Lebaran Sunyi
Malam tak lagi riuh
Gema takbir tak lagi ramai
Lengang tanpa ingin sebab
Sunyi tanpa harap
Lebaran telah sunyi
Anak-anak biasanya main petasan
Kini berdiam di rumah
Menghabiskan waktu bersama keluarga
Lebaran kini memang terasa berbeda
Terasa lengang
Terasa sunyi
Hingga riuh pun tak terdengar lagi
Karena pandemi korona
Pasaman, Mei 2020
Untuk Anak Rantau
Hari telah berganti senja
Malam menyapa
Menyonsong hati yang resah
Karena anak rantau telah
Lari dari kehidupan kampungnya
Pasaman, Mei 2020.
Menangis
Bumi menangis menampar luka
Sementara manusia menangis menciptakan luka
Pasaman, Juni 2020.
Mata Puisi
Kau begitu tajam setajam mata pisau
mengiris jari ketika memotong bawang
Mata puisi
Lewat matamu
Irisan-irisan kata tertuang ke dalam tinta pena
Sehingga pembaca berbeda pendapat
dan beradu argumen
Sungguh, mata puisi kejam daripada mata pisau
Ia tajam lewat asahan buku
Tumpul kala lembaran-lembaran kosong
tanpa tulisan tinta dari mata puisi
Pasaman, Juni 2020.
Aku Tak Bisa Bebas, Korona
Dunia memang luas seluas memandang
pandemi korona yang sedang masai
Aku yang terkurung dalam penjara
Kini bebas di alam liar
Sebab aku ialah penikmat alam yang bebas
Namun tak bisa sebebas burung mengudara
Ia bebas mengepakkan sayapnya
Bebas menikmati keindahan alam
Bebas menikmati udara segar
Sedangkan aku, bebas dari penjara
Wajib lapor 2 kali 24 jam
Berhubung korona
Pasaman, Juni 2020.
Rilen Dicki Agustin lahir di Pasaman, 10 Agustus 1999. Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia. FIB-Unand ini adalah founder Komunitas Lingkar Mentari (KLM) dan Wakil Ketua Labor Sastra dan Seni. Puisinya tergabung dalam antologi bersama Untuk Wakil Rakyat (2019), Tabung Air Anti Korona (2020), Gadis Dusun Asri (2020), dan antologi puisi tunggalnya berjudul Lupa Hormat Pada Merah Putih (2020).

Tinggalkan Balasan