Tag: #Ria Febrina

  • Puisi-puisi Ria Febrina

    Homo Shopee-an Hai anak-anak manusia dari dongeng belahan dunia berkenanlah mendengarkan madah tentang kisah para wanita dan laki-laki berbalut gaya sebuah fesyen yang memikat siapa saja inilah kisah kami bawakan merupakan cerita seorang homo Shopee-an dari negeri yang berlimpah harapan dengan bayar tunai, ragam kartu, atau sekadar bayar nanti jangan takut, ada limit yang himbau-menghimbau,…

  • Marvin Harris: Tabu terhadap Sapi Menjaga Sistem Pertanian di India

    Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Sastra Indonesia FIB Unand dan Mahasiswa Program Studi Doktor Ilmu-ilmu Humaniora, FIB, Universitas Gadjah Mada) Pernahkah kita bertanya, mengapa orang Hindu begitu tabu menyembelih sapi? Mungkin tidak banyak yang berupaya menemukan jawaban secara logis karena kita sudah dihadapkan pada sebuah pemikiran bahwa bagi penganut agama Hindu, sapi itu suci dan…

  • Kosakata Bahasa Korea dalam KBBI

    Begitu tingginya frekuensi penggunaan kata dari bahasa Korea oleh masyarakat Indonesia menyebabkan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Republik Indonesia memasukkan kosakata bahasa Korea ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi daring. Setidaknya ada delapan kata dari Korea yang dapat kita bincangkan saat ini. Kedelapan kata tersebut adalah kimci, bulgogi, bibimbap, gocujang, manhwa, mokbang, oppa,…

  • Perempuan Hujan

    Perempuan Hujan

    Cerpen: Ria Febrina Tutunende. Sebuah Kota hujan. Di atas sebuah atap rumah yang berdinding putih, dengan pohon kelapa yang menyembul di sebelah kiri, perempuan itu menatap hujan yang turun. Tangan kanannya memegang payung berwarna bening. Tangan kirinya menjulur. Ia resapi air yang dingin, membasahi telapan tangan, mengalir ke lengan, dan mulai membasahi baju yang dipakai.…

  • Puisi-puisi Ria Febrina

    Jika Aku Berpulang —sajak untuk dr. Joserizal Jurnalis Jika saat itu tiba, kawan aku hanya tinggal nama aku sudah tak bernyawa tak berdarah, tak bersuara mata terbuka, mulut menganga, pucat mukaku, dingin kulitku, kelu tubuhku jangan menangis tak usah bersedih aku sudah berpulang kepada-Nya kekasih hati yang memilikiku pemilik jiwa yang menungguku jika saat itu…

  • Pemakaian “seperti” dan “dan sebagainya” dalam Kalimat

    Tidak banyak yang menyadari bahwa pemakaian kata hubung seperti dan dan sebagainya dalam bahasa Indonesia tidak boleh bersamaan. Pengguna bahasa Indonesia harus memilih salah satu kata hubung tersebut untuk melakukan pemerincian dalam sebuah kalimat. Kita dapat melihat contoh berikut. (1) Para pekerja seperti PPSU, PHL Suku Dinas Bina Marga, dan lain-lain tampak sibuk menyusun konblok. 1 Kata hubung…

  • Fenomena Penggunaan Afiks Meng- di Media Sosial

      Memang tak akan pernah berakhir cara seseorang berkreativitas melalui bahasa. Salah satu fenomena bahasa terkini dapat dilihat pada penggunaan afiks meng- yang akhir-akhir ini populer di media sosial, seperti Twitter, Facebook, dan Instagram. Ada kata mengcapek/mengcape, mengsedih, menganga, menge-sad/mengsad, mengmikir, mengbingung/meng bingung, mengcengeng, mengaku/meng-aku, mengitu, mengartinya, menggokil, menghadeh, menggabut/meng gabut/meng-gabut, meng-ngantuk, meng tambah, meng parangtritis,…

  • Kok bika ambon dan rendang Padang Beda?

    Antara bika ambon dan rendang Padang memang merupakan dua nama makanan yang berbeda. Namun, tahukah teman-teman, perbedaan yang dimaksudkan pada judul tulisan ini ialah perbedaan pada penulisan bika ambon dan rendang Padang. Kata Ambon pada frasa bika ambon tidak menggunakan huruf kapital, sedangkan kata Padang pada frasa rendang Padang menggunakan huruf kapital. Kok bisa berbeda? Makanan rendang merupakan makanan khas…

  • Salah Kaprah dengan Kata Sedikit, Mungkin, dan Kebetulan

    Tahukah kamu bahwa kata sedikit, mungkin, dan kebetulan merupakan kosakata bahasa Indonesia yang paling sering digunakan, tetapi termasuk ke dalam pemakaian yang salah kaprah. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Republik Indonesia (2016) mendefinisikan bahwa salah kaprah adalah kesalahan yang umum sekali sehingga orang tidak merasakan sebagai kesalahan. Kita bisa lihat pada contoh berikut. 1. Saya ingin sedikit…

  • Dirgahayu HUT RI Ke-76, Benarkah?

    Tulisan yang berjudul “Dirgahayu HUT RI Ke-76, Benarkah?” ini tidak bertujuan untuk mempertanyakan apakah Negara Republik Indonesia merayakan kemerdekaan yang ke-76 atau tidak. Dalam tulisan ini, yang akan dibahas ialah penulisan kalimat ucapan tersebut apakah sudah sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia atau belum. Mengapa demikian? Setiap 17 Agustus, rakyat Indonesia merayakan hari kemerdekaan. Salah satu…