Bukittinggi, Scientia – Bukittinggi merupakan salah satu kota tujuan wisatawan di Provinsi Sumatera Barat. Boleh dikata, pelancong yang berkunjung ke Sumatera Barat baik domestik maupun manca negara, jika belum ke Bukittinggi, perjalanan wisata mereka berasa belum lengkap.
Hal tersebut tidak dipungkiri, karena kota yang berjuluk Kota pejuang, Kota Wisata, Kota Pendidikan dan Kota perdagangan memang mempunyai berbagai potensi untuk dinikmati wisatawan. Disamping itu, Bukittinggi juga punya budaya yang seolah tidak lekang oleh panas dan tidak layu oleh hujan.
“Berbagai budaya tersebut merupakan salah satu daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang. Bahkan hingga kini berbagai budaya masyarakat Kota Bukittinggi dengan penduduknya yang heterogen tetap dipertahankan,” ujar Wali Kota Bukittinggi, Erman Safar melalui Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga, Supadria kepada Scientia, Minggu (12/12/2021).
Dia mengakui, disamping banyaknya berbagai objek wisata yang memicu minat wisatawan datang ke Bukittinggi, budaya juga merupakan daya tarik sendiri bagi wisatawan. Dalam hal ini, Pemerintah Kota (Pemko) sebagai fasilitator telah menyediakan berbagai fasilitas untuk menampilkan pagelaran budaya tersebut. Misalnya saja fasilitas medan bapaneh (pentas atau panggung) menampilkan pagelaran seni budaya tradisional yang ada dalam kota itu.
Diantara panggung yang telah disediakan Pemko, kata Supadria, taman atau di pelataran Jam Gadang, Medan Bapaneh di Taman Marga Satwa Budaya Kinantan, panggung di Lapangan Kantin dan tempata lain-nya.
“Bahkan setiap pelaku seni dan budaya menyelenggarakan pagelaran, Pemko juga memfasilitasi berbagai peralatan seperti tenda, kursi dan sound sistem demi profesionalnya suguhan pagelaran,” ungkapnya.
Di sisi lain, lanjut dia, terkait pagelaran yang ditampilkan pelaku seni di Bukittinggi, setiap kelurahan juga menjadi inisiator dan kreator dalam sadar budaya serta wisata.
“Contohnya, wisatawan berkunjung ke Gantiang dan Sanjai atau ke Kelurahan Kayu Kubu. Disana akan disuguhkan atraksi kesenian tradisional yang sesuai dengan budaya di kelurahan tersebut,” terangnya.
Menurut dia, dengan adanya perbedaan atraksi seni dan budaya yang ditampilkan, tentu akan lebih menarik minat wisatawan berkunjung ke Bukittinggi.
Ia jelaskan beberapa kesenian dan budaya tradisional di Bukittinggi yang hingga kini masih dipertahankan kelestariannya ada Randai, tari gelombang, pencak silat, pasambahan, makan bajamba dan lain-lain.
“Selain seni dan budaya di atas, ada satu budaya yang kini terus dilestarikan yakni penyelenggaraan Khatam Al Quran dan digelar setiap tahun. Menariknya, penyelenggaraan Khatam Al Quran itu bukan saja ditampilkan dari sisi agama, akan tetapi ada sisi budaya yang semestinya dipertahankan,” ucap dia.
“Menarik dan luar biasanya penyelenggaraan Khatam Al Quran (biasa disebut alek nagari) di Bukittinggi, masyarakat sekitar dan anggota keluarga turut serta memeriahkan acara tersebut. Misalkan, di kelurahan tertentu sebanyak 24 orang anak-anak Khatam Al Quran (Khatam Kaji) maka yang turut memeriahkan bisa berjumlah ratusan orang. Hal ini menggambarkan alek nagari tersebut merupakan perpaduan aspek pemerintahan, agama dan budaya,” sambung Supadria menjelaskan.
Ia berharap, pada dirgahayu Hari Jadi Kota (HJK) Bukittinggi ke- 237 yang diperingati setiap 22 Desember, hendaknya dapat dijadikan sebagai momentum introspeksi tersendiri bagi Pemko Bukittinggi dan masyarakat. Dimana hal-hal yang sifatnya baik terus dipertahankan, sementara jika sebaliknya, tetap berupaya bagaimana kedepan bisa lebih baik lagi.
“Intinya melalui HJK Bukittinggi yang ke-237 dan sebentar lagi akan diperingati, kita tetap berupaya melakukan yang terbaik diberbagai bidang termasuk di dalamnya bidang seni dan budaya tadi. Semua itu kita niatkan dan lakukan demi kecintaan kita terhadap Kota Bukittinggi ini,” harap Supadria.
Terpisah, Ketua DPRD Kota Bukittinggi, Beny Yusrial mengatakan, terkait HJK Bukittinggi yang sebentar lagi akan diperingati dan termasuk mengenai budaya, lembaga legislatif bersama Pemko sudah menyepakati akan membangun suatu gebang yang disebut gerbang budaya. Keberadaan atau posisi Gerbang Budaya tersebut tepatnya berada di jalan Perintis Kemerdekaan.

Kata Beny, melalui gerbang budaya itu, nantinya dibangun satu outdoor yang dapat dipergunakan masyarakat. Sehingga masyarakat punya tempat untuk melakukan berbagai kegiatan budaya di outdoor tersebut.
“Kita mencoba menggali potensi-potensi seni dan budaya yang ada di Bukittinggi ini. Salah satu budaya itu, misalnya, seperti makan bajamba. Dan kita harapkan tradisi tersebut diterima segala lapisan masyarakat Kota Bukittinggi,” harapnya.
Saat ini, lanjut Beny, pemerintah dihadapkan situasi yang sulit yakni masih adanya pandemi Covid-19. Dan kemungkinan pemerintah akan menerapkan PPKM Level 1. Hal ini, kata dia, bisa jadi akan berpengaruh terhadap masyarakat sebab segala kegiatan tentunya dibatasi.
Sementara itu, tokoh masyarakat, Asri Anwar Dt Nan Angek menilai, secara visi misi, Wali Kota Bukittinggi, Erman Safar telah mengikutsertakan para tokoh masyarakat (Ninik Mamak) dalam berbagai sektor pembangunan di kota itu, termasuk juga sektor pariwisata dan budaya.

“Sebagai mana kita ketahui, seni dan budaya di Bukittinggi, salah satu andalan pariwisata yang perlu ditingkatkan serta dilestarikan. Hal tersebut memang sesuai dengan salah satu program pemimpin kota saat ini. Hanya saja, andalan pariwisata tersebut belum terlaksana seperti kita harapkan, kemungkinan disebabkan masih adanya Covid-19,” kata Dt Nan Angek di kota itu, Minggu (12/12/2021).
Dt Nan Angek biasa disapa Inyiak ini melanjutkan, sebetulnya di Bukittinggi, berbagai seni dan budaya banyak yang bisa ditampilkan guna menambah daya tarik minat wisatawan. Ia mencontohkan tradisi budaya dalam resepsi pernikahan. Mulai dari prosesi bertunangan, akad nikah hingga penyelenggaraan baralek (pesta).
“Saat prosesi awal itu (meminang) seni anak nagari seperti randai, saluang dan tari piring sudah ditampilkan oleh si yang punya acara,” sebut dia.
Ia katakan, udaya tradisional seperti itu hendaknya tetap dipertahankan dan didukung pemerintah apa lagi pada visi misi Erman Safar-Marfendi sudah dicantumkan. Jadi, sambung Inyiak, tradisional demikian disamping dipertahankan juga bisa dibuatkan agenda atau kalender tahunan oleh SKPD terkait.
Inyiak berharap Pemko Bukittinggi didalam kebijakannya terutama terkait budaya selalu bersinergi dengan para Ninik Mamak sebab di Kerapatan Adat Nagari Kurai Bukittinggi mempergunakan filsafah Bajangang naik batanggo turun dan bulek baurek tunggang. “Sekira maksudnya, Ninik Mamak berfungsi sebagai pai tampek batanyo dan pulang tampek babarito,” terangnya
Ditambahkan Inyiak, di Kurai Bukittinggi ada 126 orang Ninik Mamak. Dimana dari ratusan Ninik Mamak tersebut, sambungnya dia, tidak keberatan atau bersedia bersinergi dengan Pemko demi pembangunan dan kemajuan kota kedepan. (aef)

Tinggalkan Balasan