Penjara Tepian Pit Gempa
Izinkan aku memasukimu
akan kurenangi segala pilu yang tersemat
pada jantung yang kian jingga warnanya
mengalir deras pada nadi, melilit sansai itu
Meski tak segalanya dapat kuarungi
di sana akan kubangun sebuah menara
dengan teropong menghadap ke selatan daya
menyorot sepi beralun pasang
Sebelum tiba ke sini
menyingkap tirai bersulam bintang
dengan renda-renda limbubu
menjelma layar terkembang pada kapal tak bercadik
Izinkan aku melayarimu
maka sansai menjelma kehidupan dari kematian
antara yang terempas karang dan yang tenggelam bersama pelampung
saat laut ialah igau tangis mengisak dan sesak di dada akan terdampar ke penjara tepian
Pariaman, 2020
Rasian Pit Gempa
Sebuah perkenalan dini hari
ialah angin yang mendesau di tepi kolam
lidah api suluh togok bergoyang-goyang
dan cerita petang ditelan sunyi
Pada jalan berkerikil, setiap hari kulalui
bansi kawan pemutus tali-tali sunyi
yang bergelantungan dan sulam-bersulam di pelupuk kepala
rasian bertandang silih berganti
Tentang anjing malam hilang pagi
tentang ayam jantan berkokok tinggi hari
tentang sapi betina diperkosa anak sendiri
dan tentang kerbau kehilangan runcing tanduknya
Di sudut paling subuh
segelintir tampuk awan bertengger dalam kabut
menyentakkan pekatnya di bawah bulan
di sini tak jua ada yang singgah
Sementara banyak kelelawar kian berdatangan
memasuki telinga
merayap ke pangkal ubun-ubun
bergelantungan di urat-urat saraf
Pariaman, 2020
Kalimat Terakhir Pit Gempa
Seperti katamu yang terlontar di bibir rengkah itu
bunga sakura akan berguguran musim ini
gemersiknya terdengar ke jauh jalan
dan tak ada yang mekar selain percumbuan rindu
Bagai mengembang dari kuncupnya
telah siap untuk dipanen
senantiasa tabah saban hari
menggenggam dan mengepal potret lama
Kau bingkai setangkai aroma pagi
dari embun yang jatuh pada tampuk harap
dan dingin bercerita tentang angin mendayu
mengibas ke guratan luka pada cermin tua
Akulah anjing yang hilang malam
saat hampa menghamba pada kita
dan tiga bilangan dari jam yang berdetak
telah kita padamkan dari detik kalimat terakhir
Pariaman, 2020
Seperti Tahun Lalu
Di teras malam kebisingan kota begitu mengusik
kendaraan berlalu-lalang tiap sebentar
ada yang datang singgah pelepas canggung perkampungan
dan ada yang bertandang ingin mendekap malam seutuhnya
Sementara di meja ini robusta memahit di lambung
memuncak di kepala
kabar tak kunjung datang
perjumpaan di bulan September
Kuhitung dalam bayang laju langkahmu
kian memberat di kaki yang bertuliskan angka maya ribuan kilo
kau usung mantel hujan di bawah kerutan awan
tengadah kota hendak tiris dan mengiris
Seperti tahun lalu
ia berwajah oval menari di beranda kamar
sembari memetik cemas pada ranum
buah bibir terlanjur membusuk diperam hari
Pariaman, 2020
Seorang Pit Gempa
Sedari tadi timur melepaskan kabar
tentang bunga kamboja yang kau cangkokkan di dada
kau kata ingin bermekar ketika sore serupa darah purnama
dan hilalang telah menjadi padang pasir
Batu-batu tua bertuliskan huruf-huruf baru
tinta spidol melekat dengan rapi
berjuta kesah kembali pada kisah-kisah tua
mengenang kengerian mengenggam sepi
Penjajah hari kosa menuai kata
diri menanti luka
dari duri yang menancap tajam di mata satu telinga enam bibir
mencari buruan dalam lipatan dunia
Kabar tak terbendung
tak menemu kawan
pada bibir penelan canggung
di gelas kaca berisikan tinggam seekor pari
Pariaman, 2020
Tentang Penulis:
Mhd. Irfan lahir di Pariaman, 26 September. Ia sedang menyelesaikan studi di Jurusan Sastra Indonesia Unand dan aktif menulis puisi, cerpen, serta esai. Tulisannya tersebar di beberapa media cetak dan elektronik dan bergiat di Bengkel Seni Tradisional Minangkabau (BSTM), Labor Penulisan Kreatif (LPK), dan Lab. Pauh 9. Senang bertingkah bodoh dan dapat disapa di email: irfanjelah@gmail.com, instagram: @muhamad_irfan2, dan wa: 085274088086.

Tinggalkan Balasan