SEBELUM SENJA PERGI
Engkau masih merangkak dalam silaumu
Saat kisah dan kasihku sulam menjadi satu
Membekas bayang ilalang
Antara taman surga nenek moyang
Doa pengharapan telah berguguran
Dalam aroma napas begitu kemarau
Menguncup sajak yang engkau siram
Bermekaran di relung hati serta kerontang
Senja telah tiba kekasih..
Enggan kukecup keningnya
Antara bias yang menyapa
Barangkali di sanalah perihal keindahan
Yang kudekap antara gembira dan kesesalan
Berlindung pada duri kemunafikan
Sebelum senja pergi di balik kegelapan
(Pamekasan, 2019)
HARI-HARI PATAH
Kenapa masih ada hari Sabtu,
Sedangkan adanya aku masih saja engkau merasa ragu
Kenapa masih ada hari Ahad,
Sedangkan bertegur sapa pun engkau tak sempat
Pada hari Senin, jangan kau katakan aku ingin menghilang di sekat dingin
Ayolah. Karena pada hari Selasa, aku ingin kita kembali memahat rasa
Hari Rabu pun inginkan kita menjadi seperti dulu
Tapi, hari Kamis masih ingin menahan tangis
Karena pada hari Jumat terlalu banyak luka yang terlalu ritmis
(Pamekasan, 2019)
SETENGAH PURNAMA
Aku masih berdiri di pangkuan para imaji
Melumurkan darah untuk ranting patah
Sembari duduk memeluk malam tanpa resah
Agar bintang cemburu melihatmu yang semakin bergairah
Dan hanya kepada setengah purnama
Aku ingin menjelma daun yang berdansa
Di tepi sunyi serta gulita
Selalu mengalah saat engkau menampakkan cahaya
Redup redam senyuman hanya sesaat
Tidak menghilangkan hakikat manis yang selalu terpahat
Menerangi jalan ke arah kepastian
Ketika separuh raga menghilang di balik kegelapan
(Sumenep, 2019)
ABJAD RINDU
Tak sempat menggores kata di muka buku
Karena selalu terhapus oleh senyum manismu
Lalu terbang menjelma abjad memeluk awan
Seperti anak burung mencari induk yang hilang
Aku mencoba kesekian kali
Perihal catatan kaki tumbuh bersama sunyi
Menjadi irama, meriang bulu roma
Hanya bayang rindu yang berjalan di tepi pena
Entah pada celupan tinta ke berapa
Ditemukannya cinta pada rona jingga
Maka harus aku pungut dengan segera
Biar terpahat di setiap halaman tanpa jeda
Berbahagialah…
Namamu telah terpampang
Pada angan segersang padang
Bersusun kalimat sarat makna
Membias cahaya lalu menyelinap dalam doa
(Sumenep, 2019)
SEPASANG MATA DAHLIA
Waktu paling mawar
Yang merekah di taman belukar
Adalah bertemu sepasang mata
Entah apa perihal rencana
Akankah itu engkau Dahlia
Matamu bisa kupapas
Walaupun benang jarak
Memisahkan hati yang sedang bergejolak
Dahlia..
Ingin ku ambil matamu
Lalu kuletakkan dalam hati
Karena matamu tak lagi pantas dipandang
Lebih pantas menyinari hati yang gelap rasa sayang
(Prenduan, 2019)
Zainur Rahman lahir di Sumenep Jawa Timur. Alumnus MTs. Al-Manar Brungbung Prenduan Sumenep dan MA 1 Annuqayah Guluk-guluk Sumenep. Saat ini, ia tercatat sebagai mahasiswa aktif Fakultas Tarbiyah Prodi Tadris Bahasa Inggris di Institut Agama Islam Negeri Madura (IAIN Madura).

Tinggalkan Balasan