Tag: #Mhd. Irfan
-

Puisi-Puisi Mhd. Irfan
C Kepada Ama Yanuarti Di sana aku bersidekap dengan kegirangan, betapa kali ini telah kusematkan segala kerapuhan, berjejal di antara bukit dan padang yang terhampar, o, inginku tinggal pada lindap hati ibumu. Di sana aku lebamnya mentari-mentari letih, aih, selalu ada pertandangan tentang malam yang tiada terlelapkan, sekalipun kureguk tanda-tanda angin di tubuh ini, tahu…
-

Puisi-puisi Mhd. Irfan
Kepada Yepeye Aku melihat mata bertangga menuju sebuah kolam pecah di rantau angin di sana bunga-bunga merayap di bawah lumut dan seekor buaya menggenggam telur ayam Aku melihat perca-perca mata tangga jatuh membedak ke lantai kayu dihinggapi lalat hijau, dikerubungi semut merah dan awan menggenang di sana Aku melihat tangga mata turun dari lereng bersaga—pembiasan…
-

Puisi-Puisi Mhd. Irfan
Senin Sebuah meja hitam berkaki empat meredup dalam sebotol teh pucuk harum dan piring kaca sumbing di sebelah getar jam tangan segalon air menetes ke kaki anak semut Smartphone dengan nada pagi berkicau di daun telinga kepulangan pertama tidak berketahuan anak-anak meminta jatuhkan mainan dari pesawat kertas yang diterbangkan kembalilah demi sepatu kusam tanpa kaos kaki…
-

Puisi-puisi Mhd. Irfan
Urat-Urat Cina pada sebuah pengaduan atas nama pengabdian ia membawa pedang dari zaman nabi yang dikaitkan di pinggang serta atribut lengkap seperti telah siap untuk berperang memerangi diri sendiri dengan ketaksaan berkelindan pada sintal kepala memintal urat-urat Cina dengan tubuh bungkam ia berjalan menuju utopia tempat rahmat cinta bersemi di dada kecintaan kepala-kepala manusia tak…
-

Puisi-puisi Mhd. Irfan
Bus Melaju dengan Cepat Bus melaju dengan cepat kita melihat hamparan tanah merah dan bekas tambang emas yang merana bagai habis manis tinggal sepah ditinggalkan begitu saja tak ada kesuburan yang tersisa bagi tanaman Bongkahan tanah yang bila kemarau retak demi retak menjalar ke segala yang terhampar kerontang hingga bila ditiup angin dan kita di…
-

Puisi-puisi Mhd. Irfan
Penjara Tepian Pit Gempa Izinkan aku memasukimu akan kurenangi segala pilu yang tersemat pada jantung yang kian jingga warnanya mengalir deras pada nadi, melilit sansai itu Meski tak segalanya dapat kuarungi di sana akan kubangun sebuah menara dengan teropong menghadap ke selatan daya menyorot sepi beralun pasang Sebelum tiba ke sini menyingkap tirai bersulam bintang…