Mau Menjadi Penyair atau Penguasa?
aku mencari kebahagiaan di antara kebahagiaan para
penyair yang sedang duduk menikmati kopi, menikmati luka
dengan sebatang rokok yang mengepul asap masuk dalam rongga dada
dan menyemak di kepala, semak itu ialah kumpulan kata-kata raja
dirangkai menjadi doa, jadi uang, jadi masalah yang tetap akan membawa
masalah, tak ada masa bahagia
selain meninggalkan diri sebagai penyair, pilih jadi penguasa
-penyair menangis, penguasa tertawa-
aku melihat penyair itu seperti orang gila
dengan rambut gondrong, baju ala kadarnya,
namun tak lebih gila daripada penguasa
yang berenang uang di tengah korona
padahal jadi penguasa itu sulit, tapi lebih sulit jadi penyair
sebab penguasa kerjanya hanya bersandiwara terhadap kebahagiaan
sedangkan penyair, sulit, bersandiwara dengan bahagia pun tak mampu
apalagi bersandiwara punya banyak uang
punya rumah bertingkat bak istana
sudahlah, lupakan, mana mungkin penyair bisa seperti itu
penyair tetap terluka,
tertawa di luar
di dalam sudah pasti berdarah
pantang untuk menjilat, kecuali penyair kedondong
jika disuruh memilih, mau pilih jadi penyair atau penguasa?
ketika pertanyaan itu dituju padaku, maka—
sudah pasti aku akan pilih jadi penyair,
sebab aku tak ingin membuang kotoran di atas kepala rakyat
apalagi menjadikan rakyat seperti batu, atau seperti kutu di atas kepala
tak sanggup, kalau jadi penyair, aku ingin menguasai dunia lewat kata-kata
penuh makna dan tindakan nyata
bukan tong kosong nyaring bunyinya
yang menebar janji, bersuara lantang, mengeluarkan slogan-slogan suci
di mana-mana ayatnya tak ubah seperti abu tungku yang hanyut di sungai
(Padang, 2020)
Praktik Pencoblosan
: Mengenang 9 Desember 2020
bilik suara, orang-orang masuk ke sana,
membuka dan membentangkan kertas,
menusuk gambar dengan paku atas landasan menerima uang,
menerima sekarung beras, sebungkus nasi,
dan menerima janji-janji yang dijanjikan,
ada yang suci atas dasar hati nurani
lalu jari kelingking celupkan ke tinta biru
selesai praktik pencoblosan itu, siap-siap menunggu penghitungan suara,
menunggu kertas-kertas terbakar, menunggu kabar kematian,
menunggu kubu-kubu seperti cacing kepanasan,
dan menunggu pasien masuk rumah sakit jiwa
semua akan masuk berita yang dibenarkan ataupun pembenaran
yang berkeliaran di mana-mana
bersembunyi di bawah ketiak partai,
ketiak lembaga-lembaga survei, dan tetap menjadi otoriter
o, praktik pencoblosan
sungguh praktik suci dalam kebingungan
(Padang, 2020)
Mandalika
hadiah keluar dari saku calon mandalika:
uang, nasi bungkus, kalender, masker, baliho,
dan spanduk yang bertuliskan pilihlah aku,pilihlah aku
dengan segala tetek bengek ingin juara satu
sambil bersembunyi dalam kulit harimau
dan melihat cara semut berbaris di atas kepala kerbau
mandalika o, mandalika
mana taringmu yang suci itu?
tiba-tiba setelah terpilih, taringmu itu lupa bersuci
malah menjarah uang rakyat jelata, marasai
lalu kau simpan dalam peti
ibarat gelas sudah penuh, masih dipaksa isi dengan ambisi
mandalika, duniamu semakin luas,
mata hatimu semakin sempit yang mempelihara buaya
dalam kepala
butuh berapa tahun rakyat jelata hidup bagai di neraka?
(Padang, 2020)
Buku dan Gelar
seperti mata mencintai warna,
maka seperti aku mencintai buku
ibarat jiwa dan raga
yang menyatu jadi satu
seperti tangan mencintai gerak,
maka seperti aku mencintai gelar
sarjana dengan buku-buku itu
tanpa tahu siapa
yang akan menjadi apa
olehnya
barangkali menjadi entah
yang mampu membobol kebahagiaan rakyat
sungguh moral yang miskin
-babi berkubang, anjing berenang-
buku bahan membungkam aspirasi
gelar landasan punya ilmu tinggi
dengan sagala macam aturan susu
padahal itu bentuk aturan gelap dalam saku
yang bolong, kosong melombong
-rakyat seperti kambing-kambing lepas oleh yang punya-
(Padang, 2020)
Biodata Penulis
Rilen Dicki Agustin lahir di Pasaman, 10 Agustus. Ia suka minum kopi, membaca, dan menulis puisi, cerpen, serta esai. Sekarang, ia berstatus sebagai mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas. Buku puisi tunggalnya berjudul Air Mata Rindu dalam Gelas (2020). Karya-karyanya juga terbit di berbagai media massa. Seperti; Singgalang, Haluan, Bangka Pos, Radar Cirebon, dan lain-lain. Hp/Wa: 082268977196.

Tinggalkan Balasan