Untuk Kang Mas

Cerpen : Lulu Fahkrunisa

 Ramadan selalu membawa berkah tersendiri untukku.

Terang saja, apa yang tidak kudapati di bulan lain, selalu kudapati di saat Ramadan. Aku percaya jika seorang hamba terus berupaya menambah keimanan dan kepercayaannya kepada Allah maka Allah takkan pernah mengembalikan doa-doa yang dipanjatkan dengan hampa.

Malam-malam seringku habiskan untuk berdoa dan meminta kepada Sang Pencipta agar secepatnya mempertemukanku dengan seseorang yang bisa mengimamiku, membimbingku ke jalan yang lebih baik, menerima semua kelebihan, bahkan kekuranganku. Kekurangan yang sangat berlebih jika dibandingkan dengan kelebihanku sendiri. Tentunya, itu bisa meredakan egoku yang sangat tinggi sebagai seorang wanita.

Jujur saja. Selama, ini aku cukup menahan diri untuk tidak berdekatan dengan lawan jenis. Setiap ada yang berusaha mendekat, kutolak secara halus dan terang-terangan. Bukan karena takut atau tidak percaya diri, tapi itu semua kulakukan agar nantinya hati ini tidak begitu sakit saat kenyataan tidak sesuai dengan apa yang aku inginkan. Hingga akhirnya usiaku menginjak dua puluh lima tahun, kuberanikan diri untuk bersungguh-sungguh meminta kepada Sang Pencipta agar cepat dipertemukan dengannya. Si pemilik tulang rusuk ini.

Seingatku, baru tahun ini aku berdoa kepada Allah agar diberikan petunjuk dan ketetapan hati jika ada lawan jenis yang mencoba untuk mendekat. Tentu saja aku memohon agar sayapku dipatahkan sepatah-patahnya jika aku berlabuh kepada orang yang salah. Tidak perlu menunggu waktu begitu lama. Aku merasa Allah memberikan jawaban dari doa yang kupanjatkan di malam-malam tenang. Tiba-tiba, tiga orang laki-laki datang sekaligus kepadaku. Tentunya mencoba untuk mendekat. Aku pun tak tau apa yang mereka lihat dan mereka cari dariku. Aku hanyalah seorang perempuan biasa yang lebih suka menghabiskan waktu di rumah bersama tumpukan buku-buku tua ketimbang pergi berhura-hura bersama teman sejawat, tapi tenang. Aku bukan seorang yang antisosial. Aku hanya membatasi kapan saatnya harus keluar dan kapan saatnya aku harus bermesraan dengan buku-bukuku yang menunggu untuk dijamah.

Mereka datang hampir di waktu yang bersamaan. Tentunya berhasil mengaduk-ngaduk emosi jiwaku. Satu di antara mereka, bahkan aku tak tahu siapa dia dan bagaimana rupanya. Kang Mas, seorang laki-laki keturunan Medan yang menetap di Aceh dan bekerja di ibukota.

Aku pun tak tahu bagaimana pastinya perkenalanku dengan Kang Mas. Yang aku tahu, tiba-tiba ada seorang pria yang telah mengikuti salah satu akun media sosialku dan menyukai beberapa unggahanku di sana. Suatu malam di awal Ramadhan, aku mencoba untuk berseluncur di dunia maya. Sekadar mencari sedikit hiburan. Saat itu, kudapati suatu pemberitahuan mengenai siapa saja yang menyukai unggahanku. Namun, ada satu nama yang bahkan aku tak begitu familiar. Begitu asing dan aku pun tak ingat kapan pernah mengikutinya. Iya benar, dia adalah Kang Mas. Rasa penasaranku mulai timbul, mengenai siapa dia. Namun sayang, saat itu hanya sedikit informasi yang kuketahui tentangnya. Setelah puas melihat-lihat, aku putuskan untuk menyukai semua unggahannya. Bukan karena ada maksud terselubung namun itu murni kulakukan hanya untuk membalas kebaikannya karena telah menyukai beberapa unggahanku.

Akhirnya, pada malam ke dua belas Ramadan, aku mendapatkan satu pesan darinya. Pesan yang membuatku cukup kaget tentunya. Pesannya benar-benar singkat. Hanya “Assalamualaikum”. Dalam benakku, mungkin ia hanya ingin menyapa atau menambah relasi pertemanan. Benar saja, hari itu menjadi awal ceritaku dengan Kang Mas.

Aku merasa ada sesuatu yang berbeda darinya. Biasanya seseorang yang belum begitu mengenal satu sama lain akan berbasa-basi busuk agar bisa menjadi dekat, tapi tidak dengan Kang Mas. Ia begitu lugas, to the point, dan begitu blak blak’an seperti tidak ada hal yang ia sembunyikan. Bahkan, terkadang aku merasa bahwa dia adalah laki-laki yang mempunyai tingkat percaya diri yang sangat berlebih. Tentu saja aku mengetahui bahwa itu adalah wujud bagaimana ia benar-benar mencintai dirinya dan mensyukuri apa yang telah diberikan Allah kepadanya.

Di awal perkenalan, kami hanya membicarakan caranya agar dapat memberikan kontribusi yang berharga bagi bangsa. Ide-ide terus keluar dari Kang Mas. Terkadang, ide itu membuatku merasa bahwa kami sedang berbicara bertatap muka. Tentunya dengan secangkir kopi hangat untuk Kang Mas dan semangkuk es cream manis untukku.

Malam-malam di bulan Ramadan menjadi bertambah manis dengan kehadiran Kang Mas. Obrolan-obrolan hangat yang terus dilontarkannya membuatku menjadi sedikit nyaman dengan keadaan ini. Bahkan, ia tak enggan untuk memberi tahukan apa cita-cita dan tujuan hidupnya untuk ke depan. Di sana, aku mengetahui bahwa ia adalah laki-laki yang sangat berprinsip.

Namun suatu hari, obrolan-obrolan yang bersifat universal itu sedikit demi sedikit berubah menjadi suatu yang lebih pribadi. Entah dari ku atau dia. Kami mulai menanyakan mengenai kehidupan pribadi satu sama lain. Kang Mas bertanya mengenai pendidikanku. Jujur saja, aku tak begitu nyaman ketika ada lawan jenis yang bertanya mengenai pendidikanku.

Disisi lain, aku bangga dengan apa yang sudah kuraih hingga detik ini. Namun di sisi yang berbeda, aku takut ketika lawan jenisku mengetahui latar belakang pendidikanku. Sebenarnya alasannya cukup sederhana. Aku hanya takut jika mereka menggunakan pendidikan sebagai alasan untuk tidak lagi menetap. Akhirnya, Kang Mas mengetahui jenjang pendidikanku. Saat itu, aku berdoa dalam hati “Ya Allah, jika dia laki-laki baik maka dia takkan takut denganku”.  Benar saja, jawaban Kang Mas membuatku tak bisa berkata apa-apa.

“Pendidikanmu apa Dek? SMA? Sarjana? Magister? atau Doktor?”

“Magister Bang. Apa Abang takut dengan perempuan yang sudah Magister?”

“Lah ngapain aku takut Dek. Toh, kita masih sama-sama makan nasi. Malah perempuan itu pendidikannya memang harus tinggikan. Kenapa? karena dia yang akan menjadi madrasah untuk anak-anaknya nanti. Macam-macam pula kau ini Dek. Jangan banyak kali ceritamu.”

“Iya. Soalnya, kata orang, laki-laki bakalan takut kalau perempuan pendidikannya terlalu tinggi. Makanya gitu Bang.”

Dari sana, rasa kagumku mulai bertambah kepadanya. Malam-malam, kami lewati dengan mengobrol, berbagi, bercerita bahkan menasihati dan menguatkan satu sama lain. Rasa nyaman itu kian menguat dan mulai menepis hati satu sama lain. Satu yang membuatku benar-benar kagum padanya. Selama berinteraksi dengannya, dia tidak pernah sedikitpun bertanya bagaimana wajahku dan bentukku. Bahkan, tidak ada sedikit pun potret diri yang bisa ia temui di media sosialku.

“Kenapa Abang tidak pernah bertanya mengenai wajahku atau mungkin minta  kirimkan foto? Apa Abang ndak penasaran dengan siapa Abang sedang bicara? Entah ia masih punya hidung, entah pula tidak kan. Apa Abang tidak takut kalau-kalau rupanya sedang berinteraksi dengan perempuan jadi-jadian?”

“Ah itu gampanglah. Perioritasku sekarang bukan bagaimana bentuk wajahmu atau rupamu. Aku sudah nyaman. Kalau sudah begitu bisa apa? Nanti kalau aku penasaran, aku bakalan tanya langsung sama Allah. Bereskan Dek.”

Lagi-lagi, kata-katanya membuatku terhanyut dalam hingga akhirnya aku beranikan untuk mengutarakan apa yang kurasa.

“Bang, untuk seusia kita. Hubungan bukan suatu hal yang bisa dianggap remeh. Jujur, sekarang ini bukan cuma Abang yang mencoba mendekat. Ada dua laki-laki lain yang coba mendekatiku, Bang. Ada satu hal yang inginku sampaikan kepada Abang. Aku terlanjur nyaman dengan Abang. Sebagai perempuan, munafik kalau aku tidak menaruh harap pada Abang. Jadi kalau Abang hanya berencana untuk singgah sebentar, Abang boleh pergi sekarang. Aku hanya akan menyuguhkan secangkir kopi hangat kepada orang yang ingin menetap hingga aku tua, Bang. Mungkin saja dalam jangka waktu itu, kopi yang kubuat akan terasa begitu manis atau terasa biasa saja atau bahkan terasa begitu pahit, Bang. Di sini, aku mencari orang yang akan terus setia menyeruput kopi itu dengan wajah tersenyum dan tidak pernah bosan dengan rasa yang terus berubah-ubah.”

“Dek, sekarang ini aku sudah melewati tahap untuk mempertahakanmu. Tahap yang ada sekarang adalah aku benar-benar ingin mengenalmu. Rasanya sayang jika kamu tidak kubawa pulang, Dek. Aku tahu kau paham maksudku. Tolong, doakan aku hingga waktunya tiba aku akan datang menjemputmu. Kalau saja kedua kakakmu sudah berumah tangga, mungkin aku sudah datang memintamu, tapi seperti katamu. Kau hanya bisa menikah ketika kedua kakakmu sudah berumah tangga. Sampai waktu itu tiba, aku mohon doakan aku terus bersabar dengan sikapku.”

Sampai detik ini, aku tak pernah tahu skenario apa yang Allah rencanakan untukku. Yang aku tahu, saat ini Allah seperti memberi keyakinan penuh pada dirinya, memberi rasa nyaman padanya, dan semoga saja aku tidak terbang mengepakkan sayapku ke arah yang salah. Kang Mas, jika kau di sana, ini ada sebait kata yang kucoba rangkai untukmu.

UNTUK KANG MAS

 

Kupanggil ia Kang Mas,

Yang ntah kapan aku mulai mengenalnya

Dia yang bahkan namanya asing tak pernah terdengar sebelumnya

Pun, tak ada gambaran mengenai sosoknya

 

Tiba-tiba, dia datang

Membawa sejuta tawa dan harapan

Bahkan dia juga yang menghapus kenang

Sesekali di cobanya untuk membawaku terbang melayang

Tapi tidak untuk menjatuhkanku ke dasar jurang

 

Kang Mas juga bilang

Katanya pantang untuk bermain-main dengan hati seseorang

Sesekali ia menatap nanar, tentang kehidupan

Katanya sayang jika aku tidak di bawa pulang

 

Kadang rasa takut menyerang

Tapi kang mas membawaku tenang

Sesekali kucari cacatnya dimana, tapi tak kunjung ku dapat jawabnya terang

Tapi satu ketika, ia membuka lembaran kelam tentang silam

 Pun

Lembaran kelam bisa ku jadikan boomerang

Tapi tidak, yang kudapati hati ini semakin terjerat

begitu dalam dengan Kang Mas yang begitu tenang

 

Kang Mas

Teruslah menjadi terang

Seperti cahaya lampu pijar yang menerangi malam-malam seseorang

Tapi tenang,

Jika kau membawaku pulang, akan kuterangi kau dengan cinta yang amat dalam

 

Tentang Penulis:

Ica Fahkrunisa atau Lulu Fahkrunisa. Lahir di Kerinci, 24 Maret 1995. Ia merupakan lulusan Universitas Andalas dan Central Luzon State University; Language and Literature. Ia dapat dihubungi melalui: ica.lulufahkrunisa@gmail.com. Instagram: Ica Fahkrunisa Hardi, Twitter: Lulu Fahkrunisa.


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *