Cerpen: Helmy Khan
Setelah melewati rimbun pohon kelapa, akhirnya lelaki itu sampai di lokasi yang ditentukan oleh Pak Lurah. Lelaki berkepala plontos itu berpandangan dingin dari balik pintu mobilnya, memandangi ribuan pohon kelapa yang berjajar rapi di sepanjang pantai Bintaro. Kata anak buahnya luas kebun itu kurang lebih dari dua hektar. Ia mengangguk kecil. Menaksir berapa kisaran rupiah yang harus ia gelontorkan untuk mendapatkan tanah strategis itu. Ia menghisap kareteknya dalam-dalam tepat ketika tangan Pak Lurah menunjuk luasnya kebun itu hingga ujung pengkolan pasir putih di sebelah timur. Laki-laki cukong itu menepuk pundak Pak Lurah, lalu berkata.
“Dalam jangka waktu dekat, tanah ini harus jatuh ketanganku, aku akan bangun tambak udang di sini,” katanya. Bidikan bola matanya mengarah pada pandangan Pak Lurah seakan ia meminta keyakinan bagaimana cara mendapatkan kebun kelapa milik warga.
“Jangan khawatir mereka pasti mau menjual tanahnya, asalkan…” Ucap Pak Lurah memotong kata-katanya. Ia melirik lelaki berkepala plontos itu seperti meminta kepastian berapa harga yang akan diberikan untuk tanah di depannya.
“Tenang saja. Masalah harga aku akan membeli di atas rata-rata.”
Angin bergelabar di antara pelepah pohon kelapa, melambai-lambaikan setiap helai janurnya yang juntai ke tanah. Pak Lurah megambangkan senyum ketika lelaki cukong itu menyerahkan selembar kwitansi yang tertera nominal harga yang sangat tinggi. Pak Lurah mengangguk kecil dengan cepat tangannya menyelipkan kwitansi itu ke dalam saku.
“Jangan kecewakan aku,” ucap lelaki cukong itu sambil melempar sisa rokoknya ke semak-semak. Sepoi angin laut menyibak krah jas potongan kuno itu. Lama berdiri, ia melangkah ke tepi pantai. Anak buahnya sibuk mengukur berapa banyak kira-kira pipa yang dibutuhkan untuk pembuangan limbah ke laut. Beberapa saat kemudian mereka saling jabat tangan. Pelan mobil sedan itu meninggalkan kebun milik warga. Pak Lurah melambaikan tangan.
***
Menjelang tenggelamnya matahari seseorang memasuki halaman rumah Pak Lurah. Berkali-kali, ia mengucapkan salam, tapi tak ada jawaban. Lama berdiri, ia putuskan untuk menunggu di gardu depan. Pak Lurah mengintip dari balik jendela. Tak lama kemudian, ia menemui pemuda itu dan menyilakan duduk di kursi beranda rumah.
“Kamu, Sir. Ada perlu apa?” tanya Pak Lurah memulai percakapan.
“Begini, Pak Lurah. Saya mau minta surat keterangan keluarga tidak mampu. Ibu saya sedang sakit, mau dibawa ke dokter,” ucap Nasir pelan.
“Memangnya sakit apa ibumu?”
“Kronis, Pak. Beliau harus segera diobati.”
Hening sejenak. Tak ada kata-kata. Pak lurah mengulas senyum. Sepengetahuannya orang tua Nasir adalah salah satu pemilik dari kebun kelapa di pinggir pantai itu. Ia pikir tak ada salahnya membantu Nasir untuk menolong ibunya, tapi bukan dengan surat keterangan seperti yang dia minta. Ia akan menawar kebun kelapa miliknya. Ia beranggapan itu merupakan timbal balik yang sama-sama menguntungkan. Nasir mengobati ibunya. Ia mendapatkan tanahnya.
“Kalau mau berobat dengan membawa surat keterangan keluarga tidak mampu biasanya rumah sakit enggan melayani. Apalagi, penyakit ibumu itu sangat ganas. Tentu pihak rumah sakit tak mau merugi merawat pasien yang tak bayar.”
“Maksud Pak Lurah?” tanya Nasir tidak mengerti.
“Untuk pengobatan ibumu itu butuh biaya yang sangat besar. Jual saja tanahmu di dekat pinggir pantai itu, pasti sangat mahal. Dan sisanya bisa kamu jadikan modal usaha,” bujuk Pak Lurah.
Nasir terkesiap mendengar kata-kata Pak Lurah. Ia tak mungkin menjual tanah itu. Apalagi kebun kelapa itu merupakan satu-satunya sumber ekonomi penyambung hidup sehari-hari. Jika ia menjual tanah itu, sama saja dengan mengkhianati prinsip keluarganya. Menjual tanah sama halnya menjual harga diri, ucap ibunya pada suatu hari.
“Tak mungkin, Pak. Itu tanah sangkolan turun-temurun,” kata Nasir. Lembut suara Nasir berujar. Ia berharap Pak Lurah memahami penolakannnya.
“Aku tak memaksa. Itu hak kamu, tapi pikirkan keselamatan ibumu.” Dari tatapan bola matanya tersirat guratan kekecewaan, seperti kekecewaannya pada mendiang almarhum ayah Nasir yang tak mau mendukungnya waktu pemilihan kepala desa dulu.
***
Bulan menyembul dari balik bukit Garincang ketika Nasir menjenguk ibunya yang terbaring lemah di atas ranjang. Gorden di pinggir jendala tak lagi diterpa angin, membisu seperti bibir Nasir yang terkatup rapat menyaksikan perempuan mulia di sisinya semakin lemah dari hari kehari. Ia hampir putus asa mencari biaya pengobatan untuk sang ibu. Berkali-kali, ia menemui Pak Lurah dan berkali-kali pula ia dibujuk untuk melepas tanah sangkolan ayahnya.
Temaram sinar rembulan menyungkup rumah gubuk itu. Lampu teplok meliuk-liuk diterpa angin. Pejam matanya ketika teringat perkataan Pak Lurah, kalau mau tanda tanganku kamu harus lepaskan tanah itu, ucapnya pada suatu malam.
“Ibu, besok saya akan ke rumah Pak Lurah lagi.”
“Untuk apa, Nak. Kalau ke sana, hanya untuk menjual tanah urungkan saja niatmu.” Nasir menunduk, ia sudah menduga bahwa ibunya akan menolak.
“Tapi, Bu. Penyakit ibu semakin memburuk.”
“Tidak, Nak. Ibu lebih baik mati daripada harus merelakan tanah itu jatuh kepada orang yang hanya akan membuat kerusakan di negeri ini.” Kata-katanya terpotong. Kembang-kempis dadanya mengatur laju napasnya.
Tubuh perempuan tua itu semakin ringkih dan kusut. Semakin hari, darah dalam tubuhnya seperti terisap, mengecil. Tersisa benjolan tulang dengan sedikit daging di tubuhnya. Matanya cekung. Terdengar napasnya sesak. Tak lama, ia kembali berucap.
“Apa kamu tidak melihat tanah di samping kita sudah digeruk alat berat setiap hari. Apa kamu mau tanah kita seperti itu juga?” Tanya ibunya disertai batuk yang mengguncang dadanya.
Dua minggu terakhir, alat-alat berat mulai berdatangan ke desanya. Selain membuat pagar beton, para pekerja cukong itu juga menumbangkan puluhan pohon kelapa. Kubangan tanah menyerupai kolam membentang di sepanjang bibir pantai Bintaro, menampung benih-benih udang. Tak sedikit warga yang melepas tanahnya kepada Pak Lurah. Mereka lebih memilih merantau ke Jakarta membuka warung sembako. Tak ada lagi aktivitas memanen buah kepala atau membuat kopra.
Saban hari truk-truk pengangkut berlalu lalang melintasi jalan setapak di atas kebun warga yang sudah terjual. Hanya tanah Nasir yang masih utuh dengan rindang pohon kelapanya. Meski demikian, sejak berdiri tambak udang di samping kebunnya hasil panennya kian menyusut. Buahnya pun tak masuk pada kualitas super yang dibeli harga mahal. Imbas tambak udang itu juga menyebabkan susahnnya pakan ternak. Sukar rumput tumbuh di tanah tercemar itu.
“Jangan pernah kau jual tanah itu. Ajaga tana, ajaga nak poto,” pesan ibunya. Pelan, lamat-lamat suara itu terdengar seperti orang berbisik.
Malam itu, setelah gerimis turun diwaktu sunyi, tanpa pamit perempuan itu meninggalkan raganya. Sambil memegang tangangan ibunya yang dingin, Nasir menitikkan air mata. Direngkuhnya tubuh kaku itu di atas kasur. Kelopak matanya pejam. Nasir semakin larut dalam tangisnya.
Besoknya, habis salat zuhur perempuan itu disemayamkan di pemakaman kampung Toteker. Habis mendoakan, setelah pelayat pulang Nasir menabur bunga di atas pusara ibunya. Tangannya bergetar hebat memegang batu nisan itu. Nampak dua orang berdiri di belakangnya. Pak Lurah berjongkok mengelus-elus pundak Nasir sambil menasehati agar tabah menjalani hidup.
“Bagaimana, Sir. Apakah kamu belum mau menjual tanah itu. Aku tahu kamu butuh uang untuk biaya pemakaman ibumu?” tanya Pak Lurah.
“Tidak, Pak. Sampai kapan pun saya tidak akan pernah menjualnya. Ibu rela mengorbankan nyawanya demi menjaga tanah sebidang itu, begitu pun dengan saya pantang untuk menjualnya. Apa bapak belum puas mencemari tanah kelahiran sendiri?” Pak Lurah tergagap. Tak ada kata-kata yang keluar lagi dari mulutnya. Mereka pergi membawa seribu kecewa.
Catatan:
Sangkolan:Warisan
Biodata Penulis:
Helmy Khan tercatat sebagai Mahasiswa INKADHA Sumenep Madura. Ia kader PMII IKADHA dan aktif di LPM Dialektika dan komunitas Semenjak.
Juara 3 Pemenang Lomba Cerpen Scientia 2020

Tinggalkan Balasan