Puisi-Puisi Mita Handayani

Ikrar pada Sang Akbar

Kutembangkan elegi pada raja malam
pada ombak yang menghantarkan buih ke tepian
pada angin yang mendekap dinginnya lautan
pada layar yang hendak berlabuh di perhentian

Sepasang netra menyisir celah cahaya
siluet membias di bibir dermaga
dua Insan membeku dalam jaga
riak memecah palung hampa

Kugurat nirmala renjana dalam darah yang berdesir
kukalamkan pada empunya takdir
asmamu selalu kurapalkan dalam
pilu titik nadir dan hela napas terakhir

Padang, 2021

 

Amorfati

Di ujung jalan bersimpang
tersaji kepelikan yang membentang
dilanda hausnya peng-usaian
dibungkus isak, tangis, dan ratapan
Aku ingin mengumpati takdir
mencaruti bisikan yang acap kali mampir
“Kau adalah hamba, barang wajar diamuk derita,”
ujar Israfil lewat terompetnya yang terampil

Bila Zeno masih dibalut atma
kupastikan ia bersabda
dalam firman kitab Stoa
“Amorfati…Amorfati…Amorfati,”
teriaknya lantang hingga menggelegar ke tudung bumi

Padang, 2021

 

Skripsi

Komplikasi yg ditimbulkan revisi skripsi
ia menyumbat laju nadi
memperlambat denyut jantung muda-mudi
mengundang lagi vertigo yang usai diterapi

Ratusan kali tersungkur
ribuan kali terbentur
satu kalam Tan Malaka yang harus
dihujam ke dada mahasiswa “Terbentur, terbentur, terbentuk”

Banyak mimpi yang sedang menanti
literan keringat yang harus dibayari
tak ada yang gratis
semua harus dikorbankan habis

Padang, 2021

 

Biodata:

Mita Handayani lahir dan besar di Talunan Maju, Solok Selatan, Sumatera Barat. Alumni Jurusan Sastra Inggris Universitas Andalas ini aktif bergiat di Komunitas Lapak Baca Pojok Harapan. Buku tunggalnya berjudul “Memories of Netherlands: My Travel Stories”. Tulisannya juga telah dimuat di beberapa media cetak dan daring.


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *