Puisi-puisi Linda Tanjung dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

BOM

Bila orang teriak Pancasila?

Saat Negara terguncang keseragaman

Ketakutan akan kebenaran

Ketakutan akan kedok keniscayaan, terkuak

 

Duarrr!!!

Orang pun berujar, semua Pancasila!!!

Demi NKRI Berjaya

BOM sebagai penanda yang tak berPancasila

Sila kedua yang terurai antara serpihan daging, darah

Kemanusiaan yang beradab hilang atas nama

BOM

Apa itu BOM?

Bersedia mati

Orang tak tahu kami tak bersaksi

Mati ujung tombak hakiki menakut-nakuti negeri

Mungkinkah  pengorbanan jadi arti kesucian

Bukankah syurga menjelang

Demi jihad kebablasan

Tak punya akal kemanusiaan

 

 CERITA AKHIR TAHUN

 

Suasana akhir tahun disambut dengan perhelatan di iklan-iklan televisi

Perlombaan berbagai macam potongan harga di pusat belanja

Semua berlomba menyerbu mall-mall ceria

Petasan,

Kembang api

Terompet

Bakar-bakaran

Sudahlah itu biasa

Yang tidak biasa

Saat kau tidak tidur

Di kasur empukmu lagi

Berada di antara puing reruntuhan

 

Masihkah tahun barumu mengejar diskon di plaza

Masihkah tahun barumu berkeliaran di jalanan dengan hura-hara

Sedangkan saudaramu berduka dalam bencana

Cerita tahun barumu tak ada guna karena kau tak sadar juga

Mungkin sampai ajalmu menjelma

Baru kau tertawa dalam nisan yang bahagia

 

AKU vs DIA

 

Aku rusuh

gaduh

acuh

musuh

Dia baik

Pelik

Asyik

Tapi bau taik

Mukanya dua

Jiwanya dusta

Semua jadi durjana

Aku terpedaya

Aku rasa

Aku punya

Berdosa

Aku tak bersuara

Aku diam seribu bahasa

Durjana merajalela

Hingga aku benar jadi musuh nyata

Kata tiada guna

Maka berani penjawab tantangannya

Meski harus tak ada untungnya

 

Ah, Sudahlah!

 

Mereka  yang bersinar bisa kehilangan cahaya

Mereka yang berbudi bisa kehilangan nurani

Mereka yang berbakat bisa kehilangan adab

Mereka yang berani bisa jadi mati suri

Semua karena tahta

Semua karena cinta

Semua karena kuasa

Semua karena wanita

Semua karena harta

Semua karena dunia

Padahal maya adanya

Nurani lari dari hati

Jiwa lari dari rasa

Raga lari dari tenaga

Akal lari entah kemana

Siapa yang selamatkan bangsa

Bila pengkhianat bertahta

Tunggak dunia saja

Demi diri semata

 

KISAH USANG

 

Semarak rumah gadang

Warna merah, kuning, hitam

Marawa gagah sepanjang jalan

Penghulu datang menjelang

Bundo kanduang si birang tulang

Terpaku menatap alek nan gadang

Sambil bertanya pada malam

Kapan si bujang akan pulang

Dari rantau untuk jadi dubalang

Sedang kampung tak pernah dijelang

Kuasa orang yang punya tuan gadang

Bundo teriris miris

Sedih bertambah pedih

Siapa penjaga nagari

Jika muda tak paham arti

Makna antara adat yang bersandi

Dengan Syara’ sebagai sandaran yang ada bukti

Sebagai panduan gunakan kitab Illahi

Bundo menangis lirih

Baju kuruang telah hilang

Tangkuluak tak terselempangkan

Guntiang chino mulai jarang

Kemana adat akan bersandar

Jika yang muda tak pernah sadar

 

Tentang Penulis

kreatikaLinda Tanjung adalah nama pena Lindawati, guru di SMP Islam Raudhatul Jannah Payakumbuh.  Ia lahir di Medan pada 14 Januari dan berdomisili di Kota Payakumbuh. Ibu empat orang putra-putri ini berbahagia, bercengkrama bersama anak-anak. Anak-anak adalah dunianya dan membuat mereka mau menulis adalah mimpi-mimpinya. Tulisannya dimuat dalam Kumpulan Cerita Anak Indonesia “Kata Bapak di Sungai Ada Buaya” UNSApress, Januari 2018 dan Kumpulan cerita horor, Antologi Pemenang LMCBUA #7 “Tentang Sesuatu Yang Akan Dikembalikan Pada Asalnya” Penerbit WR, Desember 2017. Linda dapat dihubungi pada FB: Linda Wati, Instagram lin_tanjung,

 


 

Bila Ibu Guru Menulis Puisi

 

Ragdi F. Daye
Oleh Ragdi F. Daye
(Ketua FLP Sumbar; penulis buku kumpulan puisi
Esok yang Selalu Kemarin)

 

Mereka  yang bersinar bisa kehilangan cahaya

Mereka yang berbudi bisa kehilangan nurani

Mereka yang berbakat bisa kehilangan adab

Mereka yang berani bisa jadi mati suri

Ada alasan mengapa orang menaruh minat pada kesenian. Kesenian adalah manifestasi keindahan, bisa dalam bentuk seni lukis, seni musik, seni tari, kriya, ataupun sastra. Keindahan adalah bagian dari keistimewaan makhluk hidup berjenis manusia. Orang mendekati seni biasanya didorong oleh motif untuk menyenangkan hati, menghibur diri. Pleasure principle, kata Freud. Kebutuhan untuk memuaskan diri.

Menurut Inderasari (2017), puisi tidak hanya dimaknai sebagai karya seni keindahan yang menggunakan medium bahasa sebagai perantaranya untuk memberikan keindahan pada masyarakat, namun juga digunakan sebagai sarana untuk mengutarakan gagasan sesuai bentuk ungkapan perasaan penyair. Wahyuni (2017) menyatakan bahwa puisi terbentuk dari unsur-unsur yang saling berkaitan dan membentuk makna atau pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat. Tidak menutup kemungkinan bahwa tujuan puisi salah satunya memang digunakan untuk menyindir, mengkritik atau bahkan bisa digunakan untuk menjatuhkan orang lain. Salah satu tujuan diciptakannya puisi dalam situasi politik yang sedang terjadi saat ini adalah untuk menunjukkan kebenaran.

Ketika seorang guru bahasa Indonesia menjatuhkan pilihan untuk melakukan praktik menulis karya sastra di antara kesibukannya sebagai seorang pengajar yang dituntut dengan seperangkat dokumen administrasi, kita dapat menemukan semangat dan kecintaan yang kuat. Sebagian guru bahasa lebih cenderung hanya menjalankan tugas mengajarkan sastra kepada murid-murid, menyuruh siswa mencintai sastra, mengapresiasi, namun tidak mencoba meluangkan lebih banyak waktu untuk membaca banyak karya sastra dan mengarang tulisan.

Penulis yang karyanya terpilih untuk tampil di rubrik Kreatika Minggu ini adalah Linda Tanjung, seorang guru pelajaran bahasa Indonesia di Kota Payakumbuh yang telah dua puluh tahun berkecimpung di dunia sekolah dan terus menulis. Tidak hanya puisi, Bu Guru Linda juga menulis cerpen, novel, artikel, dan esai-esai pengasuhan anak (parenting). Mengajar dengan segala macam teori yang harus dipedomani dan menulis karya fiksi dengan membebaskan imajinasi tentu dua aktivitas yang berbeda, seperti dua kutub yang terpisah. Namun bisa padu seperti yang dilakukan oleh Mr. Keating dalam film lawas Dead Poets Society yang diperankan dengan sangat memukau oleh aktor Robin Williams, “O, Captain, my Captain!” serunya saat mengajarkan puisi dengan berdiri di atas meja guru di kelas.

Sisi kreatif seorang guru dapat dikembangkan dengan ikut mencoba menulis bersamaan dengan latihan yang dikerjakan siswa. Saat guru menyampaikan intruksi, “Coba buat sebuah puisi sepanjang satu halaman dengan tema Nasionalisme dan jangan lupa memperhatikan diksi, majas, rima, dan metafora!”, seorang guru juga duduk merenung sambil menuangkan pikirannya ke selembar kertas. Tentu menjadi pengalaman belajar yang sangat mengesankan.

Contohnya puisi ini, Bila orang teriak Pancasila?/Saat Negara terguncang keseragaman/Ketakutan akan kebenaran/Ketakutan akan kedok keniscayaan, terkuak// Duarrr!!!/ Orang pun berujar, semua Pancasila!!!/ Demi NKRI Berjaya/ …. //Apa itu BOM? /Bersedia mati/ Orang tak tahu kami tak bersaksi /Mati ujung tombak hakiki menakut-nakuti negeri /Mungkinkah  pengorbanan jadi arti kesucian. Sepertinya, puisi-puisi Ibu Linda ini ditulis berdekatan dengan waktu mengajar. Kobaran semangatnya begitu terasa dengan kata-kata yang lugas.

Gaya bahasa penyair ini cenderung penuh energi meluap-luap. Kritis. Gagasan dan perasaan diungkapkan dengan pilihan kata denotatif dalam bentuk pernyataan-pernyataan yang dapat disuarakan dengan lantang. Bahkan untuk tema yang murung tentang kehilangan pun diungkapkan tanpa emosi yang beriba hati.  Seperti larik-larik ini:

Bundo teriris miris/Sedih bertambah pedih//Siapa penjaga nagari/Jika muda tak paham arti/Makna antara adat yang bersandi/Dengan Syara’ sebagai sandaran yang ada bukti/Sebagai panduan gunakan kitab Illahi//Bundo menangis lirih/Baju kuruang telah hilang/Tangkuluak tak terselempangkan/Guntiang chino mulai jarang/Kemana adat akan bersandar/Jika yang muda tak pernah sadar.

Banyak orang yang bicara ke sana-ke mari bahwa dia ingin menjadi penulis, ingin menerbitkan buku, dan meraih predikat best seller. Namun, dia masih menunggu-nunggu momen paling tepat untuk menuliskan masterpiece-nya. Padahal, untuk menjadi penulis tak ada jurus paling sakti selain mulailah menulis! Persoalan tata penulisan, pilihan kata, gaya bahasa, dan lainnya nanti dapat dibenahi. Proses kreatif menulis adalah perjalanan panjang yang berkelanjutan. Mulai saja dari satu baris , dua baris, dan seterusnya.

Seperti yang telah dilakukan oleh Ibu Guru Linda ini. Salut!

Catatan:

Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *