Sinamar
Di sinilah aku sekarang, menghanyutkan
belulang sendiri dalam aliran sunyi yang datang dari hulu
Sementara rindu yang terkemas malam
hanyut sejauh nanar, telah bertemukah ia dengan muara dan memadu kasih
dengan laut?
Riak yang keruh, selalu saja setia menggerus bibir-bibir tebing pasi
bersedekap demi anak-anak nasib yang menggembalakan kerbau,
sapi dan kambing di atasnya.
Aih, lihatlah, ada saja cerita yang hanyut lagi
tentang senja-senja yang berlalu tanpa suara
Sedang wajah-wajah lugu begitu saja membangun istana pasir,
mengubur duka di dalamnya.
Dan, seperti arus itu, muaranya ke dada
Hingga saat Sinamar mengalir mencari muara, tepian manakah yang tak terkikis?
Perjalanan Pagi
Selepas jembatan itu, kucatatkan perjalanan
pada jemari daun pucuak ubi. Sedang gigil
Gunuang Bungsu masih terselip
di dangau-dangau tua. Lalu semua berulang,
tentang pagi yang terlalu naif
Oho, jangan pernah tanyakan lagi
dimana aku merunut sulur yang terlalu tak berpangkal. Dan cerita
yang tinggal belulang telah hanyut di riak yang datang dari jauh.
Adakah ia sampai di berandamu?
Kelak, jika kau mencariku, temukan aku di tepi pagi,
selepas jembatan itu tentunya. Atau,
bacalah catatanku pada jemari daun pucuak ubi,
barangkali pada saat itu aku tak lagi
menemukan jalan pulang
Mata Laut
Menatap matamu; engkau adalah laut
mengurai cerita-cerita muara tentang pertemuan
yang hanyut dari jauh.
Kukira, rindu akan subur pada lembayung yang kau tiriskan dari senyummu
Kuinsyafi ombak, serupa nyanyian mandeh
melelapkan anak-anak nasib yang pulas dalam pelukan
Adakah yang lebih surga dari itu?
Dan, aku adalah karang yang bersitetap mengeja senja,
menjadi saksi rayuan ombak pada pantai yang tak berkesudahan
Hingga, pada waktu yang terlalu entah, aku adalah
karang yang berdebar saat menatap laut; matamu
Biodata Penulis:
M. Adioska, lahir di Taeh, Kab. Lima Puluh Kota, tanggal 8 Mei 1985. Menyelesaikan pendidikan sarjana di Sastra Inggris Universitas Andalas, Padang, Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Terbuka, dan Pascasarjana Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Padang. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi cerpen Jemari Laurin (Balai Bahasa Padang, 2007) dan Setangkai Bunga Lilin dari Sebening Cinta Ibu (Sedaun Publishing, 2012). Beberapa karyanya juga pernah memenangkan sayembara penulisan cerpen. Artikel, cerpen, dan puisinya pernah dimuat dibeberapa media, seperti Padang Ekspres, Singgalang, dan Haluan. Sekarang aktif mengajar di SDN 06 Pulai Anak Air, Bukittinggi. Alamat tetap: adioska@gmail.com.
Menghanyutkan Gulana di Aliran Sinamar

Oleh Ragdi F. Daye
(Penulis Buku Kumpulan puisi Esok yang Selalu Kemarin)
Dan, aku adalah karang yang bersitetap mengeja
senja, menjadi saksi rayuan ombak pada pantai yang tak berkesudahan
Hingga, pada waktu yang terlalu entah, aku adalah
karang yang berdebar saat menatap laut; matamu.
Membaca puisi adalah sebuah aktivitas yang melenakan, membawa jiwa melayang bersama imajinasi yang tak terbatas ruang dan waktu. Membaca puisi membuat kita seolah kembali mengalami peristiwa yang pernah terjadi atau yang masih berupa kemungkinan di masa depan; merasakan keperihan lama, kegundahan yang telah padam, atau kesyahduan yang membuat jiwa terbuai dalam kebahagiaan. Daya magis puisi seperti alunan musik, dapat memberi rangsangan kreatif pada diri pembaca.
Oleh karena itu, memang perlu waktu khusus untuk membaca puisi agar dapat pengalaman nikmat. Para penggila puisi biasanya akan menyentuh puisi ditemani secangkir kopi hitam di pojok kedai yang ikonik dengan iringan musik akustik yang tidak berisik, saat hujan turun rintik-rintik. Namun, tentu saja segelas kopi bukanlah prasyarat untuk menikmati puisi, apalagi hujan yang turun rintik-rintik. Cukup suasana khusuk yang membuka jalan dialog antara mata pikiran dan teks. Sebagian puisi memang enak dibaca keras-keras atau dinyanyikan. Sebagian yang lain lebih sedap dibaca seorang diri dalam keheningan yang privat sehingga dapat dengan bebas leluasa bercengkerama dengannya. Momen ”me time” dalam istilah kekinian. Waktu untuk diri sendiri. Hal ini juga dibutuhkan oleh seorang penyair ketika menuangkan isi pikirannya ke dalam baris demi baris puisi.
Begitu pula dengan tiga buah puisi yang menghiasi Kreatika edisi kali ini yang ditulis oleh M. Adioska. Ada “Sinamar”, “Perjalanan Pagi”, dan “Mata Laut”. Puisi pertama memiliki magnet kuat yang menarik pembaca ke suasana liris: “Di sinilah aku sekarang, menghanyutkan/ belulang sendiri dalam aliran sunyi yang datang dari hulu/ Sementara rindu yang terkemas malam/ hanyut sejauh nanar, telah bertemukah ia dengan muara dan memadu kasih/ dengan laut?”
Culler (1975) mengungkapkan bahwa enjambement, rima, dan pola bunyi menyebabkan puisi tidak sekadar sebagai teks personal penyair tetapi impersonal karena “aku”, “kamu”, atau “dia” dalam teks merupakan konstruksi puitik. Pada penggalan awal puisi “Sinamar” kita bertemu dengan sosok “aku” yang menghanyutkan belulang sendiri ke aliran sunyi dari hulu. Frasa ‘belulang sendiri’ dapat diartikan sebagai tumpuan atau kekuatan; sedangkan ‘aliran sunyi’ di baris ini mengacu ke sungai Batang Sinamar yang mengalir ke hilir; sungai yang mengalir ke hilir atau muara merupakan perumpamaan dari kehidupan yang dinamis. Bait yang syahdu ini mengungkapkan kepasrahan (‘hanyut’) atau keberserahdirian untuk menerima realitas kehidupan, seperti takdir yang diterima dengan lapang dada.
Bila membaca lanjutan dari bait tersebut, “Riak yang keruh, selalu saja setia menggerus bibir-bibir tebing pasi/ bersedekap demi anak-anak nasib yang menggembalakan kerbau,/ sapi dan kambing di atasnya.” Baris ini memberi gambaran tentang kondisi geografis sungai yang secara fisikal mengalami masalah abrasi tetapi tetap memberi kehidupan bagi alam sekitarnya. Sungai yang menjadi wadah penampung air sangat bermanfaat bagi makhluk hidup di sekitarnya, menjadi sumber pengairan, konsumsi minum ternak, dan menyuburkan tanaman-tanaman. Namun, ada ‘riak keruh’ yang ‘menggerus bibir-bibir tebing’ menyiratkan ancaman bahaya yang merusak sungai. Tergerusnya bibir sungai sering terjadi karena pengerukan pasir dan material batuan, di samping karena penebangan hutan yang memicu erosi. Secara simbolis, riak keruh yang menggerus tebing dapat dihubungkan pada aneka persoalan hidup yang mengancam perjalanan takdir si “aku” lirik.
Bait ketiga dan keempat adalah muara kegundahan “aku”. Kesadaran tentang perjalanan kehidupan yang penuh cerita, baik yang termaknai maupun tidak, namun tetap memberi efek sentakan ke jantung. Segala suka dan duka yang bergulir dan mengalir akan berpengaruh pada karakter individu, mengubah sikap dan perilaku, seperti air besar yang memindahkan tepian, “Aih, lihatlah, ada saja cerita yang hanyut lagi/ tentang senja-senja yang berlalu tanpa suara/ Sedang wajah-wajah lugu begitu saja membangun istana pasir,/ mengubur duka di dalamnya./ Dan, seperti arus itu, muaranya ke dada// Hingga saat Sinamar mengalir mencari muara, tepian manakah yang tak terkikis?” Pertanyaan retoris yang menutup puisi menjadi semacam penekanan bahwa takdir tak luput dari hal-hal yang menyakitkan, tetapi mesti diterima sebagai harmoni. Kita tetap perlu optimistis dan bersikap positif menghadapi rintangan dan ujian hidup.
Lebih lanjut, Culler (1975) menyatakan penempatan situasi teks sebagai momen epifani membantu kita untuk memberikan jarak referensi teks dengan referensi umum. Momen epifani memberi suasana cerah atau riang. Ambiguitas dan bentuk-bentuk kerancuan atau penyimpangan di dalam teks haruslah terlebih dulu dianggap sebagai sebuah kebenaran, dengan begitu akan didapat objek atau situasi tertentu yang menjadi fokus puisi. Pengetahuan akan situasi atau objek fokus ini membantu kita untuk mentransformasi konten yang hadir kepada institusi yang lebih general. Hal ini tentu berada pada tataran pembentukan imaji puisi dalam pikiran pembaca.
Dua puisi berikutnya juga bernuansa gulana. “Selepas jembatan itu, kucatatkan perjalanan/ pada jemari daun pucuak ubi. Sedang gigil/ Gunuang Bungsu masih terselip/ di dangau-dangau tua. Lalu semua berulang,/ tentang pagi yang terlalu naif” (“Pertemuan Pagi”). “Menatap matamu; engkau adalah laut/ mengurai cerita-cerita muara tentang pertemuan/ yang hanyut dari jauh./ Kukira, rindu akan subur pada lembayung yang kau tiriskan dari senyummu” Adioska menggunakan diksi-diksi yang berhubungan dengan gerak, seperti ‘perjalanan’, ‘hanyut’, ‘alir’, ‘berulang’, dan ‘datang’ yang ditingkahi diksi diam, seperti ‘sunyi’ dan ‘karang’ membuat puisi-puisinya seperti menyuarakan sesuatu yang diam-diam bergejolak di balik ketenangan. Sesuatu yang buncah pada momen “me time”.[]
Catatan:
Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.

Tinggalkan Balasan