
Oleh: ALFITRI
(Dosen FISIP Universitas Andalas)
Selepas rapat di kampus beberapa hari yang lalu, saya meluncur ke Pasar Raya, Padang. Di pasar itu saya berhenti di ruas jalan yang banyak deretan toko asesoris dan sparepart mobil.
Saya bermaksud untuk membeli wiper kaca mobil. Menjelang masuk ke toko yang dituju, saya tertegun mendengar ucapan ibu pemilik toko ke pembeli di depannya, “Duit ini apa benarlah, duit tak akan di bawa mati…” katanya.
Sepertinya mereka lagi proses tawar-menawar. Saya terkesima juga mendengarnya. Hebat ibu pedagang ini, gumam saya.
Tiba giliran saya menawar wiper yang saya ingin beli. Ibu itu menyebut harga Rp150.000,00 sepasang. “Boleh kurang?” kata saya. “Tidak dapat Pak. Itu harga pas,” kata ibu itu lagi.
Terkesan dengan ucapan ibu itu sebelumnya, “apa benarlah duit ini…” Saya pun percaya bahwa itu adalah harga yang pas dan pantas untuk wiper yang ditawar itu. Karena itu saya tidak merasa perlu mengecek harganya di toko online melalui hp atau pergi ke toko sebelah.
Saya pun jadi membelinya. Kemudian saya menanyakan dop penutup velg mobil. Rupanya toko ibu itu tidak punya yang pas dengan velg roda mobil saya. “Coba tanya di toko depan pak…” katanya.
Saya pun ke toko asesoris lain di dekat sana. Ternyata dop velg roda yang saya cari ada. Iseng-iseng saya pun bertanya harga wiper dengan merek yang sama yang saya beli di toko sebelumnya. “Rp 110.000,00 sepasang Pak…” kata pelayan tokonya.
Astaghfirullah. Spontan saya mengucap dalam hati. Terkena pula saya. Serasa takicuah di nan tarang (terkecoh di tempat terang) saya. Barusan saya beli wiper Rp150.000,00. Ternyata di toko depannya harganya cuma Rp110.000,00.
Sebagai konsumen seyogianya kita mesti lebih hati-hati dan melakukan check and recheck harga, baik ke toko online atau ke toko sejenis di dekatnya sehingga kita dapat gambaran harga yang wajar dan pantas untuk suatu barang. Sebaiknya kita tidak mudah percaya dan terkesima dengan citra yang tampak atau ditampilkan pedagang dan toko tersebut.
Ini hanya satu contoh. Saya dan beberapa teman juga memiliki beberapa contoh lain dari semacam unfair trade ini dimana masih ada sebagian pedagang yang mematok harga seenaknya.
Dari perspektif Merton (2007) kasus di atas menunjukkan adanya kesenjangan antara tujuan dan cara untuk mencapainya (goal-means gap). Untuk mendapat laba yang sebesar-besarnya biarlah orang merasa terkena/terkecoh. Padahal, dengan sedikit untung tapi omzet/jual beli yang yang banyak, akhirnya juga bisa mendapatkan laba yang besar. Dengan itu, kita mendapat laba, tapi konsumen senang dan tidak merasa terkecoh.***

Tinggalkan Balasan