Kaba dari Laut
Seketika turun dari langit, berberita
Limbubu bernama angin, berjarak seperempat depa
dari tanah perkuburan
Tempat ia memakamkan hikayatnya
Sebab tak pandai lagi mengangkat tiang layar!
Ia takut terbawa arus. Ia cemas disapa hantu laut
Setelah pisaunya dilarikan bocah yang bermain layangan
Terkutuk! Teriaknya
Berabad kemudian,
Bocah lain menunggu angin. Limbubu bernama angin.
Berhembus dari tali pusarnya
Dan dukun pun memecahkan anatomi tubuh:
bagaimana yang harus digunting
Sebab pusarnya berpilin dari pangkal, dari Tuan, dari ibuku
Dari ibunya ibuku, yang dijadikan hadiah ketika berlayar
Perdamaian!
Di sana, rupanya, tempat para orang tua kita menanam oreng
Agar nasibmu bisa terbaca
Setelah dibaca, lalu ditulis di sebuah kertas layangan
Sebagai pengganti layar ketika melaut
Kini ia menunggu angin, hendak bertemu hantu laut
Untukbertanya, mengapa seluruh kulit dan ari-arinya
Juga digunting saat ia dilahirkan,
Ketika puting beliung datang ke kampung.
Apakah belulang dan kulitnya bisa bercerita kepada cucu-cucunya kelak,
Tentang asal mulanya yang lebam
Dan pijakannya yang kini mulai oleng
Serupa kapalnya yang merasai diambung pasang
Ah, limbubu! Habislah kau dimakan duyung.
Busan, Mei 2020.
TitikTepi
Bukankah pemaknaan datang dari luar pagar?
Bambu. Besi. Atau bonsai
Kau memotongnya
Tak terlihat lagi daun pintu
Atau gadis yang menyuruk
Dibalik tirai
Impian kita telah menguning, katanya
Seperti hilang kisah
Tapi bukankah rambutmu lebih kuning?
Bahkan tak selangsat kulitmu
Juga inai yang memudar
Maka lepaslah daun!
Saya hilang nama, ceritanya
Tepat ketika sajian disembelih
Bahkan dedaknya masih berasa
Ajaib!
Kau masih berdiri di sana
Dengan lesung pipi yang melisut
Siapa namamu yang dapat kupanggil?
Sebab kau tercabut akar
Busan, Juni 2020
Candu
Ada sendu, sengau
Sesak, bernama kabut.
Engkau yang memasukkan senyumku ke dalam mangkukmu
Kukira akan kau simpan di dalam lemari
Agar kelak siapa pun yang akan pulang
Tak akan pernah merasa lapar
Aku candu pada bayang yang kuciptakan sendiri
Aku candu pada sudut mataku
Yang menyimpan seribu kisah dalam hening
Aku candu pada ujung-ujung jariku
Yang ngilu-ngilu kuku menyentuh tubuhku
Keseluruh lekuk dan sejarahnya!
Hanya aku!
Di kandang kerbau belakang rumah,
Mangkuk itu kemudian tersimpan;
Menunggu kerbau menjadi fosil
Seperti belulangku yang sedang candu menghisap segala aroma
Benci dan rindu tersembunyi.
Busan, April 2020.
Penulis Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
dan Dosen Tamu di Busan University of Foreign Studies,
Korea Selatan

Tinggalkan Balasan