BPBD Gencarkan FPRB Melalui Pelatihan Penanggulangan Bencana

BPBD Gencarkan FPRB Melalui Pelatihan Penanggulangan Bencana

BPBD Gencarkan FPRB Melalui Pelatihan Penanggulangan Bencana
Penyampaian materi oleh narasumber dari PMI Sumbar, Hidayatul Irwan.

Padang, Scientia – Menjadi daerah yang multi ancaman bencana alam, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sumatra Barat adakan pelatihan relawan penanggulangan bencana untuk masyarakat Sumbar, Selasa (25/5). Pelatihan dilaksanakan pada tanggal 19-28 Mei 2021.

Kasubid Kebencanaan BPBD Sumbar, Ilham Wahab mengatakan Sumatra Barat perlu melakukan penguatan kapasitas masyarakat dalam menanggulangi bencana. Jumlah relawan di Sumbar masih terbilang sedikit, hanya ada 4 relawan dari 1000 warga yang ada dalam satu nagari.

“Oleh karena itu, BPBD mendorong penumbuhan Forum Penanggulangan Resiko Bencana (FPRB) di wilayah Sumbar melalui pelatihan relawan penanggulangan bencana,” kata Ilham yang juga sebagai moderator dalam acara tersebut.

Ilham juga menjelaskan bahwa pelaksanaan kegiatan ini dibagi menjadi tiga angkatan dalam 3 tahap pelaksanaan. Angkatan pertama dan ketiga diikuti oleh organisasi penggiat kebencanaan yang berasal dari 6 kabupaten/ kota yang akan menjadi cikal bakal Forum PRB. Sedangkan angkatan kedua diikuti oleh 7 kabupaten/ kota yang sudah memiliki Forum PRB di daerahnya.

Narasumber dalam kegiatan tersebut, Kepala Markas PMI Sumbar, Hidayatul Irwan menyarankan kepada seluruh pengurus Forum PRB di kabupaten/ kota yang telah mengikuti pelatihan ini nantinya dapat mengimplementasikan hasil evaluasi kinerja atau restruksturisasi di daerahnya.

Hidayat juga menyampaikan, selain masyarakat dan relawan yang menjadi ujung tombak penanggulangan bencana, unsur-unsur lainnya juga penting. Unsur yang tergabung dalam pentahelix penanggulangan bencana ialah pemerintah, dunia usaha, akademisi dan media massa.

“Media massa merupakan corong bagi masyarakat dan pemerintah untuk bisa mengawasi, mengedukasi bahkan mengkritisi pelaksanaan penanggulangan bencana. Karena di setiap daerah itu bisa saja berbeda strategi dan membutuhkan kearifan lokal masing-masing,” ungkap Hidayat.(clo)

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *