Tag: #Rizky Amelya Furqan
-

Drama pada Masa Orde Baru
Oleh: Rizky Amelya Furqan (Dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas) “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Maka Sastra yang Berbicara” -Seno Gumira Ajidarma Perihal permasalahan Orde Baru bukan lagi sesuatu yang awam untuk dibicarakan, melainkan sesuatu yang menarik karena masih ada teka-teki pada masa itu yang belum terjawab. Salah satunya adalah permasalahan orang-orang yang…
-

Wisata Budaya Matotonan Kecamatan Siberut Selatan
Oleh: Rizky Amelya Furqan (Dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas) Saat ini agenda 2030 untuk pembangunan berkelanjutan atau yang lebih dikenal dengan Suistinable Development Goals (SDGs) menjadi perhatian oleh banyak pihak. Salah satunya adalah perkembangan dunia pariwisata sehingga banyak objek yang saat ini “disulap” menjadi tempat wisata. Hal ini terkait dengan…
-

Visualisasi Budaya Minangkabau dalam Film Onde Mande
Oleh: Rizky Amelya Furqan (Dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas) “Orang Minang akan melakukan segala hal demi keluarga, kampung, darah, dan tanah kelahirannya” (Film Onde Mande) Masyarakat Minangkabau hidup dengan memegang sebuah falsafah, yaitu Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, yang berarti adat yang berkembang di Minangkabau juga berdasarkan syariat dan…
-

Kehidupan Perempuan Marginal dalam Novel Re: dan peRempuan
Oleh: Rizky Amelya Furqan (Dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas) “Luka Kunikmakti sebagai Jalan Mengakhiri Derita. Seperti Dunia yang Sudah Bosan dengan Ulah Manusia dan Berharap Agar Terompet Israfil, Sangkakala Akhir Zaman Segera Saja Ditiupakan” (Re: dan peRempuan-Maman Suherman) Kehidupan perempuan menjadi objek yang tidak pernah habis untuk dibicarakan bahkan setelah berbagai…
-

“Jangan Kencing di Sini”, Hasrat yang Tak Terpenuhi
Oleh: Rizky Amelya Furqan (Dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas) Jari-jari manusia ku rasa bahkan mereka punya pikiran sendiri. Mereka bisa melakukan hal-hal tertentu tanpa kita mengajarinya. Dengan jari-jari, manusia merasakan sesuatu (Eka Kurniawan) Kepribadian menjadi salah satu unsur yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Bahkan penilaian yang diberikan oleh seseorang pada orang…
-

Film Buya Hamka antara Dedikasi dan Ruang Hampa
Oleh: Rizky Amelya Furqan (Dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas) Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja. (Buya Hamka) Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang lebih dikenal dengan nama Buya Hamka adalah seorang ulama, filsuf, dan sastrawan Indonesia asal Maninjau, Sumatera Barat…
-

Proses Simulacrum Budaya dalam Karya Sastra
Oleh: Rizky Amelya Furqan (Dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas) “You don’t have to burn books to destroy a culture. Just get people to stop reading them” (Kamu tidak harus membakar buku untuk menghancurkam budaya. Cukup membuat orang untuk berhenti membacanya)-Ray Bradbury (American Author) Kehidupan masyarakat yang dimulai dari ranah tradisional memunculkan…
-

Resepsi Timeline Jagat Bumilangit dan Marvel Cinematic Universe
Oleh: Rizky Amelya Furqan (Dosen Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas) “Ada yang membangkitkan panglima-panglima dewi api. Dialah roh setan itu, roh jahat yang penuh dengan kebencian” (Film Sri Asih: Pimpinan Jagat Bumi) “Teks sastra tidak dapat disamakan, baik dengan objek-objek nyata dari dunia pembaca, maupun pengalaman pembaca sendiri. Ketidaksamaan itu menghasilkan apa yang disebut…
-

Wednesday: antara Science Fiction dan Magical Realism
Rizky Amelya Furqan (Dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas) “If you hear me screaming bloody murder, there’s a good chance, I’m Just enjoying myself” (Jika kau mendengar aku berteriak pembunuhan berdarah, itulah kemungkinan aku sedang menikmati diriku sendiri) Wednesday: Wednesday Addams Perkembangan era kehidupan dari zaman pramodern yang mempercayai hal-hal yang berbau…
-

Komersialisasi Tari Kecak
Oleh: Rizky Amelya Furqan (Dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas) “And those who were seen dancing were thought to be insane by those who could not hear the music.” “dan mereka yang terlihat menari dianggap gila oleh mereka yang tidak bisa mendengar musiknya.” (Friedrich Nietzsche) Indonesia dikenal dengan negara kepulauan yang…