Randa Kabla, Cerpen Amalia Aris Saraswati dan Ulasannya Oleh Ragdi F. Daye

Randa Kabla

 Cerpen: Amalia Aris Saraswati

Bukinah membawa cucunya, yang terkena dampa penyakit gatal yang tak tahu hewan apa penyebabnya, kepada Randa Kabla. Randa Kabla mengunyah beberapa daun gude dan sepotong kunyit. Lengan cucu Bukinah yang terkena dampa disembur dan dibaluri ramuan tadi. Si cucu meringis perih. Bukinah mengulurkan sekantong gula merah. Randa menampik. Bukinah memaksa. Selanjutnya, Bukinah dan cucunya memunggunginya, keluar pintu dan hilang.

Hati Randa tiba-tiba begitu ngilu.

Bukinah, Bukinah.

-o-

Pagi itu, langit masih diselimuti kabut yang turun dari perbukitan. Seluruh kampung menjadi serba putih, seolah aku telah masuk dunia gaib para peri. Nenek terbelalak terkejut atas kedatanganku yang tanpa kabar berita sebelumnya. Ia hampir tak percaya pada matanya yang telah 68 tahun membuatnya melihat dunia, bahwa yang di hadapannya kini adalah cucu perempuannya pulang dari rantau. Tubuh kurus nenek memelukku demi rindu yang tak tertahankan.

Setelah merebahkan tubuh beberapa saat, aku menghampiri nenek di depan tungku. Ia tengah menjerang air di atas tungku tanah liat yang usianya sama dengan usia ibuku. Aku lalu duduk di pintu memunggunginya, menghadap keluar, menaburkan beras kepada anak-anak ayam yang berkerumun. Mereka mengerubuti bulir-bulir beras dan mematuknya, saling bertengkar dengan sesamanya. Aku hanyut dalam silang sengketa mereka.

Tiba-tiba nenekku bercerita tentang si Farida, adik kelasku di sekolah dasar, yang sudah melahirkan bulan lalu. Juga tentang suami dan mertuanya yang memperlakukan yatim piatu itu dengan begitu baik. Lalu cerita si Retno, teman sekelasku di sekolah dasar yang juga sedang hamil anak kedua. Ada juga dua bulan lewat, datang undangan pernikahan dari kawan SMP. Aku agak gusar jika nenek sudah membacakan berita soal kawan-kawan kampung yang sudah berumah tangga.

“Kau sendiri kapan tamat kuliah?” tanya nenekku, seperti sengatan lebah.

“Sebentar lagi, Nek,” jawabku pendek.

“Tamat kuliah nanti, bersenang-senanglah dulu. Cari kerja yang bagus. Senangkan diri dulu. Jangan langsung menikah.”

“Aku bahkan takut laki-laki.”

“Maksudmu? Jangan sampai kau menikahi perempuan! Haram!”  Nenekku terkejut.

“Bukan itu maksudku, Nek. Aku hanya kehilangan kepercayaan pada laki-laki karena seringkali disakiti. Pernikahan seperti kata yang asing dan mengerikan. Apalagi gambaran pernikahan di depan mataku, bapak dan ibu bercerai begitu saja,”kataku berat. Nenek mesti tahu cucu perempuan satu-satunya itu sudah tumbuh dewasa.

“Kurasa kau belum terlalu trauma akan laki-laki. Sewaktu muda dulu, aku juga pernah jatuh cinta….”

-o-

Perempuan berambut bak ombak lautan itu terus berlari menyibak ilalang setinggi pinggangnya. Semakin meliuk ke atas bukit, semakin melemah. Ia tersungkur ke tanah, air matanya umpama hujan bulan Oktober. Wajahnya membara karena diliputi amarah, dadanya disesaki kecewa. Jemarinya kini terluka tersayat ilalang-ilalang tajam. Darah sudah sederas air matanya. Begitu banyak cinta telah terambil darinya. Kini, ia merasa seakan seluruh penduduk Bumi hijrah ke Mars naik pesawat angkasa buatan Hitler. Aku juga tak tahu kapan Hitler punya proyek pindah ke Mars. Tinggal dirinya di planet biru yang hampa, tak diajak, tertinggal, dan kesepian.

Satu Senin di Bulan Januari 1975 itu mestinya adalah hari penantiannya atas cinta berakhir dengan gilang gemilang, mestinya. Akad disaksikan sanak saudara. Cincin emas yang terselip di jari manis. Janji pernikahan sehidup semati, terbakar habis. Semua kesalahan dapat dimaafkan kecuali penghianatan. Baginya, penghianatan adalah dosa terbesar dalam suatu tali percintaan. Kini, lelaki yang menggenggam tangan ayahnya, mengucap akad, adalah pelaku dosa tertinggi itu.

Tak ada yang berbahagia hari itu. Tak ada yang bertanya mengapa pernikahan yang menyakitkan buat semua itu dipaksakan harus terlaksana. Sumirah, pengantin perempuan sekuat-kuatnya menahan air mata yang sedari tadi mendesak ingin keluar. Meski wajahnya muram durja, setidaknya ia harus mengangkat wajah dan bersikap tegar. Sembab semalam dipoles dengan pupur tebal, bibir birunya dilukis dengan gincu merah menyala. Siapapun yang melihatnya, ia cantik hari itu, tapi bukan pengantin bahagia. Pun Karsono, setelah mengucap akad, terus menunduk dalam tak berani menatap mata siapa pun.

Kamar pengantin dihias kain berenda-renda. Bunga-bunga plastik dan roncean melati di sisi ranjang pengantin. Suasana malam menjadi senyap dan lebih mencekam bagi pengantin baru itu. Mereka duduk di sisi ranjang, saling menunduk. Keduanya tahu apa yang harus dilakukan sesuai titah orang tua.

Karsono mendekat pada istrinya. Memandangi wajah istri untuk menciumnya sesaat. Satu ciuman yang dalam dan getir. Lelaki itu menjauhkan wajahnya seraya berucap berat,

“Aku menceraikanmu, saat ini juga engkau bukan istriku.”

Tak ada jawaban dari istrinya. Tak ada kata apapun setelahnya. Sumirah tahu kalimat bak petir itu akan terucap dari lelaki yang 6 tahun ini begitu dicintainya. Betapa pun tegar ia di pelaminan tadi pagi, di depan lelaki itu ia tetap menangis sejadi-jadinya. Seumur hidup ia tak pernah terpikir akan tumbuh dewasa, menjadi pengantin dan diceraikan. Hati keduanya benar-benar hancur.

Mereka menikah secara resmi, sah oleh agama, dan negara. Begitupun perceraiannya, diselesaikan melalui pengadilan agama. Tidak ada isak tangis, tidak ada makian dari pihak perempuan, tidak ada suara apapun kecuali suara hakim, ketukan palu dan suara bangku berderit karena si lelaki gelisah. Palu diketuk tiga kali.

-o-

Sumirah menanggung kecewa mendalam setelah perceraian itu. Berhari-hari murung di kamarnya, tak dapat dibujuk. Ayahnya tak sampai hati melihat keadaannya. Khawatir jika anak perempuannya itu sampai gila.

“Nak, jika adat sudah bicara, tidaklah mungkin kita melanggarnya. Kau tentu sudah tahu dari dulu, orang yang berbatasan pekarangan atau jalan tidak bisa berjodoh,”

“Lagipula, Bukinah itu keras hati minta anak perempuannya supaya dijodohkan dengan Karsono. Kau tahu kan, ayah Karsono dan Suami Bukinah itu sahabat dekat? Kita ini orang kecil, tidak bisa berbuat apa-apa. Suamimu direbut orang. Sudahlah, besok-besok ada lelaki baik yang mau menikahimu,” terang sang Ayah. Sumirah tak sedikitpun bergeming.

“Aku sekarang janda, Yah. Tak ada lagi kehormatan sebagai perempuan. Janda, siapa sudi…” Sumirah mengeluh.

Kemudian, lambat laun, Sumirah pulih dari luka hatinya dan dipertemukan Tuhan dengan lelaki bujang yang baik. Lelaki itu Sukarno, teman sekolahnya dulu, yang selalu mencintainya dengan segenap jiwa.

-o-

Dalam kepercayaan kampung kami, Randa Kabla dianggap punya kemampuan menyembuhkan penyakit dampa. Randa kabla bukan penuntut ilmu hitam atau putih, tapi secara otomatis memiliki kemampuan itu karena gelar yang disandangnya. Randa kabla adalah janda (baik cerai hidup atau mati) yang belum dicampuri dan tidak memiliki anak. Kemudian janda tersebut kembali menikah dengan seorang bujang atau perjaka. Maka, keadaan seperti itu telah melekat pada perempuan tersebut sebagai randa kabla.

Bagi warga kampung Singasari, menurut cerita orang tua dulu, dampa hanya bisa disembuhkan oleh Randa Kabla dengan seizin Tuhan. Randa itu akan mengunyah kunyit dan daun gude, kemudian menyemburkan ramuan dalam mulutnya pada daerah kulit yang terkena dampa. Hanya butuh sekali atau dua kali pergi ke Randa Kabla, biasanya dampa yang perih dan gatal yang menyiksa itu akan berangsur sembuh.

Di zaman serba modern dan pengobatan medis terus merangsek masuk ke dusun-dusun. Randa kabla tergeser eksistensinya, kalah pamor dengan bidan desa dan dokter kecamatan. Hanya beberapa gelintir orang tua yang tetap percaya dengan kemampuan randa kabla untuk mengobati dampa yang diderita anak cucu dan tetangga sekitar. Juga si janda yang mendapat sebutan randa kabla tak mau mengunyah kunyit dan daun gude karena memang rasanya sangat getir, membuat mulut kuning dan sulit hilang rasa dan warna kunyitnya. Lambat laun sebutan randa kabla tidak terdengar lagi.Boleh percaya, boleh tidak soal randa kabla. Yang jelas, ia tetap hidup dalam kearifan lokal di kampung kami.

-o-

Hari Kamis, seperti kebiasaan di kampung kami, aku diajak nenekku nyekar ke makam almarhum kakek. Membersihkan makamnya dan mendoakannya. Terakhir, kami menaburkan rupa-rupa bunga di atas makam dengan nisan bertuliskan “Sukarno bin Napiardja” yang wafat delapan belas tahun yang lalu. Di sana, baru kusadari, ternyata ada cinta yang bisa dibawa mati.

*Cerita untuk kisah cinta yang dalam dari Sukarno (Alm) dan Sudiyati

 


 

Mitos dan Tragedi dalam Prosa Amalia

Oleh:
 Ragdi F. Daye
Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Sumatera Barat

 “Orang yang berbatasan pekarangan atau jalan tidak bisa berjodoh.”

Banyak fenomena sosial yang dapat diangkat menjadi tulisan bagus oleh seorang penulis. Gejolak yang muncul karena krisis ekonomi, munculnya wabah penyakit, perubahan gaya hidup, ketegangan interaksi kekerabatan, persoalan rumah tangga dan pengasuhan anak, pergaulan anak muda, dan lain sebagainya. Seorang penulis dapat mengambil satu titik fokus lalu mengeksplorasi seluk-beluk fenomena tersebut menjadi sebuah cerita yang layak dibaca.

Persoalan kehidupan manusia tidak jauh dari masalah interaksi, baik interaksi dengan sesama manusia, maupun dengan alam dan ciptaan Tuhan lainnya. Persoalan-persoalan tersebut menjadi tema yang terus diulang-ulang oleh generasi penulis. Kreativitas para kreatorlah yang menimbulkan keunikan setiap karya sekalipun mengusung tema yang sama.

Jodoh dan pernikahan adalah tema yang sedap untuk diceritakan. Kisah Siti Nurbaya, Romeo dan Juliet, serta Madame Bovary adalah contoh karya sastra yang mengangkat problematika jodoh dan pernikahan lantas menjadi karya yang diingat sepanjang masa.

Cerpen “Randa Kabla” yang ditulis Amalia Aris Saraswati ini mengangkat persoalan mitos yang mengubah kisah cinta seorang perempuan. Berlatar Desa Singosari yang berhawa sejuk, Amalia dengan sangat emosional bercerita tentang kehidupan seorang nenek bernama Sumirah yang menjadi randa kabla di desanya.

Randa kabla adalah sebutan untuk dukun kampung yang mampu mengobati penyakit tertentu seperti dampa, yakni sejenis gatal-gatal yang begitu perih yang dalam bidang kesehatan disebut penyakit herpes atau cacar ular. Penyakit ini biasanya diobati randa kabla dengan ramuan daun gude dan kunyit yang disemburkan setelah dimamah. Dalam cerita ini, Nek Sumirah yang menjadi randa kabla adalah nenek tokoh ‘aku’, seorang mahasiswi yang merasa gelisah bila ada orang yang mempertanyakan status lajangnya sementara teman-teman sebayanya telah menikah dan memiliki anak.

Tokoh ‘aku’ mengaku kepada neneknya bahwa dia mengalami trauma dalam menjalin hubungan dengan laki-laki karena selalu gagal dan diperparah oleh kenyataan ayah dan ibunya bercerai. Namun, Nek Sumirah  ternyata menyimpan kisah cinta yang lebih tragis dibanding si ‘aku’. Nek Sumirah bercerita bahwa semasa gadis dia pernah menyukai seorang pemuda yang bertetangga dengannya. Kisah cinta mereka terhalang karena menurut kepercayaan di daerah tersebut, orang yang berbatasan pekarangan atau jalan tidak bisa berjodoh. Akibatnya, Sumirah dinikahi namun diceraikan sebelum digauli.

Kondisi itulah yang membuat Sumirah menjadi randa kabla, yaitu perempuan yang menjadi janda, baik karena cerai hidup atau mati, yang belum pernah dicampuri dan tidak mempunyai anak yang kemudian menikah lagi dengan lelaki bujang atau perjaka. Dalam kepercayaan kampung tersebut, randa kabla dianggap punya kemampuan menyembuhkan penyakit dampa. Randa kabla bukan penuntut ilmu hitam atau putih, tapi secara otomatis memiliki kemampuan itu karena gelar yang disandangnya. Gelar istimewa tersebut membuat randa kabla menjadi tempat mengadu bagi warga yang menderita penyakit yang sulit disembuhkan. Akan tetapi, ketika modernisasi telah sampai ke pelosok kampung, randa kabla tersisih oleh kehadiran bidan desa dan dokter kecamatan.

Penulis tidak keras menggiring pembaca untuk bersimpati pada nasib randa kabla yang terkalahkan tersebut. Sebab, menjadi randa kabla sepertinya bukan sebuah pilihan sadar yang perlu dibanggakan atau profesi penting yang dapat dijadikan sandaran hidup. Status tersebut serupa kutukan istimewa yang memberi tempat khusus si pemangku di tengah masyarakat. Namun, perempuan mana pula yang sungguh-sungguh ingin menjadi janda model randa kabla, ditinggal cerai sebelum sempurna menjalani tugas seorang istri.

Amalia memiliki gaya bertutur yang cenderung puitis. Kalimat demi kalimat dalam cerpen ini dirangkai dengan sangat apik dan mampu menghadirkan imaji tentang suasana kampung Singosari yang natural.Pembaca akan terhanyut ke kehidupan yang tenang di daerah berlatar perbukitan. “Pagi itu langit masih diselimuti kabut yang turun dari perbukitan. Seluruh kampung menjadi serba putih, seolah aku telah masuk dunia gaib para peri.” Cara bercerita yang sangat renyah dan mengalir lancar.

Gangguan cerita pendek ini datang dari ketidakkonsistenan sudut pandang penceritaan antara orang ketiga dengan orang pertama. Hal ini mengaburkan fokus cerita. Pada fragmen awal, cerita menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu yang membidik tokoh Bukinah dan randa kabla secara bergantian. Pembaca dapat terjebak mengira cerita akan berkembang pada Bukinah dan cucunya yang memiliki kepentingan terhadap randa kabla. Tapi, cerita meloncat ke tokoh ‘aku’ yang sepintas dekat dengan persona penulis, sebelum kemudian beralih ke nenek Sumirah yang tak lain adalah randa kabla.

 

Kerancuan sudut pandang tampak pada pemilihan narasi, seperti “ia tak percaya pada matanya” pada saat tokoh ‘aku’ bercerita tentang neneknya; logiskah seorang tokoh dapat mengetahui isi pikiran tokoh lain? Akan berbeda kondisinya ketika pengarang menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Masalah pemilihan kata sebenarnya bukan gangguan besar, hanya saja dapat mengacaukan imajinasi yang terbangun oleh pembaca. Contoh lainnya, kalimat “Aku agak gusar jika nenek sudah membacakan berita soal kawan-kawan kampung yang sudah berumahtangga.” Kata ‘membacakan berita’ lebih tepat untuk menerangkan aktivitas presenter siaran berita di televisi.

Jika digarap lebih optimal, tragedi kehidupan perempuan yang diceraikan semasih perawan ini akan  meninggalkan kesan mendalam di hati pembaca. []

 

Catatan:

Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *