Tag: Cerpen

  • Si Tua Buta dengan Racun Rindunya

    Si Tua Buta dengan Racun Rindunya

    Cerpen: Akhmad Suwistyo Jika sore telah tiba, si Tua akan duduk di tepi jalan. Ia membawa kursi kecilnya sendiri. Lalu, jika semua persiapan dirasa sudah lengkap, si Tua memulai ritual. Orang-orang membiarkannya. Ada yang menyebutnya gila dan ada yang menyebutnya mengemis. Lelaki tua tersebut tak jelas tingkahnya. Tanpa maksud yang jelas, ia melambai-lambaikan tangannya ke…

  • Tanah Sangkolan

    Tanah Sangkolan

    Cerpen: Helmy Khan Setelah melewati rimbun pohon kelapa, akhirnya lelaki itu sampai di lokasi yang ditentukan oleh Pak Lurah. Lelaki berkepala plontos itu berpandangan dingin dari balik pintu mobilnya, memandangi ribuan pohon kelapa yang berjajar rapi di sepanjang pantai Bintaro. Kata anak buahnya luas kebun itu kurang lebih dari dua hektar. Ia mengangguk kecil. Menaksir…

  • Si Penjual Karpet

    Cerpen: Nengsih Sri Rahayu Putri  “Karpet, karpet, karpet….. murah meriah bisa digunakan sesuai kebutuhan,” lantunan suara penjual karpet keliling. Langkah demi langkah, ia kayuhkan untuk mencari rezeki demi sesuap nasi untuk ibunda dan adiknya di rumah. Ada niat baik yang tersimpan di lubuk hatinya yang dalam. Ia mengelilingi permukiman warga dengan meneriakkan. “Karpet, karpet, karpet Buk, Pak,…

  • Menunggu

    Cerpen: Armini Arbain “Kek, kakek, bantu nenek mengangkat air. Nenek mau menyiram bunga,” teriak nenek dari depan rumah. Melihat kakek diam dan tidak menjawab panggilannya, nenek pun mendekati kakek. Nenek melihat kakek sedang memandang ke jalan raya dengan mata tak berkedip. Melihat hal itu nenek pun bertanya apa yang dilihat kakek. “Kok Kakek serius sekali melihat ke…

  • Aroma Hujan dan Ayahku

    Cerpen: Amalia Aris Saraswati Kalender masih Agustus, namun dua pekan terakhir hujan tak dapat lagi dibujuk. Mestinya petani kakao masih menghamparkan biji-biji kakaonya di halaman, pun petani gambir. Hari masih pukul empat belas. Namun, hamparan biji kakao dan gambir sudah lenyap dari halaman lantaran gerimis mulai menciumi permukaan bumi. Jarak rumah dari mataku masih sekitar…

  •  Palli-Palli

     Palli-Palli

    Cerpen: Elly Delfia Di tengah salju halus yang berjatuhan, aku berlari mengikuti Anton dan Rida. Kami menuju kereta bawah tanah yang tidak jauh dari apartemenku. Apartemen yang terletak sekitar 700 meter di atas stasiun kereta bawah tanah bernama Namsanyok. Namsan nama tempat dan yok artinya stasiun. Stasiun bernomor 132 juga terletak tepat di samping kanan Toserba Daisoo yang terkenal dengan barang-barang…

  • Pertimbangan

    Pertimbangan

    Cerpen:M. Adioska Pertanyaan orang tuaku akhir-akhir ini membuatku bosan dan pusing. Bagaimana tidak, setiap aku pulang kampung hal serupa selalu ditanyakan. Bahkan, sering kali dalam sehari pertanyaan itu masuk ke telingaku lebih dari lima kali. Tentu bisa dibayangkan dan dihitung secara matematika. Jika aku tinggal di kampung selama minimal tiga hari, pertanyaan itu akan menerpaku…

  • Ayah, Si Kumbang, dan Pujaanku

    Ayah, Si Kumbang, dan Pujaanku

    Cerpen: Armini Arbain “Bubar! Bubar! Berburu hari ini dibatalkan” kata Mak Sutan. Mendengar seruan Mak Sutan, semua peserta berburu babi pagi itu ternganga. Buyung yang dari tadi sibuk memegang rantai anjingnya merasa gusar. Dengan suara lantang, ia mempertanyakan keputusan Mak Sutan yang mengejutkan para pencandu buru babi pagi itu. “Ada apa Mak Sutan? Mengapa acara…

  • Tamu di Rumah Sendiri

    Tamu di Rumah Sendiri

    Cerpen: Davidra Dutu Rumah adalah tempat ternyaman bagi umat manusia. Berbagai cerita hadir dalam nuansa keakraban. Rumah memberikan kesan positif terhadap tali silaturahmi. Walaupun sederhana, rumah lebih istimewa dari apartemen lantai lima. Namun, apa jadinya jikalau tuan rumah adalah tamu di rumahnya sendiri? Tuan tentu tidak mau itu terjadi dalam kehidupan. Setiap manusia memiliki cerita…

  • Tangis Sebatang Pohon

    Tangis Sebatang Pohon

    Cerpen: Azwar Sutan Malaka Mak Itam ternganga melihat sesosok tubuh bergelimang darah tak jauh dari batang pohon Surian. Sesaat ia terpaku, dua puluh langkah dari tubuh bergelimang darah itu. Semula Mak Itam menduga tubuh bergelimang darah yang ada di depannya adalah korban pembunuhan, tapi dugaannya perlahan sirna ketika ia semakin mendekat pada tubuh tak bernyawa itu.…