Puisi-puisi Zainur Rahman

SEBELUM  SENJA PERGI

Engkau masih merangkak dalam silaumu

Saat kisah dan kasihku sulam menjadi satu

Membekas bayang ilalang

Antara taman surga nenek moyang

 

Doa pengharapan telah berguguran

Dalam aroma napas begitu kemarau

Menguncup sajak yang engkau siram

Bermekaran di relung hati serta kerontang

 

Senja telah tiba kekasih..

Enggan kukecup keningnya

Antara bias yang menyapa

Barangkali di sanalah perihal keindahan

Yang kudekap antara gembira dan kesesalan

Berlindung pada duri kemunafikan

Sebelum senja pergi di balik kegelapan

(Pamekasan, 2019)

 

HARI-HARI PATAH

Kenapa masih ada hari Sabtu,

Sedangkan adanya aku masih saja engkau merasa ragu

Kenapa masih ada hari Ahad,

Sedangkan bertegur sapa pun engkau tak sempat

Pada hari Senin, jangan kau katakan aku ingin menghilang di sekat dingin

 

Ayolah. Karena pada hari Selasa, aku ingin kita kembali memahat rasa

Hari Rabu pun inginkan kita menjadi seperti dulu

Tapi, hari Kamis masih ingin menahan tangis

Karena pada hari Jumat terlalu banyak luka yang terlalu ritmis

(Pamekasan, 2019)

 

SETENGAH PURNAMA

Aku masih berdiri di pangkuan para imaji

Melumurkan darah untuk ranting patah

Sembari duduk memeluk malam tanpa resah

Agar bintang cemburu melihatmu yang semakin bergairah

 

Dan hanya kepada setengah purnama

Aku ingin menjelma daun yang berdansa

Di tepi sunyi serta gulita

Selalu mengalah saat engkau menampakkan cahaya

 

Redup redam senyuman hanya sesaat

Tidak menghilangkan hakikat manis yang selalu terpahat

Menerangi jalan ke arah kepastian

Ketika separuh raga menghilang di balik kegelapan

(Sumenep, 2019)

 

ABJAD RINDU

Tak sempat menggores kata di muka buku

Karena selalu terhapus oleh senyum manismu

Lalu terbang menjelma abjad memeluk awan

Seperti anak burung mencari induk yang hilang

Aku mencoba kesekian kali

Perihal catatan kaki tumbuh bersama sunyi

Menjadi irama, meriang bulu roma

Hanya bayang rindu yang berjalan di tepi pena

Entah pada celupan tinta ke berapa

Ditemukannya cinta pada rona jingga

Maka harus aku pungut dengan segera

Biar terpahat di setiap halaman tanpa jeda

 

Berbahagialah…

Namamu telah terpampang

Pada angan segersang padang

Bersusun kalimat sarat makna

Membias cahaya lalu menyelinap dalam doa

(Sumenep, 2019)

 

SEPASANG MATA DAHLIA

Waktu paling mawar

Yang merekah di taman belukar

Adalah bertemu sepasang mata

Entah apa perihal rencana

 

Akankah itu engkau Dahlia

Matamu bisa kupapas

Walaupun benang jarak

Memisahkan hati yang sedang bergejolak

 

Dahlia..

Ingin ku ambil matamu

Lalu kuletakkan dalam hati

Karena matamu tak lagi pantas dipandang

Lebih pantas menyinari hati yang gelap rasa sayang

(Prenduan, 2019)

 

Zainur Rahman lahir di Sumenep Jawa Timur. Alumnus MTs. Al-Manar Brungbung Prenduan Sumenep dan MA 1 Annuqayah Guluk-guluk Sumenep. Saat ini, ia tercatat sebagai mahasiswa aktif Fakultas Tarbiyah Prodi Tadris Bahasa Inggris di Institut Agama Islam Negeri Madura (IAIN Madura).


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *