Puisi-puisi Resti Alya Putri

Jauh dari Riuh

Sepanjang hari yang sepi
Sunyi menari-nari di kepalaku
Aku terbenam dalam kesendirian
Tanpa manusia yang mengganggu

Langit membiru, angin berlari ke sana ke mari
Rumput bergoyang mendengar senandung mentari
Lalu, aku berbisik pada sehelai daun jatuh
“Inilah hidup yang kumau, jauh dari riuh.”

Balai Selasa, 29-01-2020

 

Puisi yang Lupa Kuberi Judul

Aku lupa memberi judul pada puisiku
Yang kutulis tepat pukul tiga malam
Tak apa
Aku hanya tidak bisa tidur dan berakhir bergadang
Pikiranku terlalu riuh untuk kubawa beristirahat
Jadi kupikir, menulis akan mengusir rasa bosanku
Setelah beberapa jam kuhabiskan
menghitung angka-angka di kepalaku yang bising

Sekali lagi, aku lupa menulis judul pada puisiku
Yang terlanjur kulipat dan memasukkannya ke amplop
Ah! Aku juga lupa untuk bangun
setelah Ibu mengetuk pintu kamar
dan berakhir berteriak histeris,
setelah melihatku tengah sekarat
sembari memegang amplop
berisi puisi yang lupa kuberi judul

Balai Selasa, 2020

 

Dunia Ingin Kita Menepi

Kita lupa mengistirahatkan diri
Di tengah hiruk pikuk dunia yang semakin menua
Kita abai perihal betapa hangatnya sebuah keluarga
Sebab kita terlalu asyik sendiri

Dunia ingin kita menepi
Istirahat bukan berhenti
Lebih banyak bersyukur akan nikmat selama ini
Bukan mengeluh sepanjang hari

Balai Selasa, 29 Oktober 2020

 

Kita Berhak Bahagia

Perihal kisah siapa yang paling pelik
Dan air mata siapa yang paling deras mengucur
Aku tak tahu
Yang kutahu kita hanyalah secuil
manusia yang mungkin saja sedang sial

Kita lebih sering berbagi kesedihan dan tangisan
Tawa hanyalah sebuah omong kosong yang penuh keterpura-puraan
Kita terjebak dalam kesedihan dengan kadar yang berbeda

Dan aku hanya ingin berpesan teruntuk aku, kamu atau kita
Jika bersedih kita boleh menangis,
tapi jangan larut dalam kesedihan untuk waktu yang panjang
Sebab kita juga berhak untuk bahagia

Balai Selasa, 2020

 

Kamu Adalah Satu-satunya

Kamu adalah satu-satunya
yang mau berdebat denganku tentang hal sekecil apapun
yang mau mendengarku saat yang kumau hanya ingin sekadar didengar

Kamu adalah satu-satunya
yang bersabar atas tingkah menyebalkan diriku
Namun, kamu juga satu-satunya
yang berjanji untuk tetap tinggal
namun akhirnya pergi meninggalkan

Balai Selasa, 22 Oktober 2020

 

Biodata Penulis :

Resti Alya Putri lahir 13 November 1999 dan menetap di Balai Selasa, Pesisir Selatan. Hobi menulis dan memotret. Bercita-cita menjadi seorang penulis agar tak perlu lagi memendam apa yang ia rasa. Ia bisa dijumpai di Facebook : Resti Alya Putri, Instagram : @mrphs_13, Email restyalyaputri1999@gmail.com

 


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *