Tamu di Rumah Sendiri

Cerpen: Davidra Dutu

Rumah adalah tempat ternyaman bagi umat manusia. Berbagai cerita hadir dalam nuansa keakraban. Rumah memberikan kesan positif terhadap tali silaturahmi. Walaupun sederhana, rumah lebih istimewa dari apartemen lantai lima. Namun, apa jadinya jikalau tuan rumah adalah tamu di rumahnya sendiri? Tuan tentu tidak mau itu terjadi dalam kehidupan.

Setiap manusia memiliki cerita tersendiri dalam hidupnya. Ada yang memilih untuk menceritakan kepada orang lain, ada pula yang lebih memilih diam dan memendam cerita tersebut. Karakter manusia menjadi penentu jalan ceritanya. Dan barang pasti, Tuhan telah memberikan skenario terbaik bagi hamba-Nya. Semua kembali kepada tuan, mau mengambil jalan yang mana.

Pak Iman. Di masa tuanya, ia harus memikul beban yang berat. Memiliki anak tetapi tak mendapat kasih sayang. Memiliki cucu tetapi seperti orang jauh. Sepeninggal istrinya, Pak Iman tinggal bersama anak perempuannya yang bernama Dek Lai. Dek Lai satu-satunya anak Pak Iman. Hidupnya mewah, tetapi lupa sama orang tua. Lupa sama orang yang mendidik dan membesarkannya. Seperti itukah anak zaman sekarang? Jangan sampai.

“Ayah, jangan lupa bersihkan rumah. Cuci piring dan masak buat makan malam. Aku mau berangkat kerja.” Dek Lai pamit kerja tanpa salaman. Tanpa tatap muka. Sambil berlalu, ia memerintahkan ayahnya untuk melakukan pekerjaan rumah.

Suaminya Dek Lai bernama Pak Ngangkang. Kerjaannya hanya duduk santai di ruang tamu. Menikmati sarapan pagi sambil menonton televisi. Rutinitas setiap pagi yang selalu ia lakukan. Dek Lai yang bekerja, Pak Ngangkang yang menikmati, dan Pak Iman yang mempersiapkan semuanya. Suatu perjalanan yang melelahkan.

“Ayah, buatkan susu panas!” Pak Ngangkang juga ahli dalam memerintahkan. Menyuruh mertua membuatkan minuman untuknya. Menantu tanpa sopan santun. Adabnya kurang dalam bertutur kata. Merasa bangga mendapatkan istri orang kaya.

“Ini.” Pak Iman memberikan susu panas kepada Pak Ngangkang. Ia menawarkan sebuah senyuman walau sakit dalam dada.

“Aw.” tangan Pak Ngangkang menjatuhkan minuman yang diberikan Pak Iman. Minuman panas dipegang, ya jatuh. Lihatlah sesuatu dengan teliti sebelum mengambilnya, tuan. Televisi tidak akan lari hanya dalam sekejap.

“Maaf,” ujar Pak Iman.

“Maaf, maaf, kalau kasih minuman pakai otak. Kan bisa diletakkan. Bersihkan semua!” Pak Ngangkang memarahi Pak Iman. Menyuruh Pak Iman untuk membersihkan minuman yang tumpah. Menantu sudah ahli dalam memarahi mertua. Jembatan kebahagian sekarang dianggap pembantu rumah tangga.

“Baik.” Pak Iman dengan sabarnya membersihkan minuman yang tumpah. Imannya kuat terhadap celaan. Batinnya telah terlatih untuk tidak sakit hati. Luar biasa. Setiap hari raganya selalu diperintahkan untuk bekerja. Sebagai pembantu untuk anak dan menantu. Bagaikan tamu di rumah sendiri. Orang asing yang berkuasa dari jerih payahnya membangun rumah. Masa tua harus menelan pil pahit roda kehidupan.

Sehabis bekerja Pak Iman harus bekerja lagi. Menyiapkan makan malam untuk orang yang menghinanya. Perlakuan yang tak layak harus dijalani setiap hari. Tidak ada yang mengasihani hidupnya selain diri sendiri. Sadang nan kanduang lai indak ibo, apo kok urang basuku lain, sedangkan saudara kandung tidak peduli, apalagi orang bersuku lain.

“Ayah, siapkan makan malam.” perintah Dek Lai. Malam datang waktunya makan malam. Menikmati omong kosong orang lain.

Siap siaga Pak Iman melaksanakannya. Demi buah hati, apa pun ia lakukan. Walau perih tetap harus dijalani. Itulah hidup.

“Nanti kalau ada sisa, baru makan.” ucap Dek Lai setelah ayahnya menyiapkan makan malam. Sang ayah hanya diberi sisa dari upah kerja keras. Jangankan untuk makan sisa, makan bersama pun Pak Iman sudah tak terlalu berharap lagi. Ia terbiasa diperlakukan tidak baik oleh anak dan menantunya.

“Sayang, tadi pagi ayah kamu pecahkan gelas.” Pak Ngangkang mengadu domba Dek Lai dengan ayahnya.

“Apa? Oke, nanti habis makan aku bilang sama dia. Kamu jangan marah ya. Senyum dong.” balas Dek Lai.

“Baik sayang.”

Dek Lai menikmati makan malam bersama suami dan anak perempuannya. Kik ki, satu-satunya anak Dek Lai. Ia diajarkan untuk tidak terlalu dekat dengan Pak Iman. Agar pikirannya tidak terkontaminasi perilaku sabar, pengajaran yang beda.

“Ayah, kalau kerja hati-hati. Jangan main pecahkan gelas saja. Harganya mahal. Mikir dong kalau kerja tu.” Dek Lai kembali memarahi ayah kandungnya.

Pak Iman hanya mengangguk dan tidak mau bicara. Ia menghargai keputusan anaknya. Ia mengakui kesalahannya dan ia memaafkan kesalahan orang lain.

Waktu berlalu.

Pagi telah datang meninggalkan malam yang begitu suram. Kisahnya menaruh luka tanpa obat dari perawat muda. Hanya hati yang tahu penawarnya. Menyembunyikan luka dalam tawa.

“Ayah, mana sarapan pagi?” Dek Lai kembali mengulang kebiasaannya. Memerintahkan orang tua.

Pak Iman hanya diam. Tanpa jawaban dan tanpa sarapan pagi.

“Ayah, sarapannya mana?” Dek Lai memanggil Pak Iman dengan suara yang lebih keras.

Lagi dan lagi, Pak Iman tak memberikan jawaban. Tak seperti biasa.

Merasa diacuhkan, Dek Lai menemui Pak Iman di kamarnya. Berharap dengan menemui Pak Iman di kamar, Dek Lai akan lebih leluasa memarahi ayahnya.

“Ayah, mana sarapan?” ulang Dek Lai setelah membuka pintu kamar Pak Iman. Ternyata Pak Iman sedang tidur di atas kasur.

“Ayah, bangun. Kerja sana.”

Dek Lai membuka selimut yang menutupi tubuh Pak Iman. Tanpa jawaban, Pak Iman sedang tidur. Ketika tangan Dek Lai menyentuh wajah Pak Iman, semua terasa dingin. Pak Iman kaku dalam tidurnya. Tidur tanpa harap kata kembali di dunia ini. Manusia baru sadar setelah kehilangan. Tak cukup kehilangan ibu, sekarang Dek Lai kehilangan ayahnya. Tubuhnya gemetar dan tak menyangka sesuatu itu terjadi. Begitulah manusia. Tuan. Pak Ngangkang tertawa bahagia di ruang tamu. Misinya berhasil.

Biodata Penulis

Dasril Davidra adalah mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas. Nama pena Davidra Dutu. Email: dasrildavidra21@gmail.com


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *