SURAT MALAM UNTUK KEKASIHKU
Betapa ngerinya,
betapa ngerinya kerlingan lampu-lampu
yang tercekik sengatan arus,
betapa ngerinya di pangkal gubuk
dan jalan tanpa ada yang lalu-lalang
menerobos sepi dalam dinginnya malam
tapi tiada apanya, kekasihku
rindu ini lebih ngeri dari tatapanku
rindu ini, kekasihku.
Jangkrik dan katak
adalah isyarat kesunyian
atau pun dari redupnya rembulan.
Wahai pujangga malam!
kusebut namanya
nama yang menyembur dari hilir hatiku
suara sebuah cinta,
untuk dik ayu, cintaku.
Bayang, 2020
TIGA KUTUKAN
I
Sudah berapa lama kau menanti,
sudah berapa banyak rindu sia-sia
tetapi semua itu adalah takdir
dalam kebat yang melilitku
hampir mati dalam mantramu.
II
Dan jarak sebagai temali
yang mengikat
dalam panjang negeri
sampai tak menemui titik pangkal.
III
Kau tengah sibuk menerka-nerka
entah kapan waktunya berakhir,
entah kapan harinya tidak menyia-nyiakan.
Bayang, 2020
SILUET PADA LANGIT ARANG
Dan kembali lagi
aku mengulanginya, kau datang pada malam gemerlap
sesudah kubayangkan kau disirami cahaya senja
yang membasahi sekujur tubuhmu
sesungguhnya kau milikku, dik!
dari ujung rambut sampai pangkal kulit kakimu
seperti rangka rembulan yang dimiliki malam,
aku mencintaimu, dik.
Bayang, 2020
DI TANAH AKU MENGUKIR NAMAMU
Dari sisa puing-puing hujan semalam
dan kelembaban dari air matamu
kutulis sebuah cinta
dari ranting-ranting patah.
Sesekali bebatuan menebat garis-garis cintaku, dik ayu
tetapi tak apa kita hanya perlu berbelok
ke Selatan, ya Selatan
karena di sana menyimpan tempat indah
untuk aku kembali menulis cintaku;
di genangan itu
yang esoknya akan diserap
oleh pagi yang dingin
hingga mendatangkan kepuasan
dalam mengukir namamu,
dan namaku, dik ayu.
Bayang, 2020
DI BELAKANG RUMAHKU
Kita akan saksikan bersama, di sini!
di negeri bekas pemandian kerbau-kerbau, Talao.
Masuklah ke rumahku kita akan berjalan
lewat pintu belakang
sebab pintu depan hanya ada aspal,
serta saksi yang menjadikan manusia sebagai mayat.
Kita ke pintu belakang saja!
di sana padang hijau tengah menantimu
kita akan berjalan di sana,
antara padi-padi dan rerumputan,
begitu jua dengan Puncak Bendera
yang bertanya-tanya akan dikau
nama yang sering kutulis
di udara, dan juga di antara daun gugur.
“Kau mencintai senja bukan?”
belakang rumahku
adalah tempat yang tepat, dik!
untuk kita bedua menyaksikan
ketika mentari padam.
Bayang, 2020
TAK AKAN AKU BIARKAN
Tak akan aku biarkan,
kau seperti sungai-sungai keruh
yang merahasiakan kumuh
serta sampah-sampah di dasar tubuhmu.
Dengarkan kekasihku!
aku mencintaimu,
kau adalah lautan yang biru dan akan tetap biru
walau kaki-kaki lumpur menjadikanmu sebagai tempat persinggahan
tetaplah asin walau jarum awan
senantiasa terus-menerus menusukmu, cintaku.
Bayang, 2020
WAJAHMU
Wajahmu adalah bias kedua paling cemerlang
yang lapuk dimakan waktu,
begitu pun halnya mentari
yang menunggu kedatangan lenyap.
Bayang, 2020
Randu Sunerta lahir di Padang dan berdomisili di Pesisir Selatan. Ia adalah mahasiswa Sastra Daerah Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas. Sekarang, ia bergiat di Rumah Baca Pelopor 19.

Tinggalkan Balasan