Puisi-puisi Fitria Sartika dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Bersama Malam

Detak jarum jam yang berputar
Menemani kesunyian di larut malam
Suara jangkrik yang kian gusar
Bagaikan irama nada tak beraturan

Malam, temaniku tuk berjalan
Melangkah menuju asa dan impian
Terkadang lelah jua hinggapi
Hingga rasa jenuh kadang hampiri

Tapi….
Ada cinta dan cita yang ingin kuwujudkan
Ada rindu yang bergelayut dalam angan
Ayah dan Ibu sebagai tekadku tuk perjuangkan
Semoga segala harapanmu kan jadi kenyataan

Tak kumungkiri, ada waktu yang terbuang sia-sia
Banyak gerak tangan dan langkah kaki yang tiada guna
Pada-Mu Illahi Rabbiy Yang Maha Kuasa
Kumohon ampunan atas cela dan dosa
Beriku istiqomah dalam jiwa
Menetapi iman dan Islam selamanya

Payakumbuh, 22 Februari 2021

Mabruk Alfa Mabruk

(24 tahun FLP)
24 tahun telah berjalan meniti langkah
Perlahan tapi tetap terarah
Tak sedikit tawa dan air mata tertumpah
Hingga menjadi catatan untuk tidak pernah menyerah
Mengukir kisah jadi sejarah

Berkarya untuk negeri bangunkan jiwa generasi
Menanamkan cinta baca penuh bakti
Bangkitkan semangat literasi tiada henti
Menyampaikan dakwah bersama goresan tinta suci

Ribuan pena telah menggoreskan tinta
Abadikan setiap kata yang menjelma dalam sukma sang hamba
Simpan segenap cerita suka dan duka
Penuh kenangan dan pesan kebaikan untuk sesama

Mabruk alfa mabruk Forum Lingkar Pena
24 tahun berkarya untuk dunia

Payakumbuh, 23 Februari 2021

 

Murabbi, Malaikat Penopang Asa

Murabbi,
Sekelumit ceritamu menanamkan rindu di hati
Tulusnya sikapmu membekaskan cinta tak terganti
Menyisakan kenangan yang tak kan pernah mati
Kau bimbing, kau ajari daku memilih langkah hati-hati
Kau tuntun aku dengan penuh kesabaran tuk wujudkan mimpi

Sekian banyak waktumu yang tersita
Tak sedikit pun kau mencela
Buatku tak mampu ungkapkan kata
Kau mengajarku sepenuh jiwa
Satu harapmu yang selalu ada, muridmu terus berkarya

Terima kasihku yang tiada terhingga
Untukmu Murabbi, malaikat penopang asa
Kau layaknya sahabat tempatku bercerita
Kau orang tua tempatku mengadu rasa

Murabbi, maaf kupinta
Bila sikapku buatmu tak redha
Ikhlaskan segala ilmu dan jasa-jasa
Relakan, waktu dan hartamu yang pernah terbuang
untukku yang bukan siapa-siapa

Maafkan, bila ku belum mampu tuk berbakti padamu
Aku belum mampu membanggakanmu,

Murabbi,
Izinkan ku tuk selalu menyematkan namamu dalam doa
Berkisah tentangmu di kala sujud pada-Nya
Semoga engkau selalu dalam redha dan lindungan-Nya
Diberkahi hidup di dunia hingga akhir masa

Payakumbuh, 21 Februari 2021

Biodata Penulis:

Fitria Sartika lahiran 06 Juli 1993 berasal dari Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Mahasiswa Pascasarjana UMSB ini merupakan penulis pemula yang belajar mengasah rasa jadi bait-bait makna. Baginya, menulis adalah jalan dakwah terbaik di era millenial saat ini.

 


Pesan Edukasi di dalam Puisi

Oleh : Ragdi F. Daye
(Penulis Buku Kumpulan Puisi Esok yang Selalu Kemarin)

Berkarya untuk negeri bangunkan jiwa generasi
Menanamkan cinta baca penuh bakti
Bangkitkan semangat literasi tiada henti
Menyampaikan dakwah bersama goresan tinta suci 

Menurut Shirazy (2014), berdakwah dengan puisi atau syair sudah ada sejak awal dakwah Islam. Di Indonesia, para da’i sejak awal mula Islam masuk juga menggunakan sastra sebagai salah satu sarana dakwah. Di era modern, puisi bisa dijadikan sarana dakwah yang efektif. Salah seorang penyair yang terkenal dengan puisi dakwah adalah Taufiq Ismail. Sejumlah puisinya tidak hanya sering dibacakan, namun juga dijadikan lirik lagu yang sangat digemari masyarakat luas, seperti puisi yang berjudul “Ada Anak Bertanya Pada Bapanya” dan “Ketika Tangan dan Kaki Berkata”.

Pada edisi kali ini, Kreatika menampilkan tiga buah puisi Fitria Sartika. Puisi-puisi tersebut berjudul “Bersama Malam”, “Mabruk Alfa Mabruk”, dan “Murabbi, Malaikat Penopang Asa”. Seperti puisi-puisinya yang pernah dimuat di Kreatika edisi terdahulu, karya Fitria kali ini juga penuh renungan dan pesan untuk berbuat baik. Baris-baris yang dirangkai dengan kata-kata sederhana, menyampaikan maksud dengan tidak banyak metafora dan simbol yang rumit.

Misalnya puisi pertama ini: “Tapi…./ Ada cinta dan cita yang ingin kuwujudkan/ Ada rindu yang bergelayut dalam angan/ Ayah dan Ibu sebagai tekadku tuk perjuangkan/ Semoga segala harapanmu kan jadi kenyataan// Tak kumungkiri, ada waktu yang terbuang sia-sia/ Banyak gerak tangan dan langkah kaki yang tiada guna/ Pada-Mu Illahi Rabbiy Yang Maha Kuasa/ Kumohon ampunan atas cela dan dosa/ Beriku istiqomah dalam jiwa/ Menetapi iman dan Islam selamanya.”

Puisi ini seperti mengungkapkan harapan dari penulis tentang kehidupannya. Manusia sering membuang-buang waktu yang dimilikinya dengan melakukan hal-hal yang tidak mendatangkan manfaat meskipun terasa menyenangkan. Atau menjaga hubungan baik dengan keluarga dekat, lingkungan sekitar tempat tinggal, dan Tuhan Sang Pencipta. Puisi yang dapat menjadi sarana edukasi.

Puisi kedua berisi harapan Fitria terhadap komunitas Forum Lingkar Pena (FLP) yang menjadi tempatnya mengembangkan kreativitas di bidang literasi. Untuk memperingati ulang tahun FLP yang ke-24, Fitria menulis begini: “Ribuan pena telah menggoreskan tinta/ Abadikan setiap kata yang menjelma dalam sukma sang hamba/ Simpan segenap cerita suka dan duka/ Penuh kenangan dan pesan kebaikan untuk sesama/ Mabruk alfa mabruk Forum Lingkar Pena/ 24 tahun berkarya untuk dunia.” Komunitas FLP memang memiliki visi menggerakkan Literasi Berkeadaban, literasi yang mengusung nilai-nilai edukasi dan ideologi islami, cocok dengan spirit kepenulisan penyair asal Solok ini.

Puisi-puisi Fitria cenderung mengalir dengan lembut dan tenang dan dapat dicerna dengan mudah. Pesan-pesan yang hendak disampaikan penyair kepada pembaca tersampaikan dengan gamblang. Hampir tidak ada indikasi Fitria menggunakan kata-kata bersayap yang membuat kening pembaca berkerut-kerut untuk menginterpretasikan kemungkinan makna dari struktur bahasa yang dihadirkan.  Bagi pembaca yang suka puisi-puisi gelap, karya Fitria ini baru melangkah ke sana.

Termasuk puisi terakhir yang ditujukan buat guru ini: Terima kasihku yang tiada terhingga/ Untukmu Murabbi, malaikat penopang asa/ Kau layaknya sahabat tempatku bercerita/ Kau orang tua tempatku mengadu rasa// Murabbi, maaf kupinta/ Bila sikapku buatmu tak redha/ Ikhlaskan segala ilmu dan jasa-jasa/ Relakan, waktu dan hartamu yang pernah terbuang/  untukku yang bukan siapa-siapa.”

Teeuw (1983) pernah menyatakan bahwa karya sastra tidak lahir dari kekosongan budaya. Karya yang ditulis biasanya juga diwarnai oleh nilai-nilai dan budaya yang dipegang oleh si penulis. Nilai-nilai itu akan terbawa ke dalam diksi maunpun ruh karyanya. Seorang penulis yang hidup di tengah lingkungan kehidupan religius secara senagaja atau tidak biasanya akan memunculkan sidik jari kreatifnya yang punya corak tertentu. Corak budaya tersebut dapat berupa istilah-istilah tradisi, metafora, kiasan, atau gaya ungkap. Fitria perlu mempertajam sidik jari kreatifnya.

Sebagai penutup, mari kita simak puisi Taufiq Ismail berjudul “Membaca Tanda-Tanda” berikut ini, kuat di spirit dakwah, kuat pula  dalam estetika bahasa. 

Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas
dari tangan dan meluncur lewat sela-sela jari kita
Ada sesuatu yang mulanya tak begitu jelas
tapi kini kita mulai merindukannya 

Kita saksikan udara abu-abu warnanya
Kita saksikan air danau yang semakin surut jadinya
Burung-burung kecil tak lagi berkicau pagi hari 

Hutan kehilangan ranting
Ranting kehilangan daun
Daun kehilangan dahan
Dahan kehilangan hutan
Kita saksikan zat asam didesak asam arang
dan karbon dioksid itu menggilas paru-paru
Kita saksikan
Gunung memompa abu
Abu membawa batu
Batu membawa lindu
Lindu membawa longsor
Longsor membawa air
Air membawa banjir
Banjir membawa air
Air
Mata 

Kita telah saksikan seribu tanda-tanda
Bisakah kita membaca tanda-tanda?
Allah
Kami telah membaca gempa
Kami telah disapu banjir
Kami telah dihalau api dan hama
Kami telah dihujani abu dan batu
Allah
Ampuni dosa-dosa kami
Beri kami kearifan membaca
Seribu tanda-tanda
Karena ada sesuatu yang rasanya
mulai lepas dari tangan
dan meluncur lewat sela-sela jari
Karena ada sesuatu yang mulanya
tak begitu jelas
tapi kini kami
mulai
merindukannya.
(1982)

 Catatan:

Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *