Bersama Bank Nagari, Usaha Rumahan Tembus ke Luar Negeri

Staf Devisi Sekretaris Perusahaan Bank Nagari, Farni Haryanti bersama rekannya, foto bersama pemilik Ayesha Collection, Fitra Lusia pada Senin (27/3). (Foto: Wahyu Saputra)

Padang, Scientia– Mentari mulai redup, pada Minggu (26/3). Sekira pukul 16.20 WIB petang itu, orang-orang tengah hilir-mudik mencari atau menjajakan pabukoan.

Tapi berbeda dengan seorang pemilik Rumah Kain dan Batik Tanah Liek di samping Musalla Nurul Yaqin Padang. Tepatnya, di Jalan Andam Dewi Nomor 8 Kelurahan Marapalam, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Sumatera Barat.

Fitra Lusia namanya. Meski tak lagi muda, dia masih ikut memilah batik pesanan mitranya. Sebab, ia itu tak ingin pelanggannya kecewa dengan produk Ayesha Collection yang telah dibangunnya sejak tahun 2002 lalu.

“Ya, kebetulan ada beberapa mitra yang order pakaian seragam dan suvenir,” kata Fitra didampingi dua orang karyawannya, kepada Scientia di Padang.

Perempuan kelahiran 1966 di Bukittinggi itu, menceritakan kisah jatuh-bangun saat awal-awal Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)-nya dirintis. Terlebih lagi, dia tak memiliki riwayat dari keluarga pengusaha.

Dia menuturkan, sejak menikah tahun 1989 dengan seorang Dokter Kandungan RS Siti Rahmah Padang, dr. Rismen Dedi, S.PoG (almarhum), dia tak diizinkan kerja di luar rumah. Lalu timbul keinginan punya usaha yang bisa dikelola di rumah.

Dengan modal suka menjahit di masa gadis, lulusan Ilmu Farmasi ini akhirnya memberanikan diri untuk memulai dari usaha jahit rumahan. Kemudian memasarkannya melalui kenalan dari ‘mulut ke mulut’.

“Satu bulan menjahit sendiri secara otodidak. Bulan kedua cari tenaga kerja, karena yang meng-order makin banyak,” ungkap anak pertama dari lima bersaudara ini.

Lalu, untuk mengembangkan usahanya, tahun 2009 Fitra mulai merambah dunia batik. Dia bahkan sempat belajar membatik dengan ahli langsung ke Balai Batik Nasional di Yogyakarta.

Usai belajar dari julukan Kota Pahlawan itu, Fitra terus optimis mengembangkan usaha Rumah Kain dan Batik Tanah Liek. Beragam produk telah dihasilkan, seperti bahan kain batik tulis, sutra, tenun, hingga songket.

Tak hanya itu, usaha bernama Ayesha Collection bercirikan khas Minang ini juga memproduksi beragam sovenir perpaduan batik,  yakni sal, deta, sandal, sepatu, tas, kipas, bahkan sajadah.

“Produk unggulan kita batik tulis, harganya paling rendah Rp2,2 juta, maksimalnya ada yang sampai Rp5 juta. Sebab produk kita handmade asli,” ujarnya.

Pemilik usaha Ayesha Collection, Fitra Lusia saat menunjukkan koleksi Batik Tulis. (Wahyu Saputra)

Ia menyebut, pembeli tak perlu khawatir soal harga, sebab pihaknya masih menyediakan produk seharga Rp250 ribuan dengan kualitas terbaik. Bahkan untuk harga suvenir hanya berkisar Rp15 ribu hingga Rp35 ribuan.

Atas kegigihan dan semangat kolaborasinya, kini Fitra berhasil menjual produknya ke luar negeri, baik Malaysia, Brunei Darusslam, hingga Qatar. Tak tanggung-tanggung, dia bahkan meraup untung Rp100 juta per bulannya.

Tak hanya itu, dia bahkan berhasil meraih penghargaan Siddhakarya dari Gubernur Sumbar 2018. Lalu penghargaan dalam kegiatan Rekor Muri membatik Kodim 0312/Padang tahun 2018, serta meraih Anugerah Paramakarya dari Presiden RI tahun 2019.

“Usaha kita ini sekaligus mengenalkan khas Minang ke orang luar Sumbar hingga luar negeri. Alhamdulillah, tiga orang anak, dua laki-laki, dan satu perempuan sudah sukses ‘jadi orang’ semua,” imbuhnya.

Tekad Tumbuh Bersama
Kendati Rumah Kain dan Batik Tanah Liek-nya didukung oleh almarhum suami, bukan berarti usaha Fitra berjalan mulus. Banyak persoalan yang mesti dihadapinya.

Fitra mengakui, tak mudah memasarkan produk handmade-nya tersebut kala itu. Terlebih di Sumbar, masyarakat masih menganggap produk batik belum begitu diminati. Pasalnya, batik hanya dipakai untuk acara tertentu saja.

Kendati banyak kendala, dia tetap optimis produk Batik Tulis-nya bakal laku. Salah satu caranya, gencar kolaborasi dengan instansi, dinas, atau lembaga terkait. Termasuk menguat silaturahmi dengan kenalan, atau rekan semasa dia kerja.

“Susahnya menjual produk minta ampun waktu itu, benar-benar kita merangkak. Akhirnya kita ‘jemput bola’, kita promosi ke teman atau kenalan. Akhirnya banyak yang tertarik,” ungkapnya.

Selain itu, dia mengaku sangat gencar promosi melalui pameran atau bazar UMKM yang digelar pemerintah daerah atau pusat. Melalui pameran ini, produk Ayesha Collection makin dikenal luas oleh BUMN, BUMD, dan instansi pemerintahan.

Proses membatik di rumah produksi Batik Tanah Liek Ayesha Collection. (Wahyu Saputra)

Tak sampai di situ, semakin produknya dikenal, Fitra kembali terhambat dengan kekurangan atau susahnya mendapatkan tenaga kerja yang mumpuni. Apalagi, masa itu belum banyak yang bisa menjahit dan membatik.

“Kita rekrut orang yang mau kerja dari berbagai daerah. Kemudian kita ajarkan cara membatik dari awal, sesuai standar yang kita miliki,” terangnya.

Lanjutnya, Ayesha Collection kini telah memiliki sekitar 15 orang perempuan pembatik. Semuanya bekerja dari rumah masing-masing. Dengan maksud, emak-emak bisa bekerja menghasilkan uang tanpa harus keluar rumah.

“Mereka ambil bahan kain di sini, terus bawa pulang. Kalau sudah siap di-canting, diwarnai, mereka antar ke sini lagi, lalu kita bayar. Semuanya kekuatan kolaborasi, saling menguntungkan,” tuturnya.

Bertumbuhnya usaha Ayesha Collection ini dirasakan Gusrianto (27) yang mulai bergabung sejak tiga tahun lalu. Apalagi, pesanan produk batik selalu ada setiap harinya, sehingga penghasilan terus mengalir setiap bulannya.

“Setiap hari ada yang order. Jadi kita kerja terus. Pendapatan kita bisa di atas UMR,” kata Rian saat ditemui di rumah produksi batik yang tak jauh dari Rumah Galeri Ayesha Collection.

Pria yang asal Nagari Surian, Kabupaten Solok itu juga menyebut, setiap hari pihaknya bahkan bisa memproduksi sekitar 20 helai kain batik. Jika ditotalkan per bulan bisa mencapai ratusan helai kain batik dengan beragam motif.

Pengusaha Ayesha Collection menunjukkan QRIS Bank Nagari. (Wahyu Saputra)

Kolaborasi Bikin Lega
Bak kata pepatah; tak ada gading yang tak retak. Air pasang pasti ada waktu surutnya. Begitu pula dengan dunia usaha, terlebih lagi UMKM yang baru tumbuh merangkak.

Diakui Fitra Lusia, Ayesha Collection yang dibangunnya sejak 21 tahun lalu pernah mengalami masa-masa sulit. Dengan kekuatan kolaborasi berbagai pihak, terutama dengan Bank Nagari, usahanya bisa bangkit dan tumbuh kembali.

“Karena ada saat itu, kita masa-masa sulit, untung dibantu Bank Nagari. Kita diberi hingga Rp500 juta dalam bentuk kredit. Bisa kita pakai kapanpun. Jadinya lega,” ungkap Fitra.

Lusia juga menyebut, pihaknya sudah bermitra dengan Bank Nagari sejak sekitar 10 tahun lalu. Bukan hanya menabung di Bank Nagari, tapi juga menerima Kredit Usaha Rakyat (KUR), bahkan transaksi jual beli di Ayesha Collection juga melalui QRIS Bank Nagari.

Selain itu, menurutnya pihak Bank Nagari selalu membeli produk Ayesha Collection. Terutama bahan kain batik atau beragam suvenir untuk diberikan ke tamu Bank Nagari, HUT Bank Nagari, atau untuk kado pernikahan.

“Selama ini proses di Bank Nagari cukup cepat, dana KUR bisa kita pakai kapanpun. Transaksi juga sudah serba digital, selain ATM, juga melalui QRIS, tak ada lagi transaksi tunai,” tuturnya.

Pernyataan itu dibenarkan Staf Devisi Sekretaris Perusahaan Bank Nagari, Farni Haryanti, bahwa Ayesha Collection sudah lama bermitra dengan Bank Nagari. Terlebih motif produk batik yang ditawarkan bervariasi, dan dengan harga terjangkau.

“Kita bermitra mungkin sudah 10 tahun. Produknya sering kita beli untuk suvenir tamu, atau kegiatan tertentu,” sebutnya saat memilih memilih pakaian batik di Galeri Ayesha Collection, Senin (27/3) siang.

Terus Membaik
Pada usia ke-61 tahun, Bank Nagari terus konsisten berkontribusi dan berkolaborasi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi. Upaya ini bentuk komitmen memberikan pelayanan yang baik bagi masyarakat Sumbar.

“Dibuktikan dengan keberhasilan Bank Nagari membukukan laba bersih auditted sebesar Rp471,27 miliar atau bertumbuh 15,31% dari laba tahun sebelumnya,” kata Direktur Utama Bank Nagari, Muhamad Irsyad pada puncak HUT ke-61 Bank Nagari, Minggu (12/3) lalu.

Bank Nagari terus berkomitmen melayani sepenuh hati untuk tumbuh bersama. (Wahyu Saputra)

Dia menyebut pada tahun 2022, pihaknya telah menyalurkan kredit/pembiayaan program, yakni Rp1,65 triliun KUR. Terdiri dari Rp1,35 triliun KUR Konvensional, dan Rp300 miliar KUR Syariah.

Bahkan, dengan didukung digitalisasi layanan, sepanjang tahun 2022 lalu pihak Bank Nagari berhasil menyalurkan kredit/pembiayaan sebesar Rp22,47 triliun atau tumbuh 7,15 persen year on year (yoy).

Kemudian, ekspansi kredit/pembiayaan Bank Nagari ini juga disokong oleh pertumbuhan Dana Pihak Ketiga yang mencapai Rp 24,56 triliun atau meningkat 6,78 persen year on year (yoy).

“Jadi pertumbuhan aset Bank Nagari selama tahun 2022 kian berkembang, yakni mencapai Rp30,10 triliun atau meningkat 7,56 persen year on year,” ungkapnya.

Irsyad juga menginformasikan, tahun 2023 ini Bank Nagari bahkan mendapatkan kepercayaan alokasi plafon KUR dari Komite Kebijakan KUR Kementerian Perekonomian RI sebesar Rp 2,5 Triliun.

Menurutnya, kepercayaan besar itu, tak terlepas dari keberhasilan Bank Nagari dalam penyaluran KUR pada tahun-tahun sebelumnya. Apalagi, mampu menjaga kualitas KUR agar senantiasa sehat, atau persentase kegagalan debitur KUR relatif kecil.

“Tentu kebijakan KUR yang ditetapkan pemerintah 2023 ini, untuk mendorong pelaku usaha, atau UMKM agar bisa naik kelas,” jelasnya.

Pernyataan itu juga ditambah Direktur Kredit & Syariah, Gusti Candra, bahwa Bank Nagari akan senantiasa memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat dan pelaku usaha yang membutuhkan KUR.

“Semangat KUR tetap kita pertahankan yaitu “Murah, Mudah dan Cepat”. Kriteria dan dokumen persyaratannya sangat mudah, yang penting jaga kualitas diri,” tambahnya.

Berdasarkan informasi dari laman www.banknagari.co.id, optimalisasi kinerja Bank Nagari juga ditunjukkan dengan rasio keuangan yang terus membaik dari tahun sebelumnya. Rinciannya, rasio Non Performing Loan (NPL) 2,21% lebih baik dari tahun sebelumnya 2,49%.

Lalu, rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 21,11%, Return On Asset (ROA) di angka 1,93 % atau meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 1,90%, Return On Equity (ROE) 14,20 % meningkat dari tahun sebelumnya 13,37 %.

Kemudian, Net Interest Margin (NIM) di angka 7,09% atau lebih meningkat dari tahun sebelumnya 6,57%. Rasio BOPO di angka 81,46% lebih efisien dari tahun sebelumnya 81,93%, serta Loan To Deposit Ratio (LDR) di angka 91,50%.

Kabar gembira ini disambut baik Gubernur Sumbar, Mahyeldi, atas keberhasilan Bank Nagari selama ini. Apalagi, dia menilai memang Bank Pembangunan Daerah (BPD) kebanggaan masyarakat Sumbar ini harus banyak berkolaborasi agar terus bertumbuh.

“Ya memang harus berkolaborasi, apalagi dengan pengusaha. Bank Nagari harus mempermudah memberikan pinjaman, terutama ke pelaku UMKM, agar bisa ekonomi masyarakat juga meningkat,” imbuhnya.

Hal ini sebut Mahyeldi, sangat sejalan dengan salah satu program unggulan Pemprov Sumbar untuk menciptakan 1000 pelaku usaha. Apalagi bila modal usaha dipermudah, bakal mampu menjadikan UMKM naik kelas untuk kemajuan Sumbar ke depan. (Wahyu Saputra)

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *