kamu berhenti sejenak, merasakan napas yang keluar dari rongga hidungmu?
Ternyata, kejadian sesederhana itu akan selalu istimewa saat diabadikan menjadi sebuah puisi dan kita seringkali lebih memilih untuk mengabaikannya.
Sastra merupakan salah-satu karya yang sangat mengagumkan. Mengapa demikian? Karena sastra terlibat secara langsung dalam kehidupan manusia baik sebagai cermin kehidupan dan yang paling indah adalah untuk mengabadikan perjalanan dalam kehidupan seseorang. Dan karya sastra yang sangat bisa mempresentasikana hal itu adalah puisi.
Puisi adalah sebuah karya sastra yang paling berbada dengan karya sastra lainnya, karena puisi biasanya disajikan lebih singkat, padat, namun punya makna yang begitu dalam, serta disajikan dengan bahasa yang indah. Dengan kata lain, puisi adalah bahasa indah yang mengkristal. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh (Kosasih, 2018) puisi merupakan kata-kata indah yang kaya makna dalam bentuk karya sastra. Sebagai bagian dari karya sastra puisi mengandung kata-kata indah, syarat akan makna. Selain itu, Shelley juga mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah dalam kehidupan. Misalnya saja peristiwa-peristiwa yang sangat mengesankan dan menimbulkan keharuan yang kuat, seperti; kebahagiaan, kegembiraan yang memuncak, romansa bahwan kesedihan karena kematian orang yang dicintai semuanya merupkan detik-detik yang paling indah untuk direkam.
Pada edisi kali ini, Kretika menampilan tiga puisi karya Febrian Hidayat seorang mahasiswa WIN Iman Bonjol Sumatera Barat. Dengan judul puisi; “Sahur”, “Panggilan Senja”, “Ingatan di Masa Itu”. Ketiga puisi ini kental dengan nilai-nilai religius dengan penyajia yang sederhana.

Tinggalkan Balasan