
Cerpen: Azwar Sutan Malaka
Mak Itam ternganga melihat sesosok tubuh bergelimang darah tak jauh dari batang pohon Surian. Sesaat ia terpaku, dua puluh langkah dari tubuh bergelimang darah itu. Semula Mak Itam menduga tubuh bergelimang darah yang ada di depannya adalah korban pembunuhan, tapi dugaannya perlahan sirna ketika ia semakin mendekat pada tubuh tak bernyawa itu.
“Ada orang mati…!”
“Ada orang mati…!”
Teriak Mak Itam dua kali. Suara Mak Itam membuat Pidin dan Maruhun yang sedang memecah batu menghentikan pekerjaan mereka. Mereka berlari-lari kecil menuju Mak Itam.
“Ada apa Mak?” tanya Maruhun.
“Astagfirullah…,” suara Pidin tercekat ketika melihat tubuh bergelimang darah itu. Maruhun segera melihat tubuh yang didekati Pidin.
“Ada pembunuhan,” kata Maruhun seolah pada dirinya sendiri.
“Sepertinya bukan, tubuhnya terkoyak-koyak, isi perutnya terburai,” komentar Mak Itam.
“Bisa jadi Mak, ada pembunuh sadis seperti dalam film-film,” jawab Maruhun.
“Alah…, terlalu banyak nonton film kau Maruhun, sekarang turun ke kampung, tabuh beduk untuk memberi tahu orang-orang kampung!” perintah Pidin pada Maruhun. Maruhun melihat Pidin sebentar, lalu ketika dilihat balik oleh Pidin, Maruhun berlari meninggalkan Mak Itam dan Pidin menuju kampung.
Tidak lama, dari kampung di kaki Bukit Barisan itu terdengar tabuh berbunyi tiga kali. Sementara menunggu orang-orang kampung datang, Mak Itam dan Pidin duduk di onggokan batu melihat ke arah jalan yang membelah Bukit Barisan. Dari jauh mereka melihat beberapa truk lalu lalang membawa kayu.
Sudah beberapa tahun ini, truk-truk milik perusahaan dari kota itu lalu lalang di kampung mereka, membawa kayu-kayu sebesar tubuh manusia bahkan lebih, dari Bukit Barisan. Kabarnya, kayu-kayu dari Bukit Barisan itu bernilai milyaran rupiah. Tapi mereka orang-orang kampung, mereka hanya mendengar cerita-cerita saja. Uang yang banyak itu tentu milik perusahaan pengolah kayu.
“Sudah Mak Itam lihat siapa orang malang ini?” tanya Pidin tiba-tiba pada Mak Itam yang terdiam beberapa saat.
“Belum, saya belum berani mendekat,” jawab Mak Itam. Pidin beranjak dari duduknya menuju tubuh bergelimang darah tersebut, ia seperti akan mendekatinya.
“Jangan Pidin!” cegah Mak Itam.
“Nanti kau yang dituduh membunuhnya,” lanjut Mak Itam yang membuat langkah Pidin tertahan. Ia melihat Mak Itam.
“Kan ada Mak Itam saksinya,” ucap Pidin.
“Tapi…, nanti saja setelah orang-orang kampung datang,” kata Mak Itam.
“Tidak apa-apa Mak, ayo…!” ajak Pidin.
Mak Itam karena memang penasaran akhirnya mengikuti Pidin. Mereka semakin mendekat melihat siapa gerangan yang naas mati berdarah itu. Ketika mereka dekati pun, mereka sudah tidak bisa mengenali wajah mayat itu. Wajah itu penuh luka seperti bekas dicakar binatang buas. Tapi dari bentuk tubuh, rambut dan pakaian yang melekat di tubuh mayat itu mereka menduga-duga satu nama.
“Martani?” tanyak Pidin melihat Mak Itam.
Mak Itam terdiam. Ingatannya dibawa pada seorang mandor perusahaan yang mengambil kayu di Bukit Barisan. Martani, ya Martani, lelaki yang sudah beberapa tahun menjadi warga kampung mereka itu berasal dari Jawa. Ia ditugaskan jadi mandor untuk pekerja-pekerja penebang pohon milik perusahaan dari kota.
Mak Itam dan Pidin tidak sempat berpikir lagi, dari arah jalan sebuah truk pengangkut kayu berhenti. Truk itu tidak membawa kayu, tapi menurunkan orang-orang kampung bersama Maruhun. Mereka berlarian menuju Pidin dan Mak Itam. Menuju mayat yang bergelimang darah itu.
“Ayah…, Ayah…!” teriak seorang perempuan, yang tiba-tiba saja menyeruak dari orang-orang yang turun dari truk.
Ketika perempuan itu ingin mendekati mayat bergelimang darah itu, Mak Itam menahan tangannya. Perempuan itu meronta-ronta seperti orang gila. Mak Itam dan beberapa orang lain menenangkan istri Martani. Setelah tidak berhasil melepaskan dirinya, istri Martani jatuh pingsan. Orang-orang dengan cepat membawa tubuh istri Martani ke atas truk.
Tidak beberapa lama kemudian polisi datang dengan mobil ambulan. Daerah itu segera diamankan untuk penyelidikan. Polisi membawa mayat Martani setelah melakukan beberapa prosedur penanganan korban. Orang-orang perlahan bubar. Mereka kembali kepada aktivitas masing-masing, walau masih meninggalkan pertanyaan dalam kepala. Apa penyebab kematian Martani?
*****
Di warung kopi Mak Sutan di Simpang Tiga, Mak Itam tertegun sendirian. Di atas meja di hadapannya, segelas kopi belum disentuhnya. Di belakang, Mak Sutan pemilik warung sedang mengupas pisang untuk digoreng. Mak Itam masih termenung. Matanya menerawang jauh, melihat pada masa lalu.
“Jangan diganggu, nanti pohonnya menangis!” begitu kata Bapaknya puluhan tahun lalu.
Ya, puluhan tahun lalu Mak Itam yang masih kanak-kanak sering dibawa Bapaknya ke hutan untuk mencari kayu bakar atau mengambil buluh bambu.
“Kenapa pohon bisa menangis Pak?” tanya Mak Itam lugu.
“Iya, kalau dia kamu lukai seperti itu, pohon akan menangis,” jawab Bapaknya. Mak Itam melihat getah putih yang keluar dari anak sebatang pohon yang disayatnya. Tapi ia segera berpikir bukankah Bapaknya menebang induk pohon itu.
“Tapi Bapak menebang induknya?” Mak Itam kecil kala itu terus bertanya. Bapaknya tersenyum melihat ke arahnya. Mak Itam tak pernah melupakan tatapan Sang Bapak itu, karena pesannya masih ia ingat sampai sekarang.
“Pohon-pohon ini tidak sama dengan kita manusia, dia bisa marah, bersedih, atau gembira. Dia akan menangis kalau dilukai bukan untuk apa-apa, ia akan sangat bersedih jika ditebang untuk keserakahan manusia, kalau digunakan untuk kepentingan manusia, dia akan bahagia, ia juga akan sangat gembira jika daunnya yang rindang bisa menjadi rumah untuk Inyiak dan binatang lainnya” kata Bapak Mak Itam. Kemudian mereka sama-sama duduk sambil menghabiskan bekal mereka.
Pidin datang ke warung kopi Mak Sutan. Kedatangan Pidin itu mengakhiri lamunan Mak Itam. Tak beberapa lama kemudian Maruhun juga datang. Tanpa diminta, Mak Sutan mengantarkan dua gelas kopi untuk Pidin dan Maruhun.
“Apa yang terjadi sebenarnya Mak?” tanya Pidin membuka pembicaraan pada Mak Itam.
“Inyiak sudah murka,” ujar Mak Itam menimpali pembicaraan Pidin yang baru datang. Walau belum ada pengumuman resmi dari kepolisian penyebab kematian Martani, tapi orang-orang sudah mulai berspekulasi. Mereka sudah menduga bahwa kematian Martani bukan karena dibunuh orang, akan tetapi bisa jadi Martani dikoyak-koyak Harimau Sumatera.
“Mungkin juga dibunuh orang Mak,” ucap Maruhun sambil mengambil goreng pisang hangat di atas meja.
“Tidak ada sejarahnya ada pembunuhan di kampung kita ini, kecuali zaman PRRI dulu,” sanggah Pidin yang duduk sambil bertopang kaki di dekat Mak Itam.
“Kampung kita ini aman, tidak seperti hayalan kamu itu Maruhun…,” lanjut Pidin lagi.
“Iya tidak mungkin, ini seperti dimangsa binatang buas,” timpal Mak Itam sambil meminum kopinya.
Mereka terdiam. Bahkan Mak Sutan yang sedang menggoreng pisang pun ikut terdiam. Pendapat Mak Itam itu adalah hal yang paling masuk akal, tapi mereka tidak mau menerima jika apa yang dipikirkan Mak Itam itu benar-benar terjadi. Jika memang seperti dugaan Mak Itam, petaka itu bukan hanya untuk Martani Si Mandor penebang pohon di Bukit Barisan, tapi akan ada korban-korban selanjutnya yang mereka belum tahu entah siapa. Mungkin juga mereka semua. Ketika suasana hening di warung kopi Mak Sutan, tiba-tiba saja mereka mendengar suara tabuh berbunyi kembali. Kali ini tidak ditabuh tiga kali-tiga kali.
“Ada apa lagi?” tanya Maruhun sambil menghabiskan kopinya. Ia berjalan ke luar warung melihat Amar tergopoh-gopoh berlari diseret anjingnya.
“Ada apa Mar?” tanya Maruhun ingin tahu.
“Ada Kijang turun minum…!” teriak Amar terus berlari sambil memegangi rantai anjing peliharaannya yang berlari mendahuluinya.
Maruhun ikut berlari di belakang Amar. Beberapa laki-laki muda juga berlari ke arah kaki bukit yang melingkar di kampung mereka. Beberapa waktu kemudian terdengar hiruk pikuk suara pemburu. Suara anjing menyalak ganti berganti dengan suara teriakan pemiliknya.
Di warung kopi Mak Sutan, Mak Itam semakin tertunduk. Wajah tuanya yang sudah dimakan usia semakin berkerut. Pidin yang masih duduk di warung kopi itu ikut terdiam seperti merasakan apa yang dirasakan Mak Itam. Mak Sutan yang sudah selesai menggoreng pisang, ikut duduk di dekat Mak Sutan dan Pidin.
Di luar panas terik, dari jalanan yang berdebu itu melintas mobil-mobil proyek. Selain truk pengangkat kayu, beberapa tahun belakangan ini mobil-mobil proyek memang lalu lalang di kampung mereka. Mobil-mobil itu milik perusahaan yang mengerjakan proyek pembuatan perumahan di sebelah kampung.
“Inilah sumber petaka kita,” ucap Mak Sutan perih. Lelaki yang sebaya dengan Mak Itam itu seperti menyuarakan suara Mak Itam yang tak sempat dia ucapkan. Pidin pun paham. Tapi dia tidak mau bersuara. Dia paham apa artinya kecemasan Mak Itam, dia paham apa yang dikhawatirkan Mak Sutan.
“Sekarang musim panas, persediaan air semakin berkurang, di rimba, binatang-binatang susah mencari makan, jadi mereka turun ke kaki bukit untuk mencari sumber air,” ucap Mak Sutan.
“Iya…, dulu kita berburu Kijang di hutan, tidak pernah ada Kijang turun ke kaki bukit seperti sekarang, tapi karena rumah mereka sudah ditebangi, mereka terpaksa turun ke kaki bukit walau nyawa mereka taruhannya,” ucap Mak Itam.
“Apalagi kematian Martani beberapa waktu lalu, ia pasti dikoyak-koyak Inyiak yang terpaksa turun ke kaki bukit, karena di hutan makanannya sudah hilang,” timpal Mak Sutan semakin membuat pikiran Pidin tak menentu.
Pidin menghabiskan kopi yang tinggal setengah gelas. Kemudian melihat ke arah jalan yang berdebu, ia menarik nafas panjang.
“Masih ada cara untuk menghentikan petaka ini Mak?” tanya Pidin pada dua lelaki yang merupakan tetua kampung mereka.
“Entahlah…,” jawab Mak Itam singkat. Bisnis penebangan pohon di hutan mereka pada satu sisi memang tidak dapat mereka larang. Apa daya orang-orang kampung itu. Mereka kalah berhadapan dengan pengusaha-pengusaha yang katanya sudah mendapat izin untuk mengolah hutan menjadi hutan industri.
Mereka tidak bisa menolak kemajuan. Kampung yang sudah ramai itu pun semakin ramai. Selain pekerja-pekerja penebang pohon, tentu orang lain juga akan datang ke kampung itu. Ada yang datang untuk berjualan sayuran, jualan bakso, jualan pakaian dan lain sebagainya. Lama kelamaan pengusaha lain menangkap peluang baru, tanah yang semula sawah-sawah di ujung kampung mereka sulap menjadi komplek perumahan sederhana bersubsidi.
Mak Itam masih terdiam. Suaranya tercekat ketika akan mengatakan hal yang pahit yang sejak beberapa waktu lalu sudah terbayang dalam pikirannya. Sekarang musim kemarau, petaka yang datang mungkin sebatas untuk diri Martani. Tapi ketika musim berganti, Mak Itam membayangkan petaka yang lebih besar menghampiri. Ia tak sanggup membayangkan bagaimana kampung yang sudah turun temurun mereka diami ini akan hancur digulung banjir bandang.
“Inyiak murka, mungkin hanya Martani yang jadi korbannya, tapi bagaimana jika hutan yang murka?” tanya Mak Itam menyentakkan Pidin.
Tiga laki-laki itu akhirnya terdiam dalam pikiran masing-masing. Mak Sutan sudah tidak berselera untuk makan ketan dan goreng pisang buatannya. Mak Itam sudah sejak dari tadi tak menghirup kopi di gelasnya yang sudah dingin. Pidin masih bergelut dengan pikirannya sendiri, mencari cara untuk menghentikan petaka.(*)
Jakarta, 17 Desember 2019 s.d. 27 Mei 2020
Biodata:
Azwar Sutan Malaka lahir di Bukittinggi, 9 Agustus. Beberapa buku yang sudah diterbitkannya di antaranya adalah Novel Cinta Seribu Nyawa (Kekata Publisher, 2017), Novel Cindaku (Kaki Langit Kencana, 2015), Kumpulan Cerpen Jejak Luka (Nusantara Inst, 2014), Novel Mahaluka: Hidup Adalah Perjuangan (Bening Divapress, 2012). Novel Bunian: Musnahnya Sebuah Peradaban (Masmedia Pustaka Buana, 2009).

Tinggalkan Balasan