
KISARAN, Scientia – Wakil Bupati Asahan Taufik Siregar menyebut, untuk mendukung terintegrasinya pelaksanaan intervensi penurunan stunting di Kabupaten Asahan, terdapat 8 aksi.
Menurutnya, 8 aksi itu yakni dimulai dalam integrasi yakni dimulai dari analisa situasi program penurunan stanting, penyusunan rencana kegiatan, rembuk stunting, pembinaan kader pembangunan manusia dan pengelolaan sistem manajemen data pengukuran dan publikasi stunting.
Taufik juga menyampaikan bahwa, prevalensi stunting selama 10 tahun terakhir menunjukkan tidak adanya perubahan yang signifikan dan ini menunjukkan masalah stunting perlu ditangani segera.
Hasil riset kesehatan dasar riskesdas 2018 menunjukkan 30,8% atau sekitar 7 juta balita menderita stunting dengan latar belakang yang beragam dari masalah anemia pada ibu hamil 48,9% , berat bayi lahir rendah BBLR 6,2% balita kurus atau wasting 10,2% dan anemia pada balita.
Jadi dengan adanya kegiatan pengukuran dan publikasi stunting ini kita dapat mengetahui status gizi anak sesuai umur dan mengukur prevalensi stunting di tingkat desa secara berkala.
“Mari kita tetap bangun sinergi dan terus proaktif mencegah stunting di Kabupaten Asahan demi mewujudkan masyarakat Asahan Sejahtera yang religius dan berkarakter”, ungkap Wakil Bupati Asahan dalam pidatonya pada kegiatan Pengukuran dan Publikasi Stunting di Aula Hotel Antariksa Kisaran, kemarin.
Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Asahan Nanang dalam laporannya menyampaikan angka prevalensi stunting Kabupaten Asahan terus menurun hingga Tahun 2022.
Ini disebabkan karena seluruh pihak terus melakukan pendampingan dan pemantauan kepada balita yang memiliki gizi buruk.
“Kita akan terus berusaha menurunkan angka stunting yang ada di Kabupaten Asahan, sehingga Kabupaten Asahan terbebas dari stunting,” tutup Nanang. (Hans)

Tinggalkan Balasan