BOM
Bila orang teriak Pancasila?
Saat Negara terguncang keseragaman
Ketakutan akan kebenaran
Ketakutan akan kedok keniscayaan, terkuak
Duarrr!!!
Orang pun berujar, semua Pancasila!!!
Demi NKRI Berjaya
BOM sebagai penanda yang tak berPancasila
Sila kedua yang terurai antara serpihan daging, darah
Kemanusiaan yang beradab hilang atas nama
BOM
Apa itu BOM?
Bersedia mati
Orang tak tahu kami tak bersaksi
Mati ujung tombak hakiki menakut-nakuti negeri
Mungkinkah pengorbanan jadi arti kesucian
Bukankah syurga menjelang
Demi jihad kebablasan
Tak punya akal kemanusiaan
CERITA AKHIR TAHUN
Suasana akhir tahun disambut dengan perhelatan di iklan-iklan televisi
Perlombaan berbagai macam potongan harga di pusat belanja
Semua berlomba menyerbu mall-mall ceria
Petasan,
Kembang api
Terompet
Bakar-bakaran
Sudahlah itu biasa
Yang tidak biasa
Saat kau tidak tidur
Di kasur empukmu lagi
Berada di antara puing reruntuhan
Masihkah tahun barumu mengejar diskon di plaza
Masihkah tahun barumu berkeliaran di jalanan dengan hura-hara
Sedangkan saudaramu berduka dalam bencana
Cerita tahun barumu tak ada guna karena kau tak sadar juga
Mungkin sampai ajalmu menjelma
Baru kau tertawa dalam nisan yang bahagia
AKU vs DIA
Aku rusuh
gaduh
acuh
musuh
Dia baik
Pelik
Asyik
Tapi bau taik
Mukanya dua
Jiwanya dusta
Semua jadi durjana
Aku terpedaya
Aku rasa
Aku punya
Berdosa
Aku tak bersuara
Aku diam seribu bahasa
Durjana merajalela
Hingga aku benar jadi musuh nyata
Kata tiada guna
Maka berani penjawab tantangannya
Meski harus tak ada untungnya
Ah, Sudahlah!
Mereka yang bersinar bisa kehilangan cahaya
Mereka yang berbudi bisa kehilangan nurani
Mereka yang berbakat bisa kehilangan adab
Mereka yang berani bisa jadi mati suri
Semua karena tahta
Semua karena cinta
Semua karena kuasa
Semua karena wanita
Semua karena harta
Semua karena dunia
Padahal maya adanya
Nurani lari dari hati
Jiwa lari dari rasa
Raga lari dari tenaga
Akal lari entah kemana
Siapa yang selamatkan bangsa
Bila pengkhianat bertahta
Tunggak dunia saja
Demi diri semata
KISAH USANG
Semarak rumah gadang
Warna merah, kuning, hitam
Marawa gagah sepanjang jalan
Penghulu datang menjelang
Bundo kanduang si birang tulang
Terpaku menatap alek nan gadang
Sambil bertanya pada malam
Kapan si bujang akan pulang
Dari rantau untuk jadi dubalang
Sedang kampung tak pernah dijelang
Kuasa orang yang punya tuan gadang
Bundo teriris miris
Sedih bertambah pedih
Siapa penjaga nagari
Jika muda tak paham arti
Makna antara adat yang bersandi
Dengan Syara’ sebagai sandaran yang ada bukti
Sebagai panduan gunakan kitab Illahi
Bundo menangis lirih
Baju kuruang telah hilang
Tangkuluak tak terselempangkan
Guntiang chino mulai jarang
Kemana adat akan bersandar
Jika yang muda tak pernah sadar
Tentang Penulis
Linda Tanjung adalah nama pena Lindawati, guru di SMP Islam Raudhatul Jannah Payakumbuh. Ia lahir di Medan pada 14 Januari dan berdomisili di Kota Payakumbuh. Ibu empat orang putra-putri ini berbahagia, bercengkrama bersama anak-anak. Anak-anak adalah dunianya dan membuat mereka mau menulis adalah mimpi-mimpinya. Tulisannya dimuat dalam Kumpulan Cerita Anak Indonesia “Kata Bapak di Sungai Ada Buaya” UNSApress, Januari 2018 dan Kumpulan cerita horor, Antologi Pemenang LMCBUA #7 “Tentang Sesuatu Yang Akan Dikembalikan Pada Asalnya” Penerbit WR, Desember 2017. Linda dapat dihubungi pada FB: Linda Wati, Instagram lin_tanjung,
Bila Ibu Guru Menulis Puisi

Oleh Ragdi F. Daye
(Ketua FLP Sumbar; penulis buku kumpulan puisi
Esok yang Selalu Kemarin)
Mereka yang bersinar bisa kehilangan cahaya
Mereka yang berbudi bisa kehilangan nurani
Mereka yang berbakat bisa kehilangan adab
Mereka yang berani bisa jadi mati suri
Ada alasan mengapa orang menaruh minat pada kesenian. Kesenian adalah manifestasi keindahan, bisa dalam bentuk seni lukis, seni musik, seni tari, kriya, ataupun sastra. Keindahan adalah bagian dari keistimewaan makhluk hidup berjenis manusia. Orang mendekati seni biasanya didorong oleh motif untuk menyenangkan hati, menghibur diri. Pleasure principle, kata Freud. Kebutuhan untuk memuaskan diri.
Menurut Inderasari (2017), puisi tidak hanya dimaknai sebagai karya seni keindahan yang menggunakan medium bahasa sebagai perantaranya untuk memberikan keindahan pada masyarakat, namun juga digunakan sebagai sarana untuk mengutarakan gagasan sesuai bentuk ungkapan perasaan penyair. Wahyuni (2017) menyatakan bahwa puisi terbentuk dari unsur-unsur yang saling berkaitan dan membentuk makna atau pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat. Tidak menutup kemungkinan bahwa tujuan puisi salah satunya memang digunakan untuk menyindir, mengkritik atau bahkan bisa digunakan untuk menjatuhkan orang lain. Salah satu tujuan diciptakannya puisi dalam situasi politik yang sedang terjadi saat ini adalah untuk menunjukkan kebenaran.
Ketika seorang guru bahasa Indonesia menjatuhkan pilihan untuk melakukan praktik menulis karya sastra di antara kesibukannya sebagai seorang pengajar yang dituntut dengan seperangkat dokumen administrasi, kita dapat menemukan semangat dan kecintaan yang kuat. Sebagian guru bahasa lebih cenderung hanya menjalankan tugas mengajarkan sastra kepada murid-murid, menyuruh siswa mencintai sastra, mengapresiasi, namun tidak mencoba meluangkan lebih banyak waktu untuk membaca banyak karya sastra dan mengarang tulisan.
Penulis yang karyanya terpilih untuk tampil di rubrik Kreatika Minggu ini adalah Linda Tanjung, seorang guru pelajaran bahasa Indonesia di Kota Payakumbuh yang telah dua puluh tahun berkecimpung di dunia sekolah dan terus menulis. Tidak hanya puisi, Bu Guru Linda juga menulis cerpen, novel, artikel, dan esai-esai pengasuhan anak (parenting). Mengajar dengan segala macam teori yang harus dipedomani dan menulis karya fiksi dengan membebaskan imajinasi tentu dua aktivitas yang berbeda, seperti dua kutub yang terpisah. Namun bisa padu seperti yang dilakukan oleh Mr. Keating dalam film lawas Dead Poets Society yang diperankan dengan sangat memukau oleh aktor Robin Williams, “O, Captain, my Captain!” serunya saat mengajarkan puisi dengan berdiri di atas meja guru di kelas.
Sisi kreatif seorang guru dapat dikembangkan dengan ikut mencoba menulis bersamaan dengan latihan yang dikerjakan siswa. Saat guru menyampaikan intruksi, “Coba buat sebuah puisi sepanjang satu halaman dengan tema Nasionalisme dan jangan lupa memperhatikan diksi, majas, rima, dan metafora!”, seorang guru juga duduk merenung sambil menuangkan pikirannya ke selembar kertas. Tentu menjadi pengalaman belajar yang sangat mengesankan.
Contohnya puisi ini, Bila orang teriak Pancasila?/Saat Negara terguncang keseragaman/Ketakutan akan kebenaran/Ketakutan akan kedok keniscayaan, terkuak// Duarrr!!!/ Orang pun berujar, semua Pancasila!!!/ Demi NKRI Berjaya/ …. //Apa itu BOM? /Bersedia mati/ Orang tak tahu kami tak bersaksi /Mati ujung tombak hakiki menakut-nakuti negeri /Mungkinkah pengorbanan jadi arti kesucian. Sepertinya, puisi-puisi Ibu Linda ini ditulis berdekatan dengan waktu mengajar. Kobaran semangatnya begitu terasa dengan kata-kata yang lugas.
Gaya bahasa penyair ini cenderung penuh energi meluap-luap. Kritis. Gagasan dan perasaan diungkapkan dengan pilihan kata denotatif dalam bentuk pernyataan-pernyataan yang dapat disuarakan dengan lantang. Bahkan untuk tema yang murung tentang kehilangan pun diungkapkan tanpa emosi yang beriba hati. Seperti larik-larik ini:
Bundo teriris miris/Sedih bertambah pedih//Siapa penjaga nagari/Jika muda tak paham arti/Makna antara adat yang bersandi/Dengan Syara’ sebagai sandaran yang ada bukti/Sebagai panduan gunakan kitab Illahi//Bundo menangis lirih/Baju kuruang telah hilang/Tangkuluak tak terselempangkan/Guntiang chino mulai jarang/Kemana adat akan bersandar/Jika yang muda tak pernah sadar.
Banyak orang yang bicara ke sana-ke mari bahwa dia ingin menjadi penulis, ingin menerbitkan buku, dan meraih predikat best seller. Namun, dia masih menunggu-nunggu momen paling tepat untuk menuliskan masterpiece-nya. Padahal, untuk menjadi penulis tak ada jurus paling sakti selain mulailah menulis! Persoalan tata penulisan, pilihan kata, gaya bahasa, dan lainnya nanti dapat dibenahi. Proses kreatif menulis adalah perjalanan panjang yang berkelanjutan. Mulai saja dari satu baris , dua baris, dan seterusnya.
Seperti yang telah dilakukan oleh Ibu Guru Linda ini. Salut!
Catatan:
Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.

Tinggalkan Balasan