![Foto bersama kelompok Cipayung di Auditorium Kampus II UIN Mahmud Yunus Batusangkar. [foto : YRP]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2023/09/IMG-20230831-WA0015-300x178.jpg)
“Koalisi untuk kolaborasi sangat penting saat ini, terutama bagi mahasiswa. Sebab mahasiswa merupakan agen perubahan yang memiliki tanggung jawab yang besar dalam memperjuangkan hak – hak masyarakat yang selama ini dinomor duakan,” ujar Ketua Cabang HMI Batusangkar, Masrizal mewakili kelomok Cipayung kepada Scientia. Sabtu, (02/09/2023)
Gerakan kolaborasi tersebut diawali dengan pengenalan organisasi eksternal setelah dilaksanakannya penutupan kegiatan PBAK di salah satu kampus di Tanah Datar yaitu UIN Mahmud Yunus Batusangkar. Di sana puluhan aktivis melakukan aksi dihadapan mahasiswa baru yang bakal menyelami dunia perkuliahan.
“Kampus adalah sarana utama bagi mahasiswa untuk memperkuat sikap, mental dan intelektualnya. Oleh karena itu kampus mesti memfasilitasi setiap gerakan – gerakan organisasi mahasiswa agar tri dharma perguruan tinggi benar – benar terwujud dan dirasakan masyarakat,” kata Masrizal.
Menurut Masrizal, wadah untuk belajar dan berproses bagi mahasiswa bukan hanya di area kampus atau perkuliahan saja. Melainkan bisa dilakukan diluar kampus, salah satunya di organisasi eksternal
Sebab di organisasi eksternal, kata Masrizal, mahasiswa bisa mendapatkan hal – hal baru yang tidak dipelajari diperkuliahan. Mereka dididik menjadi insan manusia yang memiliki mental yang kuat dan pemikiran – pemikiran yang solutif.
“Organisasi eksternal mangajarkan bagaimana sesorang memiliki daya fikir yang kritis dan dapat membangun perdaban. Semua itu mesti dimiliki mahasiswa dan sangat disayangkan kalau mahasiswa tidak mempunyai itu,” tegasnya.
Masrizal juga menyampaikan, wajar saja kalau saat ini terlihat mahasiswa tidak peduli dengan lingkungan di sekitarnya. Hal itu dikarenakan terbatasnya gerakan organisasi eksternal di wilayah kampus, terutama di UIN Mahmud Yunus Batusangkar yang selalu menganggap gerakan organisasi eksternal sebatas demo.
Padahal, lanjut Masrizal, kehadiran organisasi eksternal bisa menunjang pengembangan kampus melalui sumber daya manusia yang kreatif, inovatif dan berdaya saing. Namun hal itu hanya sebatas mimpi yang hilang dalam tidur dan angan yang terbang dihembus angin.
“Kondisinya, kami dibatasi dan bahkan tidak diberi ruang di dalam kampus oleh pimpinan kampus. Entah apa yang ditakutkan, kami juga tidak tahu. Yang jelas, jika itu tetap dipertahankan, kita akan lawan,” sampainya.(YRP)
![Foto bersama kelompok Cipayung di Auditorium Kampus II UIN Mahmud Yunus Batusangkar. [foto : YRP]](https://datalama.scientia.id/wp-content/uploads/2023/09/IMG-20230831-WA0015.jpg)
Tinggalkan Balasan