Puisi-puisi Lulu Fahkrunisa

SI NONA

Saat sunyi menerpa, menyapa

Tapak-tapak kecil mulai riuh, menghentak-hentak,

mencoba membangunkan dunia

Sesekali gelak tawa mengiringi bait-bait debu

yang turut menerpa sang gadis-gadis manja

Bunyi kerincing pun tak khayal menambah

keramaian di sudut asrama tua

 

Di depan sana, si nona terpana menatap hampa

Mungkin berkhayal untuk kembali ke waktu muda,

yang tak kenal dengan pedihnya dunia

Oh coba lihat, rupanya si gadis manja

di ujung sana, melihat si nona yang sedang terpana

Seketika, mereka berbaris rapi

sembari tertawa dan bertanya,

“Wahai Nona, apa yang membuatmu terpana?”

Si nona hanya terdiam dalam,

namun bukan dengan hampa

Dipikirnya “Duh riangnya dunia karena para gadis manja.”

Sesekali si gadis manja melambai

dan tersenyum sapa kepada si nona

Bisa jadi berharap untuk dapat bermain bersama

Namun,

Di ujung sana,

Si nona tersunyum dengan sejuta tanya

Takut-takut nanti ada yang terpana juga,

melihat si nona ikut bermain bersama

 

Lambaian tangan kecil ke arah si nona

cukup menambah bahagia di raga

Seandainya saja waktu dapat bergerak cepat

Takkan didapat pilu yang kian pekat

 

SI TUAN

Senyumnya telah dimiliki sang malam

Yang membuat patah hati teramat dalam

Dulu, tak pernah sedikit pun terpana

pada si garis bulan di wajah tuan

Yang terlukis cukup tenteram

Bahkan, tak berani untuk sekedar menatap dalam

 

Ada saat di mana si topeng menutupi

garis bulan di wajah tuan

Yang membuatku terjerat dan mencari

di mana si garis itu tertelan

Malam-malam rindu kian hinggap menjelma dalam

Membuat sakit kian melekat

Bahkan enggan untuk berangkat

 

Hingga suatu hari, diri ini berani untuk menerka dalam

Apakah si pemilik garis bulan telah pulang?

Namun tak pernah terdengar jawabnya tenteram

Hingga sang diri mencoba mengiba pada langit malam

“Wahai langit, sampaikan pada sang pencipta,

tolong patahkan rasa di dalam dada hingga

hancur tak tersisa.”

 

Tapi entah kenapa. Semakin lama, rasa di dada semakin meronta

Tak bisa hilang dengan segala cara

Akhirnya, sang diri kembali mengadu kepada Sang Pencipta

Agar dipertemukan dengan si tuan garis bulan

 

Riuhnya pagi berlari berganti menjadi sunyinya malam

Menambah syahdu perbincangan dengan Sang Pemilik seluruh alam

Malu-malu, sang diri bertanya tentang hal yang tak terduga

yang sering datang dan juga hilang

 

Hingga akhirnya didapat sedikit terang

Mengenai si tuan dengan senyum bulan

Malam membisikkan, katanya si tuan adalah penikmat kopi hitam di kala senja

Lagi, kutemui Sang Pemilik alam di tengah malam

Tentu saja untuk memintasi tuan yang tak sedikit pun beranjak di dalam angan

 

Oh satu lagi kata si malam

Si tuan pernah berkata,

Jika si pahit adalah si manis yang menyamar dan mencoba memberikan arti kehidupan

Wahai malam, tak maukah kau memberi si tuan senyum bulan pada diri yang selalu

merindukannya?

 

RUANG HAMPA

Lembar hitam kusam tak berwarna

Menunggu di sudut ruang sana

Di antara rak-rak buku yang bertengger gagah dan terdiam terpana

Di sana, di tunggunyan tangan hangat untuk menjamah selamanya

Menunggu tangan yang tepat untuk datang dan memberi warna

 

Diliriknya lagi beberapa tumpukan buku di sana

Sudah datang tuan yang menjaganya

Namun,

Di ruang hampa, si lembar hitam dengan sabar menanti siapa

Siapa yang akan memberi warna pada kulitnya

Ica Fahkrunisa atau Lulu Fahkrunisa lahir di Kerinci, 24 Maret 1995. Ia merupakan lulusan Universitas Andalas dan Central Luzon State University; Language and Literature.  Ia dapat dihubungi melalui: ica.lulufahkrunisa@gmail.com. Facebook: Lulu Fahkrunisa, Instagram: Lulu Fahkrunisa Hardi, Twitter:Lulu Fahkrunisa

 

 

 

 

 

 

 


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *