Alkisah Remaja Belia
Di malam yang sunyi ia berpuisi
seperti biasa di balik kelambu malam
seorang remaja belia
memborong pulpen dan buku cinta ke atas kasurnya
jemarinya bergoyang
tarian salsa di atas selembar kertas
tentang riangnya gadis itu tadi pagi
dii seberang pagar.
“Mendapat dua potong senyum hangat dari pujaan adalah sarapan yang berkesan”
Mengulum harum mawar ia berkata
Hingga senja tiba
Bulan masih merona di wajahnya,
malam menerpa
Dilirik tepi jendela–puisi masih berkaca tentang manis yang menawarkan semangat usai
cahaya subuh terakhir. “Kapan esok tiba?” tanyanya
“Mungkin aku akan berbalik mengukus roti hangat untuknya nanti.
Bulan
Sampai jumpa esok malam
Kembali masuk ke kelambuku
Sambil berpuisi tentangmu
Yang cahayanya selezat sarapanku,
Senyumnya seselai madu.”
Gadis itu pun tertidur sambil memeluk pagi dalam mimpinya
Hingga keesokannya bangun,
Dinantinya di seberang pagar
Tak lagi ia temukan sarapan penantian
Berulang ia menunggu,
Semenjak hari itu– asa tiada lagi, sedang ilusi hangatnya perlahan mati
Ia mengira semua pagi bahagia
Dikulum mimpi gulita hingga ia lebih sering tertidur
Demi sebuah senyum
Disambungnya mimpi tanpa berujung
Supaya hati tak berdera murung
Aceh Utara, 2020
In Memoriam
In memoriam, Sayang
Aku tulis sajak ini di tepi taman bersisi pundakmu yang malu-malu.
Sampai waktu tiba muka kita saling bermuka satu sama lain
Cerai berai. Sebelum bokong i love you beranjak pergi meninggalkan kursi.
Kan kubuka satu in memoriam tentang waktu yang lalu.
Di mana dulu engkau jatuh cinta pada seorang pemuda yang tak pernah membawa bunga
Ia hanya memundak senapan dan peluru disulapnya kembang
“Dorr!! Dorr!!”
Engkau jatuh cinta
“Dorr!! Door!!”
In memoriam kita
“Door!! Door!!”
Will you marry me?
Engkau tahu. Burung beo bertengger di kepalamu saat itu
Engkau serahkan hatimu di antara jurang bersisi cinta dan pertempuran
Kecuraman kita kecup
Dan mengapa hari ini kita bertemu di taman?
Cerai-berai?
Hanya karena aku tak memegang senapan seperti dahulu
Atau mesiu tak lagi menakutimu untuk mencintaiku?
Mengapa?
Bukankah sudah merdeka?
Lalu kenapa cinta kita kausekap di rumah Belanda
Si mata biru itu
Mengusik kisahku dan kisahmu
Aceh Utara, 2020
Memaknai Perih
Jika puisi itu indah saat terluka
Jika bait-baitnya merdu saat merana
Maka– aku akan memilih keperihan di dalam hidup
Tapi
Untuk apa?
Munafikkan diri sendiri
Terlaknatlah hidup ini
Syukur mendengkur
Aceh Utara, 2020
Tiara Nursyita Sariza lahir tanggal 20 Juli di Kota Pekanbaru, Riau. Jejaknya siswi SMAN 2 Nisam, Aceh Utara ini bisa dilacak melalui akun Instagram @tiarasariza dan Facebook Tiara Nursyita S. Tulisannya sudah terbit dalam buku solo yang berjudul “100 Detik Berpuisi” yang diterbitkan J.Maestro

Tinggalkan Balasan