kota tulang punggung kita?
di kampung
yang kita tinggal,
sepi adalah buahnya.
di kota
yang kita pijak,
kesepian adalah hasilnya.
kita telah mencintai kota
sebagai tulang punggung,
sementara anjing-anjing di kampung
mati kelaparan.
kelaparan
apakah kita pernah mengingat sepi tentang kampung?
juga tentang kelaparan para anjing-anjing itu?
atau, hanya memikirkan kesepian tentang kota
dan nasib kita sendiri?
kota yang jauh dari mimpi kita
di mana babi-babi otoriter mendobrak
lalu membunuh, kemudian berkilah.
apakah kota seperti ini yang dijadikan
tempat tulang punggung?
atau, kota seperti apa?
seperti apa?
konon, semenjak kita meninggalkan kampung
sawah telah ditanami gedung-gedung bertingkat.
apakah kampung kita telah menjadi kota pula?
kota yang idealis, individualistime, lalu babi-babi otoriter itu
semakin kaya.
kaya
tetapi, anjing-anjing itu
semakin banyak yang terjajah dan mati kelaparan.
(2021)
buku kesepian
di dalam kos
banyak hati yang sedang kesepian selepas mimpi
semua hendak menjadi kaya mendadak.
lalu, aku pergi ke toko buku
dan bertanya kepada para pelayannya.
“apakah ada yang menjual buku mengobati kesepian selepas mimpi?”
“ada. salah satunya buku tafsir mimpi,” jawab salah satu pelayan itu.
kubeli dan kuletakkan
di rak bersama buku-buku
yang sedang kesepian menunggu.
esoknya, semua kembali bercerita mimpi
ingin kaya kembali
dengan buku-buku tafsir mimpi
semua antusias bangkit dari magnet kasur.
mengotak-atik buku-buku di rak itu
mimpi dan buku tafsir telah mengobati
kesepian semua buku.
(2021)
di Malam Minggu I
di malam Minggu
rindu kita berobat ke rumah sakit, kekasih
aku semakin ganteng meninggalkan luka
sementara kau semakin cantik mengurai air mata.
(2021)
di Malam Minggu II
malam minggu,
malam kirim cinta dan seyunmu lewat
puisi untukku, ujarku.
tak dapat mengirim apa pun,
sebab kau terus chat denganku, jawabmu.
memang tak ada malam Minggu
yang romantis bagi kita
kecuali malam putus.
(2021)
di Malam Minggu III
sendik ramai dan bahagia
kepada kekasihnya masing-masing
sedangkan kita saling menanti
dan menunggu siapa yang akan menembak
terlebih dahulu.
tiba-tiba orang iseng datang menghampiri kita
lalu bertanya “pacarankah Bang dan Kak?”
jawab kita serentak, “iya.”
semenjak kata ‘iya’ diucapkan
tanpa sengaja karena jaga gengsi
pacaran pun berakhir putus
di malam minggu juga
dengan kata ‘iya” demi jaga gengsi juga.
(2021)
Adistin yang Mekar
dan Aku Hampir Layu
di hamparan senyummu
bunga asyik-asyiknya bermekaran
di dadamu, Adistin.
sedang
di hamparan senyumku ada luka yang tercabik-cabik
memikirkan wanita baru yang hanya
ada dalam angan-anganku.
di sebuah cafe yang unik, kursi dari kayu jati
kita saling menatap
beradu senyuman
tangan berpegangan
hanya untuk berbagi keriangan, dulu.
cangkirmu adalah cangkirku
piringku adalah piringmu
kita sudah serupa pasangan suami
isteri yang sah
hanya untuk berbagi keriangan.
seketika semua itu sirna
bunga mawar yang mekar
dalam dadaku layu
dan hanya mekar
di dadamu, Adistin.
sebab, aku melihatmu
duduk berdua
di cafe kursi dari kayu jati tempat biasa kita duduk .
di mana setelah piring dan cangkir kita tak lagi saling sama
perpisahan adalah akhir
sebuah pertemuan.
itulah mengapa aku
menjadi mawar yang layu
barangkali kamu menemukan yang baru, Adistin.
andai telah tamat
episode cerita cinta kita ini
aku tak lagi peduli.
Adistin menghampiriku
dalam malamku di rumah.
“perpisahan bukanlah akhir
dari sebuah percintaan,” ujarku kepada Adistin.
“aku tak menemukan yang baru. aku ingin mencintaimu
dalam keadaan apa pun itu,” jawab Adistin.
“lantas yang duduk denganmu
di sebuah cafe minggu lalu siapa?” tanyaku.
“itu adalah sepupuku.”
aku rupanya tidak benar-benar layu
hanya hampir
lalu, kita mekar bersama
untuk terus saling mencintai.
sebatas curiga
cinta tentu layu
maka berhentilah
mencintai diam-diam
bersungguh-sungguhlah
jujur dan tanyakan apa yang terjadi
bukan apa yang terlihat,
sedikit tausiah Adistin untukku.
selamat mencintai
secara terang-terangan.
(2021)
Biodata Penulis
Rilen Dicki Agustin lahir di Bangun Raya, Pasaman, Sumatera Barat, 10 Agustus; tinggal di kota Padang. Puisinya terbit di berbagai media cetak maupun media online. Buku puisi tunggalnya, Air Mata Rindu dalam Gelas (2020). Selain itu, puisinya juga termaktub di antologi puisi Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2020 dan antologi bersama lainnya. Bisa dihubungi lewat; email: rilendickiagustin12@gmail.com, WhatsApp: 0822 6897 7196, FB: Rilen Dicki Agustin, dan IG: @rilendickiagustin12.

Tinggalkan Balasan