Jeritan Anak Jalanan
Jalanan terlalu kejam untuk pemilik mata berbinar bagai bintang
Berlalu lalang tanpa kenal rintangan
Bertemu mereka pria, wanita ataupun waria
Kekerasan seakan menjadi makanan
Setiap hari menjadi bahan perbandingan
Langkah-langkah kaki sayup bergemetaran
Termenung sendirian bila tak mendapat recehan
Setiap hari menghadapi pemalakan
Tidakkah kau mendengar kawan?
Sebuah jeritan anak kurus berbaju lusuh
Mencari tempat mengaduh, ataupun teduh
Mereka menjerit, tertatih, dan tersedu-sedu
Padang Ganting, 21 November 2020
Sebuah Ruang Penuh Siksa
Sempit, kau minta diluaskan
Kau ubah sawahku menjadi rumah megah
Menarilah mereka disana
Meneguk bir ataupun vodka
Pendek, kau minta ditinggikan
Kau ubah rumah-rumah menjadi gedung
Tinggi mencakar langit
Kau disana tertawa tak melihat ke bawah
Jasmu mengkilat bercahaya
Menyilaukan pandang aku kakek tua,
yang terjepit di antara ego penguasa
Padang Ganting, 21 November 2020
Sebagian dari Keseluruhan
Bergidik nyali kadang tak karuan
Menumpahkan rasa ataupun asa yang kau sebut apa
Satu dari dua ataupun dua dari tiga
Manis ataupun asam bukan soal rasa
Pahit dan asin hanya sebagian
Berseru lagi dia bagai bunga junjungan
Jiwa dikoyak, tuan diam
Sebentar nyala sebentar padam
Padang Ganting, 21 November 2020
Bapakku Petani
Pagi sekali Bapakku pergi mencangkul
Mencari rezeki biarpun tertatih
Bapakku penuh senyum
Bapakku pernah menangis, tersedu-sedu, pilu
Apa yang ditanam itu yang dituai kata mereka
Bapakku sudah menanam, ia pun akan menuai
Kiranya Bapakku masih menangis
Bapakku berkata “Apa yang aku persembahkan di negeri ini, pelan-pelan dicuri”
Padi yang dia tanam, tidak membuat kami kaya
Miskin masih saja, hidup begini-begini saja
Tikus-tikus di sawah Bapakku ternyata tidak seberapa
Akan tetapi luka Bapakku berasal dari mereka, tikus berdasi
Menggerogoti sampai bersih, yang apabila tertangkap masih terlihat bersih dan rapi
Tersenyum menampakkan gigi-gigi putih
Tikus-tikus di sawah Bapakku tidak ada apa-apanya tuan, sungguh.
Padang Ganting, 21 November 2020
Biodata Penulis:
Reni Putri Yanti lahir pada tanggal 06 Juni 2000. Penulis berasal dari Kecamatan Padang Ganting, Kabupaten Tanah Datar. Saat ini, ia kuliah di Universitas Andalas jurusan Administrasi Publik. Beberapa puisinya telah dimuat dalam antologi bersama yaitu “Bukan Sekadar Merdeka” dan “Jejak Merah Putihku.” Ia bisa dihubungi di ig: renyputeri_ dan email: reniputriyanti125@gmail.com
Tinggalkan Balasan