
Padang, Scientia – Pengurus Wilayah Serikat Mahasiswa Muslim Indonesia (PW SEMMI) Sumatera Barat mengutuk atau mencela atas adanya spanduk yang menyerang lembaga adat Minangkabau yang terpasang di simpang tiga dekat gedung DPRD Sumbar, Rabu (23/03).
“Pelaku sepertinya harus belajar Budaya Alam Minangkabau lagi. Tidak elok adanya narasi atau spanduk menyerang LKAAM itu. Saya heran, tindakan itu seperti pengecut dan tidak mencirikan orang Minang. Ini Black Campaign,” kata Ketua PW SEMMI Sumbar, Abdurrahman Meinanda.
Tersebar ke berbagai kalangan, spanduk bertuliskan ‘LKAAM Urus Saja Adat, Jangan Berpolitik’ terpampang di tepi jalan, dekat gedung DPRD Sumbar, beberapa waktu lalu. Spanduk tersebut juga tak menampilkan siapa pemilik atau pembuatnya.
Abdurrahman berharap ‘tindakan tak terdidik’ itu dapat segera terungkap pelakunya. Apalagi, spanduk itu menyerang lembaga yang beranggotakan para ninik mamak di Sumbar. Apapun motifnya, kata Abdurrahman, serangan ke LKAAM Sumbar itu tidak baik. Terlebih lagi, Ketua LKAAM Fauzi Bahar sudah menjalankan tugasnya dengan baik.
“Saya kira Bapak Fauzi Bahar bakal terima kalau ada kritikan. Ia orangnya terbuka. Baiknya kritikan disampaikan secara langsung dan dimusyawarahkan dengan baik. Saya harap pelaku dapat segera terungkap,” harapnya.
Sebagai tambahan, Ketua LKAAM Sumbar Fauzi Bahar Datuak Nan Sati, sudah memberikan tanggapan terkait spanduk yang menyangkut lembaga yang dipimpinnya tersebut. Ia mengatakan tak perlu mempermasalahkannya.
“Spanduk tersebut tidak bermerek. Saya berpolitik, politik yang mana. Kalau menyangkut perkataan tentang suara azan yang lalu, itu jawaban saya ketika menanggapi pertanyaan wartawan kepada saya, kalau saya mengundang pers untuk menanggapi suara azan baru saya bisa dibilang berpolitik,” katanya. (sdq)

Tinggalkan Balasan